Motor. Sungguh tidak pernah terlintas di minda untuk mengenderai sepada beroda dua ini sepanjang hidupku. Sejak sekolah rendah (sekolah dasar) diri trauma pada yang namanya motor berikutan beberapa kejadian (insidens) yang pernah berlaku yang melibatkan penunggang motor. Termasuklah kemalangan (kecelakaan) yang pernah ku saksikan dengan mata kepalaku sendiri, guru yang sangat akrab denganku meninggal dunia (berpulang) gara-gara terlibat dalam kecelakaan sewaktu menaiki motor, termasuklah kecelakaan yang sendiri ku alami saat mengendalikan kereta (mobil) dan melangar (menabrak) penunggang motor (orang yang menaiki sepeda motor) yang akhirnya menyebabkan diri turut trauma untuk mengendalikan kereta (mobil). Juga kerana kecelakaan salah seorang teman KKN ku sewaktu kami masih belum menyelesaikan program wajib tersebut.
Kali kedua agak stabil. Mata sudah mula berani untuk dibuka. Dan begitulah seterusnya hingga diri sudah mulai terbiasa untuk menaiki kenderaan beroda dua tersebut. Hingga pernah diri menaiki motor (dibonceng) sepanjang 4 jam perjalanan merentasi 3 daerah dengan menaiki motor. Jalan yang agak curam dan berbukit benar-benar mampu meningkatkan hormone adrenaline dalam badan hingga jantung sempat berdegup agak kencang melihat mehnah dijalanan. Namun akhirnya perasaan itu hilang jua setelah teman yang memboncengku ternyata ekstra hati-hati dalam mengendalikan (menyetir) motornya hingga perasaan seronok (seru) bertandang datang.
Walau pada awalnya ummi amat berat hati untuk memberikan izin, namun berkat ayah yang sentiasa positif dan percaya pada diri, akhirnya mereka tetap mengizinkan. Iyalah, ibu mana yang tidak membimbangkan keselamatan puterinya yang jauh dari keluarga? Terdampar di negeri orang tanpa ada yang bisa dijadikan tempat bergantung. Terima kasih ayah. Terima kasih ummi. Terlalu besar jasa kalian buat anakmu ini..

0 ulasan:
Catat Ulasan