Skinpress Rss

Ahad, 9 Disember 2012

IKHTIAR DALAM KEIKHLASAN (FORMULA JIDDIYAH)

2



Ikhtiar adalah usaha seseorang dan  usaha yang benar adalah usaha yang sungguh-sungguh (jiddiyah). Usaha yang sungguh-sungguh ini ditandai dengan adanya pengorbanan (tadhiyyah). So, kalau kamu mau mengukur seberat apa sih usaha yang sudah kamu lakukan, jawabnya gampang.. sudah seberapa banyak pengorbanan yang telah kamu lakukan? Pengorbanan punya banyak jalan. Pengorbananmu bangun malam untuk shalat dan belajar, pengorbananmu untuk menahan rasa kantuk demi mengikuti pelajaran di kelas, dan banyak lagi. 
(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
 (QS.Ash-Shaff:11)
Semestinya, kesungguhan ini dilakukan dalam berbagai keadaan. Artinya kesungguhan (jiddiyah) yang dilakukan secara terus-menerus (istimrariyah), baik dalam keadaan ringan ataupun berat, keadaan lapang maupun sempit,  di kala mudah maupun susah, dikala senang maupun sedih. So, belajar bukan Cuma di waktu luang aja... anggap saja belajar ketika kondisi mu lagi MALES BANGET adalah sebagai kesungguhan dan pengorbananmu ketika kamu sedang dalam keadaan berat.
Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS.At taubah:41)
Kesungguhan (jiddiyah) yang disertai pengorbanan (tadhiyyah) apabila dilakukan secara berkesinambungan atau terus-menerus (istimrariyah) maka buahnya adalah KERJA yang PROFESIONAL (itqanul �amal) atau IKHTIAR maksimal yang bisa kamu lakukan. Ketiga elemen ini apabila dilakukan secara simultan makan akan menghasilkan suatu ENERGI besar bagi seseorang dalam berikhtiar.
Sudah berikhtiar, selanjutnya belajar untuk ikhlas...
Ciri-ciri dari orang yang memiliki keikhlasan diantaranya :

1. Hidupnya jarang sekali merasa kecewa,
Orang yang ikhlas dia tidak akan pernah berubah sikapnya seandainya disaat dia berbuat sesuatu kebaikan ada yang memujinya, atau tidak ada yang memuji/menilainya bahkan dicacipun hatinya tetap tenang, karena ia yakin bahwa amalnya bukanlah untuk mendapatkan penilaian sesama yang selalu berubah tetapi dia bulatkan seutuhnya hanya ingin mendapatkan penilaian yang sempurna dari Allah SWT.

2.Tidak tergantung / berharap pada makhluk
Sayyidina ’Ali pun pernah berkata, orang yang ikhlas itu jangankan untuk mendapatkan pujian, diberikan ucapan terima kasih pun dia sama sekali tidak akan pernah mengharapkannya, karena setiap kita beramal hakikatnya kita itu sedang berinteraksi dengan Allah, oleh karenanya harapan yang ada akan senantiasa tertuju kepada keridhaan Allah semata.

3.Tidak pernah membedakan antara amal besar dan amal kecil
Diriwayatkan bahwa Imam Ghazali pernah bermimpi, dan dalam mimpinya beliau mendapatkan kabar bahwa amalan yang besar yang pernah beliau lakukan diantaranya adalah disaat beliau melihat ada seekor lalat yang masuk kedalam tempat tintanya, lalu beliau angkat lalat tersebut dengan hati-hati lalu dibersihkannya dan sampai akhirnya lalat itupun bisa kembali terbang dengan sehat. Maka sekecil apapun sebuah amal apabila kita kerjakan dengan sempurna dan benar-benar tiada harapan yang muncul pada selain Allah, maka akan menjadi amal yang sangat besar dihadapan Allah SWT.

4. Banyak Amal Kebaikan Yang Rahasia
Mungkin ketika kita mengaji dilingkungan orang banyak maka kita akan mengaji dengan enaknya, lama dan penuh khidmat, ketika kita shalat berjamaah apalagi sebagai imam kita akan berusaha khusyu dan lama, tapi apakah hal tersebut akan kita lakukan dengan kadar yang sama disaat kita beramal sendirian ? apabila amal kita tetap sama bahkan cenderung lebih baik, lebih lama, lebih enak dan lebih khusyuk maka itu bisa diharapkan sebagai amalan yang ikhlas. Namun bila yang terjadi sebaliknya, ada kemungkinan amal kita belumlah ikhlas.

