Skinpress Rss

Isnin, 27 Februari 2012

LANGIT

0


Disini langit tak berbulan….
Engkau ingin kuberkelana sebebas angin yang membentuk bukit-bukit pasir..,
Dan sejak saat itu, lautlah yang menjadi penting.
memandangi laut setiap hari,
mencoba menduga-duga bintang mana yang Engkau ikuti dalam
pencarianmu.
menitipkan tetesan rinduku pada angin, berharap angin akan
menyentuh wajahmu, dan mengatakan padamu bahwa kumenantimu.
menunggumu,
Sejak hari itu, bagiku laut hanya mewakili satu
hal: harapan pertemuan semula denganmu"

Ahad, 26 Februari 2012

G.A.L.A.U

0

Lebih kerna menyintai adalah kurnia, akupun memutuskan untuk tidak mengacuh seribu tanya mengapa kemudian memilihmu. Toh, tidak pernah ada jawaban tepat untuk itu. Juga tidak ada alasan pasti mengapa aku selalu murah bercerita meski dalam diammu. Sudah lama aku berhenti bertanya, berhenti juga menjawab. Semakin kucampak pesona rindu yang mengasak ke laut lepas, saat itu juga ia berubah menjadi bah yang kembali menenggelamkan aku. Melaut tanpa kendali. Dan aku…hanya bisa bertahan hidup didalamnya dan menanti ia surut sendiri.

diantara berjuta bintang, hanya satu yang ingin kudiami, adalah dibintangMu, belantara hati yang tak bertepi dan tak henti kusiangi. dan sampai detik ini, aku tak pernah berniat memisahkan diri dari marka jalanMu. terbersitpun tidak! aku tetap berjalan ditempat yang sama. berlari digaris yang sama. berhenti dititik yang sama..dijalanMu...

terasing di negerimu. aku! tersorok dalam aspalat kegelisahan. menanti badai berlalu pergi. menunggu murka tsunami reda. menghitung waktu teduh kan datang..seperti terfiksasi dititik beku.. di batas senja, aku melepas lelah, menambat gundah ke dalam alurnya.. sepertinya harus ku tiadakan mimpi indah malam ini. dalam pasrah dan berserah, ku alunkan zikir anatomi dan fisiologi, semoga Tuhan berkenan membuka hijab akal dan mengizinkannya duduk bersemayam disinggahsana ilmu..

segudang tanya tersimpan. silih berganti menampilkan teka teki. serba tak pasti; membingungkan...kadang merunut ABCDE, kadang berubah acak RTDCB. jangan2 teka-teki tentangmu adalah kombinasi kata sandi lebih dari 16 karekter. setiap kali aku terhenti ditubir matamu, kenapa persimpangan jalan yang terhampar? setiap kali aku menoleh ke belakang, kenapa justeru selubung aponeurosismu yang terdepan? apakah hatimu adalah teka-teki silang diluar batas logika? lebih dari itu sangkaku...

Rabu, 22 Februari 2012

NIGHT DIGEST

0


When we find ourselves devoid of passion and purpose, the first thing we need to do is stop. But that's not easy. The rest of the world is zooming by at full speed. Left alone with ourselves, without a project to occupy us, we can become nervous and self-critical about what we should be doing and feeling. This can be so uncomfortable that we look for any distraction rather than allowing ourselves the space to be as we are.

- Dawna Markova

hange does not roll in on the wheels of inevitability, but comes through continuous struggle. And so we must straighten our backs and work for our freedom. A man can't ride you unless your back is bent.

- Martin Luther King, Jr.

We are all a little weird and life's a little weird, and when we find someone whose weirdness is compatible with ours, we join up with them and fall in mutual weirdness and call it love & friendship.

- Dr. Seuss

Listening is a magnetic and strange thing, a creative force. The friends who listen to us are the ones we move toward. When we are listened to, it creates us, makes us unfold and expand.

- Shel Silverstein

Isnin, 20 Februari 2012

0


Aku sudah terbiasa menahan diri dari apa-apa yang kurasakan, yang ingin kuucapkan selama bertahun-tahun. Sampai ada saat-saat ketika nyaris sudah tidak bisa mengungkapkan pikiran-pikiranku. Untuk bersikap kuat, tenang, terlihat tegar atau berpura-pura kuat, ini tidak sulit.~ harusnya ini tidak sulit.. kecuali saat aku tahu kamu adalah satu-satunya yang bersedia mendengarku menangis...

