Kita berhubungan dan berinteraksi secara intensif dengan sesame saudara di jalan ini. kita menemukan banyak sekali karekter dan sifat yang mereka miliki, yang tidak dimiliki oleh yang lain. interaksi itu terkadang memunculkan jarak, ketidaknyamanan, perbedaan pendapat, perselisihan, bahkan mungkin juga memunculkan ketidaksukaan hingga kebencian dan permusuhan.
Namun ketetapan kita untuk terus bersama di jalan ini, menyebabkan kita semakin toleran dan bisa memahami secara lebih bijak menyikapi sifat dan karekter sesame saudara dijalan ini. Selama tidak pada kategori yang jelas dan terang menyeleweng dari ajaran Allah dan RasulNya, dan selama yang terjadi adalah hanya perbedaan sudut pandang, perbedaan karekter dan sifat, perbedaan dalam penyampaian ungkapan, dan semacamnya, kami belajar untuk semakin menyikapinya secara adil.
Jiwa toleran, adalah salah satu pelajaran berharga yang harus kita petik dari jalan dakwah. Perhimpunan dan perkumpulan kita setiap pekan dalam waktu bertahun-tahun seharusnya menyebabkan kita mengalami berbagai situasi dimana kita berlatih bersikap. Perhatikanlah sabda Rasulullah SAW:
“ Jika ada seseorang yang mencacimu dan menghinamu dengan sesuatu yang ia ketahui ada pada dirimu, maka janganlah engkau kembali melakukan hal yang sama lantaran ada sesuatu yang engkau ketahui ada pada dirinya. Kerana dengan demikian engkau akan mendapatkan pahala. Dan ia mendapatkan dosanya. Dan janganlah engkau mencaci seseorangpun.”
[Al Hadith Shahih, Al Albani no 770]
Maka dijalan inilah, kita berulangkali menempa diri untuk bisa mengarahkan perselisihan tidak berakibat pada perpecahan. Kita belajar untuk bisa menerapkan wasiat Rasulullah SAW dalam sebuah hadith shohih:
“Dibuka pintu-pintu syurga setiap hari Senin dan Kamis. Ketika itu diampuni semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu. Kecuali orang yang diantara dirinya dan saudaranya ada perselisihan. Dikatakan kepada orang tersebut : tunda dulu kedua orang ini sampai mereka berdamai”
[HR Muslim]
Atau sabda Rasulullah SAW,
“ Tidak halal bagi seorang muslim meninggalkan saudaranya di atas tiga malam. Ketika bertemu mereka saling menghindar. Dan yang paling baik dari kedua orang itu adalah yang memulai dengan salam”
[Shahih Al-jami’ Ash Shagir, 7536]

0 ulasan:
Catat Ulasan