5. Tidak membedakan antara bendera, golongan, ras, atau organisasi
Fitrah manusia adalah ingin mendapatkan pengakuan dan penilaian dari keberadaannya dan segala aktivitasnya, namun pengakuan dan penilaian makhluk, baik perorangan, organisasi atau instansi tempat kerja itu relatif dan akan senantiasa berubah, banyak orang yang pernah dianggap sebagai pahlawan namun seiring waktu berjalan adakalanya berubah menjadi sosok penjahat yang patut diwaspadai. Maka tiada penilaian dan pengakuan yang paling baik dan  yang harus senantiasa  kita usahakan adalah penilaian dan pengakuan dari Allah SWT.

Begitu besar pengaruh orang yang ikhlas itu, sehingga dengan kekuatan niat ikhlasnya mampu menembus ruang dan waktu. Seperti halnya apapun yang dilakukan, diucapkan, dan diisyaratkan Rasulullah, mampu mempengaruhi kita semua walau beliau telah wafat ribuan tahun yang lalu namun kita senantiasa patuh dan taat terhadap apa yang beliau sampaikan.

Bahkan orang yang ikhlas bisa membuat iblis (syaitan) tidak bisa banyak berbuat dalam usahanya untuk menggoda orang ikhlas tersebut. Ingatlah, apapun masalah kita kita janganlah hati kita sampai pada masalah itu, cukuplah hanya ikhtiar dan pikiran saja yang sampai pada masalah tersebut, tapi hati hanya tertambat pada Allah SWt yang Maha Mengetahui akan masalah yang kita hadapi tersebut.

Semoga Allah SWT membimbing kita pada jalan-Nya sehingga kita bisa menjadi hamba-Nya yang ikhlas. Amiin. [
http://nezha.abatasa.com]


Sabtu, 8 Disember 2012

ANESTHESY POSTING

2




Minggu pertama. Ditugaskan di PACU (post-operation anesthesy care unit) atau Recovery Room. Kami dituntut untuk mempelajari bagaimana menentukan stabilitas hemodinamik pasien post-operasi sebelum mereka diizinkan untuk keluar ke perawatan.
Sebelum pasien dipindahkan ke ruangan setelah dilakukan operasi terutama yang menggunakan general anestesi, maka kita perlu melakukan penilaian terlebih dahulu untuk menentukan apakah pasien sudah dapat dipindahkan ke ruangan atau masih perlu di observasi di ruang Recovery room (RR) atau High Care Unit (HCU). berikut beberapa skor yang biasa digunakan untuk menilai kondisi pasien pasca anestesi.

A. Aldrete Score (dewasa)
Penilaian :
  1. Nilai Warna
              Merah muda,          2
              Pucat,                       1
              Sianosis,                  0
       2. Pernapasan
Dapat bernapas dalam dan batuk,                           2
               Dangkal namun pertukaran udara adekuat,           1
               Apnoea atau obstruksi,                                              0
  1. Sirkulasi
              Tekanan darah menyimpang <20 dari="dari" normal="normal" span="span" style="mso-spacerun: yes;">    
 2
              Tekanan darah menyimpang 20-50 % dari normal, 1
              Tekanan darah menyimpang >50% dari normal       0
  1. Kesadaran 
               Sadar, siaga dan orientasi,                                  2
              Bangun namun cepat kembali tertidur,            1
              Tidak berespons,                                                   0
  1. Aktivitas 
                   Seluruh ekstremitas dapat digerakkan,               2
                  Dua ekstremitas dapat digerakkan,                      1
                  Tidak bergerak                                                          0
Jika jumlahnya > 8, penderita dapat dipindahkan ke ruangan

B. Steward Score (anak-anak)
1. Pergerakan
Gerak bertujuan                  2
Gerak tak bertujuan           1
Tidak bergerak                    0
2. Pernafasan
Batuk, menangis                           2
Pertahankan jalan nafas              1
Perlu bantuan                               0
3. Kesadaran
Menangis                                                2
Bereaksi terhadap rangsangan           1
Tidak bereaksi                                        0
Jika jumlah > 5, penderita dapat dipindahkan ke ruangan.

C. Bromage Score (spinal anestesi)
Kriteria Nilai
Gerakan penuh dari tungkai,                    0
Tak mampu ekstensi tungkai,                   1
Tak mampu fleksi lutut,                             2
Tak mampu fleksi pergelangan kaki,      3
Jika Bromage Score 2 dapat pindah ke ruangan.