Corona mortis, tectona grandis.. aku fikir waktu itu, ini akan menjadi suatu kisah yang biasa..cerita indah biasa yang sangat normal, terjalin dalam garis waktu yang baku.. sesederhana itu...namun ternyata segalanya tidak seperti yang dibayangkan..mungkin, ini bukan kisah yang mudah. namun, aku sudah berjanji untuk berusaha!! Kamu selalu bilang "jangan pernah berhenti untuk berusaha".akanku himpun segenap kekuatan untuk itu. kerana untukmu, puisi-puisi ini pun akan terus ku tulis..

~Orthopedic benar-benar membuatku galau~ fiuh ^_^v

Khamis, 16 Februari 2012

MERINDUIMU SEKIAN KALI

0


Dan bulan tersenyum di bawah ranting malam
Membawa hangatnya rindu pada sang bintang
Sepoi angin di kegelapan
Mengusik nyanyian sang malam

Tahukah dalam kelam bintang kesepian
Sendiri berteman awan
Sesekali ia tulis syair malam
Melantunkan nada rindu pada sang bulan

Pada malam ia mengadu
Pada pagi ia merayu
Adakah bulan masih tersenyum
Layaknya sang bayi lelap di pangkuan ibunya

Hanya rindu yang dapat terukir
Di baris cahaya kunang-kunang M
alam gelap tanpamu...
Aku merindumu. (I miss you)

~ntahlah cuma merindukan si dia yang jauh..~
kamu sudah pergi.. aku mungkin tidak akan melihatmu hingga setidaknya 2 bulan ke depan..bersedih, menangis sampai berdarah tidak akan mengubah apa pun. yang ada, hanyalah bahawa hidup yang terus berjalan. "see you again" kata-kata yang penuh harapan..iya, terkadang hanya itu yang kita punya.. di samping kenangan bersama yang sedikit sebanyak bisa mengobati luka yang tertinggal..

kalau bagimu merindukanku adalah hal yang berat, harusnya kau mencoba bagaimana caraku merindukanmu. kau adalah matahari yang menghangatkan pagiku, dan bulan yang menerangi gelap malamku.. tak bosan aku merapal namamu dalam tiap kidung doaku, berusaha membuka pintu langit biar doa itu sampai ke arasy Tuhan dan DIA berkenan memberimu kekuatan dalam tiap kondisi..

~meski perpisahan itu berat, namun dibaliknya ada nilai rindu yang sntiasa mengikat hati kita..saranghyeyo chinguya!!

Jumaat, 10 Februari 2012

INI CERITAKU.. CERITAMU?

2


Aku ingin menceritakan sebuah kisah padamu.. Mahukah kamu mendengarkannya?

Kisah tentang penolakan dan hari-hari yang penuh dengan ketidakrelaan. Kisah tentang pemberontakan jiwa, penyesuaian hati..kisah tentang Kuliyah Kerja Nyata (KKN). Kenapa aku menceritakannya kepadamu, adikku? Kerana kau juga sedang mengalami proses ini. sama seperti diriku suatu ketika dulu. Jadi aku ingin berbagi denganmu pengalamanku dan pengalaman orang lain..kata orang belajarlah dari pengalamanmu dan pengalaman orang lain, sungguh, ia akan mendewasakanmu.. Semoga ia bermanfaat buatmu..

Angin bertiup sepoi-sepoi bahasa. Mai membiarkan hujung jilbabnya liuk lentok terbuai mengikut rentak sang angin. Telefon genggam putih model Samsung B3410 itu diletakkan ke atas pangkuannya. Barusan dia mengirim pesan buat teman baiknya Angqy mengatakan kalau dia sudah ada di tempat. Iya hari ini hari minggu. Hari libur buat semua pekerja umum pemerintah. Meski dia dan temannya Angqy bukanlah bagian dari pekerja pemerintah, mereka tetap sahaja tertakluk kepada jadual rumah sakit (hospital) tempat mereka menjalankan praktikal (tugas profesi). Untung hari ini dia tidak punya jadual jaga (oncall) dan Angqy juga tidak masuk dinas. Lama benar mereka tidak bertemu sejak masing-masing sibuk dengan praktikal. Dan hari ini, baru mereka bisa meluangkan waktu bersama. Sebenarnya, sebentar siang, mereka akan berkumpul reuni Kuliah Kerja Nyata (KKN-PK) posko Tompobulu. Namun sengaja Mai datang awal. Janjian sama Angqy supaya dapat melepaskan rindu dendam dengan lebih awal.