Minggu ini kami diberi jadual oncall sebanyak 6 kali dalam satu minggu. Sepertinya tiap hari ada jadual oncall kecuali 1 hari yang bebas oncall. Berbeda dari bagian-bagian lainnya, anestesi benar-benar menguji stamina dan pikiran. Banyak yang harus dikerjakan jika jaga. Apalagi hampir setiap kali jaga, kami tidak mendapat waktu istirehat yang cukup. Standby terus. Apalagi saat malam minggu yang pasien didorong seperti mendorong barang belian di mall untuk di operasi. Keempat-empat ruang operasi emergensi dibuka dan pasien bergilir masuk hingga pagi.

Minggu Kedua. Diri ditugaskan untuk bertugas di Ruang Operasi Central (COT) kamar Onkologi. Bersama dengan dokter-dokter yang baik hati lagi tidak sombong, diri diajar banyak hal dalam sela kesibukan mereka. Dari perbedaan penggunaan GETA hingga GA-LMA. Dari penggunaan obat induksi hingga maintainence isofluren, sevofluran dan halotan. Diri juga diajar tentang balance cairan, cara menghitung MABL (manimum tolerable blood lost), kapan saja blood lost akan digantikan dengan whole blood, packed red cell dan kapan untuk menggunakan crystalloid dan kapan digunakan colloid.

Kami dituntut untuk oncall sebanyak 4 kali dalam minggu ini dengan ruang lingkup kamar operasi emergensi (OK CITO) dan juga APS (acute pain service). Di bagian APS kami mendampingi dokter untuk berkeliling rumah sakit dan memasukkan obat pasien-pasien post-operasi diperawatan yang dipasang epidural catheter sebagai pain control. Selain itu juga, APS melayani keluhan dan rujukan tentang acute pain termasuk juga cancer pain. Disini kami diajar teori dan praktisnya mencampurkan obat pain controller dan berpeluang untuk merasakan sendiri sensasinya memasukkan obat epidural, melawan tahanan tekanan negative di epidural space.

Minggu Ketiga. Diri ditemptkan di RS Ibnu Sina disebabkan diri bakal ujian dengan salah satu supervisor yang tugas dirumah sakit ini.. dr,Syafri Arief, Sp.An. Diri diharuskan untuk mengikuti adaptasi di rumahsakit tersebut pada hari sabtu yang merupakan hari boss anestesi, dr.Syafruddin Gaus,PHD,SpAn. Hari yang menegangkan. Namun kami harus juga melaluinya. Menerima operan dari minggu sebelumnya dan belajar untuk “lebih lincah” bekerja memandangkan kami pada minggu berikutnya hanya berdua disitu berbanding 4 orang minggu sebelumnya.

Melalui minggu berikutnya, meski supersibuk dan kewalahan gara-gara terlalu banyak operasi yang dijalankan tiap harinya, tetap saja kami gembira dan menikmati hari. Setiap dari kami harus mengcover 2 ruang operasi dan membantu dokter yang hanya berdua tugas disana. Memerlukan kelincahan tingkat tinggi untuk bergerak ke sana sini apalagi jika semua ruang operasi dibuka untuk operasi. Kadang kami masing-masing dan dokter harus masing-masing mengambu ditiap ruang operasi. Juga butuh ingatan yang kuat untuk menghapal obat yang masuk, tensi dan heart rate setiap pasien kerna kami jarang punya peluang untuk mencatat sewaktu operasi berlansung. Dokter dan co-ass sama sibuk. Namun apa yang mengurangi kadar ketensionan kami adalah kerna dokter yang kami damping sangat bersahabat, seru dan sporting. dr.Ayu dan dr.Iswan. paling cepat kami pulang sewaktu stase disini adalah jam 7 malam. Itu juga sebenarnya kami tidak menunggu hingga selesai semua operasi kerna dokter-dokter yang baik hati itu tidak sanggup menyiksa kami hingga tengah malam.

Minggu tiga kami tituntut oncall sebanyak 4 kali seminggu. Tempat standby kami pula ditempatkan di ruang ICU. Intensive care unit. Namun disebabkan diri bertugas dirumah sakit luar, diri diberi kelonggaran dikurangi jaga menjadi 3. Apalagi kerna diri akan dinas 6 hari seminggu. Baca: hari sabtu tetap dinas di IBSI sedangkan di RSWS, hari kerja Cuma hingga Jumat. Menjaga pasien sepanjang malam benar-benar suatu tugas mencabar apalagi jika ada keluhan pada tengah malam. Tidak seperti di bagian Interna yang biasanya keluhan ringan, bisa kita sebagai co-ass sendiri yang tindaki. Namun di ruang ICU, biar keluhan kecil harus kita melapor pada dokter yang bertugas. Kerna setiap pasien memiliki tingkat sensitivitas mereka lebih tinggi dan mereka terhubung dengan mesin-mesin anestesi seperti ventilator dsb yang memerlukan tingkat waspada yang lebih tinggi.