Sambil menunggu Angqy, Mai duduk di atas batu besar sambil melepaskan pandangannya ke laut luas. Menekan telapak kaki ke pepasir putih yang setia menunggu pantai. Mengenang kembali waktu-waktu awal KKN. Fikirannya merentas waktu.. setahun yang lalu…
_______________xxx________________________________xxx________________________________

1 Julai 2010. Hari pertama pembekalan untuk peserta Kuliah Kerja Nyata Profesi (KKN-PK) Unhas Angkatan 35. Peserta berasak-asak di Baruga Pettarani. Bayangkan saja peserta dari pelbagai bidang kesehatan yang jumlahnya lebih dua ribuan harus bergabung dalam 1 program besar, program wajib kampus sebagai tiket sarjana. Program ini menghendaki para peserta mengabdi kepada masyarakat sebagai bentuk aplikasi dari ilmu teori yang telah diperoleh sepanjang 3-4 tahun perkuliah. Pembekalan ini bertujuan memberikan para peserta gambaran awal dan bentuk-bentuk program kerja yang bisa mereka lakukan sepanjang di posko (pos koordinasi) KKN nanti.

Mai mengerling jam tangannya buat kali ke sepuluh dalam 1 jam ini. 10 menit menuju jam 11. Huh, masih ada 1 jam lebih untuk dia terpaku dikerusi sial itu. Mata dipusatkan kearah pembicara namun fikirannya telah menerewang jauh mengangkasa. Tidak ada sama sekali hatinya untuk menyertai program wajib ini. Kerna ia memberi arti bahawa Mai akan terpisah dari teman-teman baiknya. Terpisah dari rutinitasnya. Terpisah dari budaya kesehariannya. Mai benci itu. Mai benci harus berada di pendesaan dengan kelompok orang yang tidak dikenalinya sama sekali selama dua bulan. Meski dari rumpun yang sama tetap dari kelompok yang berbeda. Jauh dari kemudahan dan fasilitas kota yang menjanjikan semuanya.. Ah, benci!!

Soksek.. soksek..

Bunyi berisik dari samping kanannya. Bunyi mengganggu. Mai melirik ke samping. Teman-teman KKN nya sibuk bercerita sesama sendiri sambil ketawa. Dibelakangnya dibarisan mahasiswa laki-laki teman KKN poskonya ,kelihatan ada yang sibuk bermain rubik dan yang lain sibuk menyelesaikan soduku. Tidak ada satupun yang kelihatan tekun mencatat atau mendengarkan perkataan pembicara. Aduh, gawat.. kenapa begitu semua model teman KKN nya? Tidak ada yang kelihatan serius dan “muka buku” seperti yang diharapkan. Same type dengan dirinya. Mai tambah sebal. Segera dia kembali memfokus pandangan ke hadapan. Berusaha menghadam hal-hal yang dinyatakan oleh pembicara..

“Mai..” suatu suara menyapa dari samping sambil gulungan kertas kecil berganti tangan.

Sebentar sore, selesai pembekalan, kita kumpul yah.. Rapat untuk barang yang perlu kita bawa ke posko ..dibawah tangga Baruga.. Semangat anak Tompobulu!!
–Kordes-



Oh, please for a God sake!! Save me!!