Minggu Keempat.kembali ke RSWS. Diri ditugaskan dinas di ICU. Disini diri belajar tentang terapi cairan, tentang apa yang harus diperhatikan dan difollow up pada pasien-pasien yang ada disitu serta bagaimana menjalankan protap FASTHUG pada pasien yang memerlukan perawatan khusus. Disini diri berpeluang melihat sendiri pelbagai jenis tindakan anestesi dari memasang dan mengatur mesin ventilator, mengambil darah AGD, dan memasang double lumen pada pasien yang akan menjalankan hemodialisa.

Minggu 4 hanya oncall sebanyak 2 kali. Namun tetap standby di ICU. Sudah terbiasa dan agak enak juga memandangkan diri juga dinas di sana hingga diri menghapal betul semua pasien yang ada disana.

Selasa, 4 Disember 2012

ANESTHESY MODE: ON [BEGINNING OF A NEW JOURNEY]

2



Alhamdulillah akhirnya berjaya melewati satu bagian yang Alhamdulillah yah mencabar banget. Revine…
Anestesi memerlukan kami untuk melapor ke gebenur pada hari Jumat minggu sebelum masuk dan mendapatkan pengarahan tentang hal-hal yang perlu kami persiapkan sebelum terjun ke bagian anestesi. 

Antaranya:
1)Papan tulis
2) Pulpen (ballpen) 4 warna- biru, hitam, hijau, merah
3) Highlighter hijau
4) Marker (spidol) hitam, biru merah
5)Gunting
6) Plaster coklat
7) Pembaris (penggaris)
8) Status anestesi FK Unhas (bisa dibeli di Askulapius)
9)Lembar absen harian (turut bisa dibeli di Askulapius)
10) Statescope
11) Foto 3x4 dan 4x6

Semua perlengkapan ini harus dibawa serta selain alat-alat TNPS yang biasa kita bawa ke mana-mana. Setelah melapor ke gabenur koas, kami diarahkan untuk ke RSP lantai 5 untuk melapor kepada sekreteris bagian, Kak Teti untuk menandatangani komitment dengan bagian anestesi dan menerima logbook dan “pin keramat” anestesi.

Kami diwajibkan untuk mengikuti adaptasi pada hari minggu untuk melihat sekaligus belajar apa yang harus dilakukan pada hari senin saat sudah mulai dinas supaya kami agak lincah dan tidak terlalu “laload (lambat loading)”. Pada hari ini kami diberi pre-test tentang beberapa pertanyaan mendasar di anestesi. Untung, dokter yang memberikan pretest itu bermurah hati untuk memberi kami peluang “open-book”. Katanya jika kami tidak bisa mencapai 70%, kami tidak akan diterima masuk ke anestesi. Wajar. Namanya juga bagian yang paling “life-saving”. 30% kesalahan lebih dari cukup berakibat fatal pada pasien.

Setelah pre-test, dokter lansung mendiskusikan hasil pretest kami sambil mengajarkan teori-teori anestesi seperti obat-obat yang akan dan biasa digunakan, teori ventilasi, mekanisme nyeri dsb. Setelah itu kami dituntun untuk mengisi status anestesi yang bakal menjadi pekerjaan asasi kami di anesresi. Kami diharuskan untuk mampu membuat status yang baik sebagai bahan pelajaran kami sekaligus sebagai bahan juga untuk para residen dan masukan buat Rumah sakit. Wah besar benar tuntutannya ke atas “Koass Anestesi”. Setelah diskusi, kami diarahkan ke Kamar Operasi CITO (emergency) untuk melakukan penyesuaian OT (operation theater).  Di sini kami diajar apa yang harus dilakukan dari pertama pasien masuk hingga terakhir pasien keluar dari kamar operasi. Pokoknya setiap hari sepanjang 4 minggu ke depan kami akan menghabiskan hidup kami di kamar operasi.