Hati Mai berteriak. Dia paling trauma dengan yang namanya “RAPAT” yang dikoordinasikan oleh panitia Indonesia.. sumpah!! Pasti lama dan biasanya tidak penting amat. Cukuplah pengalaman ngerinya menyertai rapat-rapat menyebalkan sewaktu ditahun pertama gara-gara keberuntungannya terpilih sebagai panitia Baksos Kader (Bakti sosial yang dianjur oleh mahasiswa baru sebagai sumbangan pertama diterima menjadi anggota keluarga mahasiswa). Selesai pembekalan Mai lansung pulang. tidak dipedulikan apa kata Kordesnya kerna tidak mengikuti rapat. Ada yang lebih penting harus dia urus. Lagipula dia merasa tidak benar-benar bisa berbaur dengan teman KKN nya mungkin kerna bahasa dan budaya yang meski serumpun tapi tetap tidak sama. Kordesnya tidak berkata apa-apa. Teman-teman poskonya yang lain juga. Mungkin tidak sanggup memarahinya atas kebiadaban tersebut. Mungkin hanya kesal atau mungkin mereka bahkan tidak menganggapnya sama sekali. Dia tidak peduli.

Hari Pelepasan atau hari keberangkatan ke tempat KKN tiba. Mungkin Mai mencatatkan hari itu sebagai hari paling sebal dalam hidupnya. Dia tidak berangkat bersama teman-teman KKN nya yang lain dengan menaiki bis disebabkan dia mengikuti rencana temannya yang dari satu jurusan, Eka untuk pergi dengan menaiki mobil rental. Lebih nyaman katanya. Mai ikut-ikut saja. Tambahan itu satu-satunya teman yang dia punya saat ini. mungkin teman KKN yang lain akan bilang “belagu banget mereka.. anak FK (fakultas kedokteran) tidak mau berbaur sama yang lain!!” atau paling mereka akan bilang “emangnya beda amat yah, ada apa dengan anak FK!!?” biarkan mereka berbicara sepuasnya. Mai tidak mau terlalu menonjolkan diri.. Cukup dia nikmati konfrontasi yang dia ciptakan.

Hari-hari pertama Mai diposko Tompobulu, Kecamatan Rumbia, Kebupaten Jeneponto,benar-benar merupakan hari yang paling payah.. Sepi dalam keriuhan, sendiri dalam keramaian. Tidak ada lagi suara-teman-teman akrab yang mengingatkan dia pada Tuhan, tidak ada juga suara senior yang membisikkan kekuatan. Tidak ada lagi teman curhat (curahan hati) yang bisa diajak cerita.Semua sepi. Tertimbun dek dinginnya hembusan embun pagi yang menutupi kaki pergunungan Tompobulu.

Mai buntu. Banyak hal yang diluar jangkaannya. Banyak hal yang tidak bisa diterima pikiran warasnya. Sukar diterima akalnya saat melihat teman yang diluar posko berjilbab, hanya mengenakan celana pendek didalam rumah sedang didalam tetap ada laki-laki yang bukan mahramnya. Susah percaya saat melihat teman-teman bermain kartu taruhan dan berkelakuan seakan kita bersaudara kandung dengan wajah tanpa dosa. Sulit menerima saat harus makan bersama dalam bulatan besar dan menghadap satu sama lain antara laki-laki dan perempuan, jadual mencuci piring, memasak mahupun membersihkan rumah digabung antara laki-laki dan perempuan diperberat saat teman laki-lakinya yang mengajarkannya cara cuci piring klasik dengan menggunakan beberapa baskom (besin) seperti terakhir kali dia mencuci piring dirumah neneknya belasan tahun lampau. Apalagi saat menjemur pakaian dan besoknya melihat kalau disamping pakaiannya ada kemeja laki-laki yang tergantung disana. Atau lebih parahnya teman laki-laki bahkan yang mengangkat jemurannya. Atau mendapati teman laki-laki berada didekatnya, khusyu’ menonton atau bermain game sebaik membuka mata dari tidur siang dikamar. Tambah jengkel saat dia tidak leluasa keluar kamar waktu malam kerana teman laki-laki tidur diruang tamu sedang dia penghidap insomnia kronik. Yang mampu dia lakukan adalah membuka mata dikegelapan kamarnya dan menghadap dinding sambil mendengarkan iPodnya.

Mai tidak suka situasi-situasi itu. Namun dia lemah tanpa daya. Tidak ada sama sekali yang bisa dia lakukan melainkan melakukan pelarian diri dengan lebih banyak bergaul dengan anak-anak kecil dikampung itu. “teman kecilku” itu gelaran yang Mai berikan. Dia lebih rela berjalan mengelilingi kampong bersama mereka diwaktu sore ketimbang berada dalam posko. dia lebih rela kakinya tercalar dek duri-duri belukar dan batu-batu kasar sewaktu memanjat gunung bersama teman kecilnya. Atau bajunya basah kerna meredah sungai atau juga kotor terpalit lumpur sawah. Dia tidak peduli. Yang penting dia jauh dari suasana posko yang melemaskan.