Bermula dengan STATICS
S-statescope & laryngoscope
T-tube  (endotracheal tube etc)
A-airway (gurdel/ orotracheal tube)
T-tape untuk fiksasi
I-introducer (mandarin atau stylet sebagai guider)
C-connector (penyambung antara pipe dengan alat-alat anestesi)
S-suction (tabung, selang dan tabung suction)

Sebaik pasien masuk, co-ass bertanggungjawab menyediakan dan memasang oksigen, (cannule/NRM), memasang electrode pre-cordial, statescope precordial, tensi, infusion set, mengatur cairan, memasukkan premedikasi dan mengosongkan urine. Setelah itu menjadi kewajiban co-ass untuk mencatat semua obat-obat yang masuk, tensi, heart rate, pernafasan, dan input cairan serta output urine, perdarahan dan sebagainya. Untung-untung diberi peluang oleh dokter residen untuk melakukan intubasi dan memasukkan ETT ke dalam trachea.

Jika tugas dirumah sakit luar juga, co-ass yang bertanggungjawab untuk menyiapkan dan mencampurkan obat-obat dari premedikasi, seperti ondasentron, ketorolac, ranitidin dan dexametason, obat-obat induksi, sedasi dan analgesi seperti propofol, pethitidin, fentanyl, hinggakan obat-obat emergensi seperti atrophin sulfat, efedrin, epinefrin..


Sabtu, 1 Disember 2012

DISEMBER

2



Disember tiba…
Diiringi hujan renai yang perlahan-lahan mengguyur bumi. Suasana yang persis sama sewaktu kau memutuskan untuk pergi. Disember yang memaksaku untuk menghitung hari-hari yang tersisa. Menyiksa. Seakan menghitung mundur menuju hari kematian. Jarak antara dua angka di jam dinding seakan menyempit secara drastic. Cemburu benar akan kebersamaan. Untuk kali itu, benar-benar berharap waktu akan berhenti.. tolong berhenti saja disitu. Tidak sanggup melangkah dengan lebih jauh. Kerna langkah kita hanya akan memperbesar jarak.

Namun waktu tidak pernah mahu akur. Ia lebih memilih untuk melatih hati supaya tegar dari memanjakan diri dengan mimpi yang membuai lena hari semalam. Ia sepertinya sedang mempermainkan kita. Kenapa sekarang?? Kenapa di saat kebersamaan baru berjalan segaris? Saat semuanya berlansung baik-baik saja? Saat aku masih bersandar dibelakangmu saat mahu rebah dijalan? Bersembunyi dibelakangmu untuk menangis diam-diam.. Disaat kau kau sedang mengajarku bahwa kekuatan itu harus dibina dari dalam… Di saat kau mengatakan “ambil jeda sejenak saat kau lelah, tapi jangan lama.. bangkitlah lagi..dan kita sama-sama berjuang dijalan kita masing-masing!!”  Justeru saat begini, kau akan pergi.. tidak tahu kapan kembalinya. Kenapa tidak dari dulu? Waktu-waktu menyebalkan yang dipenuhi konfrontasi tidak jelas dan musim salju yang membekukan itu? Perpisahan ini pasti akan menoreh luka. Mendalam mungkin. Munafik untuk tidak merasa kehilanganmu dan mengatakan “aku akan baik-baik saja”..

Tapi itulah.. lagi-lagi aku yang harus akur pada takdir. Belajar tersenyum pada hakikat. Pasrah dengan permainan waktu.. kerna Tuhan sungguh mahu mensutradarai kisah ini sendiri. Tuhan yang Maha Pemurah membuktikan sifat kekuasaanNya dengan memberi kemurahan airmata yang tak reti untuk berhenti mengalir dari tubir muara. DIA harus melakukan itu!! Demi mengajar hati untuk kuat. DIA ingin mendidikku sendiri. meski lewat kamu. Membuka mata ini supaya melihat dengan lebih jelas dan positif. Toh, hujung-hujungnya, hukum jarak, perbedaan longitude dan latitude bukanlah suatu tantangan yang mustahil kita lewati. Seperti kisah kupu-kupu yang harus melalui celah yang sempit sebelum berjaya keluar dari kepompong dan melihat dunia yang indah. Aku juga. Mungkin kesakitan dan kehilangan itu perlu.. untuk menjadi kuat dan tegar..melihat dunia dari bingkai yang lebih indah…

Meski Disember tetap saja menghadirkan rasa yang sedih dan menyiksa, Disember yang mengingatkan pada airmata yang tidak ada harganya, Disember yang memaksa bahwa harus ada kata “pisah” dalam episode kehidupan yang tidak mungkin dipungkiri, Namun rasa syukur tetap melangit tinggi. Kerna Disember itu mengundang Januari, Februari dan bulan-bulan seterusnya yang digilir cahaya mentari, mendung, hujan serta pelangi yang kita lewati..

Disember memang lambang penghujung bagi sebuah tahun. Pengakhir bagi sebuah kisah. Namun menjemput tahun yang baru pula. Dengan kisah yang baru…ada pepatah mengatakan: tak bersama tak berarti renggang, jauh tak berarti terpisah..

Aku suka kata-kata yang pernah kau lakarkan:
“Aku suka senja,aku suka warna langitnya…suka keindahan  mataharinya, berharap aku bisa menjadi seperti matahari yang akan selalu terbenam, namun tak pernah lupa untuk terbit.”

Sabtu, 24 November 2012

PENGORBANAN TERINDAH

3



membaca sebuah cerpen yang keren.. hanya perlu 2 saat untuk empangan airmata pecah dan mengguyurkan airmata tanpa henti.. pengorbanan tidak butuh untuk diungkapkan setiap satunya.. ia sebaliknya menjadi sangat indah saat dirahsiakan.. dan waktu tetap saja akan mengungkapkannya dalam garis cerita tersendiri..

(kisah seorang kakak dan adik) ^^,

by Uswatul Hasanah on Friday, October 19, 2012 at 5:21pm ·
~~,Sebuah Kisah untuk kita renungkan dan jadikan motivasi...

  Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil..Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu ditangannya. "Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!"Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!"

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus-menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas.

Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, halmemalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!" Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus.Saya mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik... hasil yang begitu baik..." Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?" Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku. " Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!" Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini."

Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimimu uang." Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampaike tahun ketiga (di universitas).

Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana! "Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?" Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?" Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga!

Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu..." Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu." Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!"

Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.."Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskansedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. "Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya. "Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan..." Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku.

Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini." Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut.

Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi. Suatu hari, adikku di atas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. "Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?" Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah, "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!""Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29. Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?" Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku."

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. "Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sendoknya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya."

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku." Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

apa bisakah kita memiliki jiwa besar seperti si adik yang seperti dalam cerita, ... tapi bagaimanapun, yang namanya Saudara patut kita jaga dan kita hormati, apakah itu seorang adik atau seorang kakak. Karena apa arti hidup kalau tidak bisa membahagiakan saudara dan keluarga kita..^^, 

Rabu, 21 November 2012

CAPTAIN BARBAROSSA VS BARBAROSSA BROTHERS

2


 Anda yang gemar membaca komik Asterix dan anda yang pernah menonton film ‘Pirates of The Carribean’, tentu ingat karakter jahat ‘Barbarossa’ bukan? Sejak zaman pertengahan, aneka macam karya fiksi Eropa dan Amerika biasa menggunakan nama Barbarossa untuk menamai karakter seorang penjahat –biasanya seorang bajak laut jahat. Makna negatif Barbarossa terus dipropagandakan hingga zaman sekarang, meski di dalam setting-setting yang berbeda. Tak ada asap jika tak ada api, kebiasaan para penulis fiksi Eropa dan Amerika ini tentu ada sebabnya.

Pada abad ke-15 masehi, di Laut Mediterania ada dua bajak laut bersaudara yang disebut The Barbarossa Brothers. Kedua tokoh ini menjadi legenda dalam dunia ‘per-bajak-laut-an’ dan merupakan tokoh bahari yang sangat ditakuti orang-orang Eropa pada zamannya. Kebiasaannya ialah membajak barang-barang berharga yang diangkut oleh kapal-kapal milik kerajaan-kerajaan Eropa yang melintasi Laut Mediterania. Awak kapal yang dibajak biasanya diberi dua pilihan; mati karena melawan atau hidup dengan menyerah secara sukarela.Siapakah sebenarnya Barbarossa yang sangat ditakuti oleh orang-orang Eropa selama berabad-abad itu? Mengapa hingga zaman sekarang nama itu terus menghantui benak dan pikiran mereka?

Barbarossa bukanlah sebuah nama. Barbarossa merupakan kata dalam bahasa Latin –gabungan dari kata barber (janggut) dan rossa (merah). Jadi Barbarrossa berarti janggut merah. Barbarossa merupakan julukan yang diberikan oleh para pelaut Eropa kepada kakak-beradik Aruj dan Khairuddin dari Turki. Kedua kakak beradik ini hanyalah pelaut-pelaut biasa yang rutin berlayar di wilayah perairan Yunani dan Turki.