Diposko Mai adalah yang paling malas bicara. Sedikit ditanya, sedikit juga jawabannya. Malah banyak yang ditanya,sedikit juga jawabannya. Apatah lagi jika ada masalahnya atau ada kerunsingannya.. tambah tidak terdengar suara Mai diposko. Bahkan hingga beberapa hari. Tiada mood. Itu saja alasannya. Alasan klasik yang tidak bisa diterima akal.

Hingga suatu hari, Mai dilanda kesedihan yang amat. Masalah keluarga. Masalah yang memang tidak mampu atmanya menanggung beban tersebut. Seperti kebiasaannya, dia tetap diam. Masih tidak mahu menceritakannya kepada orang asing. Itu fikirannya. Cuma airmata yang tidak mampu dibendung dari luluh menyembah bumi. Melewati batas empangan. Dan dia tidak bisa menyembunyikannya. Teman-teman poskonya gawat. Semua teman yang cewek membujuknya supaya mahu sharing/curhat. Namun Mai tetap enggan. Tetap bersikeras dengan pendiriannya. Hingga teman-temannya ikut menangis meski tidak tahu asbab kegalauan hatinya. Teman laki-laki juga tidak tinggal diam. Mundar mandir dibalik pintu kamar. Seakan tindakan mereka itu bakalan meredakan atau mengurangkan beban Mai. Kegusaran menghiasi wajah masing-masing. Tidak ada lagi kedengaran gurau senda atau tawa ceria diposko Tompobulu tersebut. Disusuli dengan penjagaan mereka terhadap Mai yang demam besoknya entah gara-gara terlalu banyak menangis atau memang kerna perubahan cuaca yang mendadak.

Kesungguhan teman-teman posko Mai menjaga dan menghiburnya sepanjang masa sakit dan masa galaunya benar-benar memberi kesan mendalam pada Mai. Baik teman yang perempuan mahupun teman yang laki-laki. Baru dia sadari jika selama ini, dia yang menciptakan tembok tinggi antara dirinya dengan teman-temannya itu. Dia yang tidak mengizinkan hatinya dari mengenali insan-insan berhati mulia tersebut. Mai baru tahu, jika dia berarti sesuatu bagi mereka semua. Dia adalah bagian dari keluarga kecil ini. Terharu saat sebuah sms masuk ke kotak inboxnya, dari salah satu temannya “Milikilah sebuah hati yang tak pernah membenci..Senyuman yang tak pernah pudar..Sebuah sentuhan yang tak pernah menyakiti..dan sebuah persahabatan yang tak pernah berakhir..cepat sembuh”.. air matanya menetes.

Baru Mai sedari adanya Kak Dwi yang perhatiannya selangit ibu tapi lucunya seperti anak SMA, Si Asmiranda yang manja dan sok artis terkenal tanah air, ada Felli yang suka pulang-pulang tapi selalu menghibur dengan ole-olenya, ada Sabrina yang matang dan pintar masak, ada Angqy yang meski suaranya tidak bisa kurang dari volume 10 tapi tetap selalu menceriakan keadaan, ada Wandy yang selalu disiplin masalah kerja, tegas terpercaya tapi enak diajak cerita, ada Amalia yang gifo (gila foto) plus narsis abis, kecuali saat menghadap mi bakso, tiada lagi kisah lain saat itu kecuali baksonya. Ada Rosita yang kalem dan tumpuan utama orang curhat, ada juga bendahara Si Eka yang senantiasa berkira-kira dengan uang yang dikeluarkan tapi selalu menjaga kebajikan anggotanya. Ada Abhe yang tenang, dewasa, penyelesai masalah namun usilnya minta ampun. Ada Kordes berwibawa, Udin yang sabar memimpin rapat meski anak-anak semua pada tidur. Ada Bernard yang lebih penyayang dan lembut terhadap binatang hingga kucing-kucing diposko lebih bondeng (gemuk) dari anggota poskonya. Ada Wirawan yang ringan tulang dan senang membantu terutama pekerjaan kasar hingga semua teman posko tertanya-tanya “keagnya kamu tuh salah masuk jurusan deh!!”.. Tuhan, terima kasih kerana memberikan aku kesempatan ini. Tuhan, terima kasih kerana akhirnya membuka ruang hatiku.