Awal Gerakan Barbarosa

Pada suatu hari, tanpa sebab yang jelas, kapal milik keluarga mereka diserang secara brutal oleh kapal militer Knight of Rhodes. Dalam peristiwa ini, adik bungsu Aruj dan Khairuddin tewas terbunuh. Aruj dan Khairuddin sangat terpukul dengan kematian adik bungsu mereka. Sejak saat itu, mereka melakukan aksi bajak laut kepada semua kapal-kapal militer milik kerajaan-kerajaan Kristen. Aksi-aksi mereka sangat menggemparkan dan membuat mereka ditakuti militer Kristen. Aruj dan Khairuddin pun kemudian dikenal sebagai The Barbarossa Brothers Pirates karena keduanya berjanggut merah.

Kaum Eropa menyebut Barbarossa sebagai bajak laut, meskipun tidak ada bendera hitam dan tengkorak yang menjadi simbol bajak laut. Bendera yang dipasang Aruj dan Khairuddin di kapal mereka adalah sebuah bendera berwarna hijau berisi kaligrafi doa Nashrun minallaah wa fathun qariib wa basysyiril mu’miniin, ya Muhammad, empat nama khulafaur rasyidin, pedang Zulfikar dan bintang segi enam Yahudi (Bintang David). Awak kapal yang dipimpin kedua bersaudara ini terdiri atas orang-orang Islam dari bangsa Moor, Turki, dan Spanyol, serta beberapa orang Yahudi.Pada tahun 1492 M, Andalusia yang sejak tahun 756 M dikuasai oleh Daulah Khilafah Islamiyah, jatuh ke tangan Pasukan Salib yang terdiri atas pasukan gabungan Aragon DAN Spanyol. Dalam peristiwa penaklukan Andalusia ini, jutaan orang Islam dan Yahudi tewas dibantai pasukan yang dipimpin Raja Ferdinand II dari Aragon.

PERJUANGAN JIHAD BARBAROSA
Peristiwa itu mengubah haluan misi dendam Aruj dan Khairuddin menjadi misi Jihad Islam. Bahu-membahu bersama sekelompok milisi bangsa Moor, mereka kemudian menyelamatkan puluhan ribu Umat Islam dari Spanyol ke Afrika utara (Maroko, Tunisia dan Aljazair). Kemudian mereka membangun basis pertahanan laut di Aljazair untuk menghadang gelombang serangan Pasukan Salib dari jalur Afrika Utara menuju Tanah Suci Palestina.

Khalifah Islam saat itu, Sulaiman I, mendengar cerita-cerita heroik Barbarossa bersaudara. Sulaiman I sangat kagum pada heroisme mereka. Karena prestasi mereka di lautan, akhirnya Sulaiman I mengangkat Aruj dan Khairuddin sebagai Kapudan Pasha (Panglima Angkatan Laut) Khilafah Islamiyyah untuk membenahi Angkatan Laut Daulah Khilafah Islamiyah yang amburadul.

ADU DOMBA PIHAK SEPANYOL

Pada tahun 1518 Spanyol berhasil menghasut Amir kota Tlemcen (Tilmisan) untuk melancarkan pemberontakan kepada kepemimpinan Aruj. Aruj kemudian menyerahkan pemerintahan Aljazair kepada Khairuddin untuk sementara. Lalu ia memimpin pasukan untuk berangkat ke Tlemcen. Hati Aruj sangat pilu karena ia malah berperang dengan saudara sendiri sesama Muslim. Akibatnya ia kurang berkonsentrasi dan pasukannya kocar-kacir. Aruj sempat lolos, namun banyak pasukannya yang tertangkap. Karena hubungan emosionalnya dengan anak buahnya, Aruj kembali ke Tlemcen untuk bertempur dan ia gugur dalam pertempuran tersebut.

Dengan gugurnya Aruj, kepemimpinan Angkatan Laut Daulah Khilafah Islamiyah beralih ke tangan Khairuddin. Spanyol mengira bahwa era kejayaan Barbarossa di Laut Tengah telah berakhir. Lalu, dengan percaya dirinya, Spanyol mengirim 20.000 tentaranya ke Aljazair. Pertempuran hebat pun terjadi, namun Khairuddin berhasil menghajar pasukan laut tersebut.

Sejarah dan Kehebatan Pasukan JanissaryGuna meminimalisir ancaman dari negeri sekitar Aljazair, selain ancaman utama Spanyol, Khairuddin kemudian meminta kepada Khalifah Sulaiman I agar kekuasaan Amir Tunisia dan Tlemcen dialihkan kepadanya. Sulaiman I pun setuju. Pada 1519, Khalifah mengangkat Khairuddin sebagai beylerbey (Bakhlair Baik) atau wakil Khalifah untuk wilayah Aljazair dan sekitarnya. Kemudian Khairuddin juga ditugasi memimpin pasukan pasukan elit Daulah Khilafah Islamiyah, Pasukan Janissary.

Dalam masa kepemimpinan Khairuddin, Pasukan Janissary berhasil melakukan banyak penyelamatan Umat Islam di Andalusia. Tercatat mereka melakukan 7 kali pelayaran dengan 36 buah kapal untuk mengangkut Umat Islam Spanyol yang diburu bagai hewan oleh Ferdinand II dan Pasukan Salibnya.

Pertengahan dekade 1520-an, Pasukan Darat Janissary yang dipimpin langsung Khalifah Sulaiman I berhasil memenangkan semua pertempuran darat. Pada saat bersamaan, Pasukan Laut Janissary di bawah pimpinan Khairuddin juga berhasil mengontrol lalu lintas pelayaran di Laut Tengah sepenuhnya. Kondisi ini membuat Pasukan Salib Kristen Eropa menjadi pusing tujuh keliling.

Awal Mula Minuman CapucchinoDalam suasana putus asa, pada tahun 1529 di pulau Penon, Spanyol menembakkan meriam ke menara masjid saat Adzan sedang berkumandang. Maka terjadilah peperangan hebat di Penon dan setelah 20 hari pulau tersebut berhasil dikuasai kembali oleh Khairuddin. Sementara di daratan, Sulaiman I membombardir Wina (Ibukota Austria) dengan dua kali serangan namun keduanya gagal. Pasukan Islam yang mundur dari pertempuran meninggalkan beberapa karung kopi yang kemudian mengubah aturan Paus Roma yang sebelumnya mengharamkan minuman yang biasa diminum kaum muslim itu. Kemudian mereka menyebut minuman itu sebagai dengan nama cappuccino.

Pada tahun 1535 Pasukan Salib Gabungan Spanyol dan Genoa di bawah pimpinan Charles V dan Andrea Doria (Knight of Malta) menyerang Tunisia dengan kekuatan 25.000 orang pasukan dan 500 kapal. Pertempuran pun berjalan tidak imbang hingga Tunisia pun jatuh ke tangan Spanyol. Pada tahun-tahun selanjutnya, Khairuddin Sang Barbarossa mengalami banyak kekalahan. Namun ia berhasil menduduki kepulauan Beleares dan merampas kapal-kapal Portugis dan Spanyol di selat Gibraltar.

Akhir Gemilang Barbarosa Sebelum Tutup Usia

Tahun 1538, Pasukan Salib Gabungan Italia-Spanyol menyerang Preveza yang saat itu merupakan pelabuhan penting di Laut Tengah. Andrea Doria memimpin 40 kapal dan Barbarossa hanya memimpin 20 kapal. Namun dengan kecerdikannya, Barbarossa memecah armadanya ke tiga arah dan menjebak Pasukan Andrea Doria di tengah untuk kemudian membombardir armada Andrea Doria habis-habisan. Andrea Doria dan armada lautnya pun lari dari pertempuran. Walau begitu, Khairuddin tak mengejarnya karena ia tak ingin berperang di laut lepas, mengingat kapal-kapal armada laut Spanyol mempunyai peralatan yang lebih canggih. Apalagi ia hanya memimpin 20 kapal.

Tiga tahun kemudian, Pasukan Salib Gabungan Spanyol-Genoa kembali menyerang Aljazair dengan kekuatan 200 kapal. Mereka sengaja melancarkan serangan di luar musim berlayar, untuk menghindari pertemuan dengan Pasukan Barbarossa. Rakyat Aljazair di bawah komando Hasan Agha berjuang sekuat tenaga untuk mempertahankan Aljazair. Charles V dan Andrea Doria yang memimpin serangan tak mengira bahwa pertahanan dan strategi perang Hasan Agha sangat matang, sehingga armadanya pun kacau-balau. Ketika itu pula tiba-tiba badai laut dahsyat menghantam Laut Mediterania. Andrea Doria dan Charles V berhasil selamat, dan kembali ke negerinya dengan kekalahan pahit.Tahun 1565, dalam usia senja, Khairuddin Barbarossa memimpin pasukan untuk merebut Malta dari tangan Knight of St. John. Namun dalam pertempuran itu, Khairuddin gugur. Kemudian Khairuddin dimakamkan di Istanbul. Di dekat kuburannya didirikan masjid dan madrasah untuk mengenangnya. Hingga kini makam tersebut masih terawat untuk menjadi bukti kepahlawanan Khairuddin alias Barbarossa yang namanya masih ditakuti bangsa Eropa hingga zaman sekarang.

Selasa, 20 November 2012

DEAR WINDA

0