Dari peristiwa yang sederhana itu Mai belajar untuk menerima temannya apa adanya. Baik jelek. Kelebihan dan kekurangan. Mengenali mereka sedalamnya. Mai baru tahu apa artinya kebersamaan. Kekompakan. Kepercayaan. Mai sudah jatuh cinta. Cinta pada teman-temannya yang dia butuh perang fikiran dan perang dalaman jiwanya hampir sebulan untuk rela dengan segalanya. Dari komunikasi, mereka saling melengkapi. Meski dari latar belakang yang cukup beda, pendidikan yang lain pula, mereka saling menyempurnakan. Kunci keberhasilan itu letaknya pada keterbukaan kita untuk menerima orang lain. mendengarkan sebelum menghakimi. Beranggap baik sebelum menjeleki orang lain. Dua bulan itu rupanya tidak lama. Dua bulan itu tidak cukup untuk dia menyatakan betapa dia bersyukur dan berterima kasih pada mereka semua. Ya..dua bulan itu ternyata sebentar sekali!!

Saat mereka baru mulai membaur dalam kebersamaan, perpisahan itu akhirnya mengetuk. Menyentakkan mereka dari lamunan panjang. Namun bagi Mai, kebersamaan mereka di Jeneponto selama 2 bulan dengan pelbagai kisah suka duka, pahit getir yang mereka tempuh bersama bukanlah inti kepada persahabatan melainkan awal kepada perkenalan dan permulaan kepada perjalanan persahabatan itu sendiri. dalam perjalanan ini akan memerlukan lebih banyak toleransi dan saling memahami. Chinguya.. Saranghyeyo!!

___________xx________________________________xx_____________________________________

“Mai”.. jerit Angqy sambil merangkul tubuh Mai dari belakang. Rindu benar dia pada sosok itu.

Serentak, memori KKN nya tertutup dan Mai berpaling, membalas pelukan Angqy dan menjerit namanya. Secara tidak sedar airmatanya tumpah lagi. Air mata bahagia akan pertemuan yang hadir. Orang kata, setelah KKN banyak orang yang akan berubah. Mai akui. Dia salah satunya. Manusia memang akan berubah dan terus berubah. KKN mungkin hanya indikatornya. Berubah dengan belajar lebih banyak tidak masalah sama sekali bagi Mai. Dia senang malah. Bisa menghabiskan hujung minggunya dengan bermalam bersama Asmiranda, atau berlibur dikampungnya, melancong ‘backpacking’ bersama Felli, Amalia, Rosita dan Sabrina, jalan ke Pantai dengan Angqy, berbalas komentar di facebook dengan Abhe dan Udin, menonton bola dengan Wirawan bahkan memasuki bagian/department yang sama dengan Eka atau Bernard. Semua itu membahagiakan. Meski waktunya Cuma tinggal sedikit untuk terus bersama mereka, dia tetap mahu menghargai detik-detik kebersamaan itu…


~cerita ini hanya fiksi.. tidak sepenuhnya benar~

THE END

Selasa, 7 Februari 2012

TENGKUBAN PERAHU

0



Di Jawa Barat tepatnya di Kabupaten Bandung terdapat sebuah tempat rekreasi yang sangat indah yaitu Gunung Tangkuban Perahu. Tangkuban Perahu artinya adalah perahu yang terbalik. Diberi nama seperti karena bentuknya memang menyerupai perahu yang terbalik.

Gunung Tangkuban Parahu atau Gunung Tangkuban Perahu adalah salah satu gunung yang terletak di provinsi Jawa Barat, Indonesia. Sekitar 20 km ke arah utara Kota Bandung, dengan rimbun pohon pinus dan hamparan kebun teh di sekitarnya, gunung Tangkuban Parahu mempunyai ketinggian setinggi 2.084 meter. Bentuk gunung ini adalah Stratovulcano dengan pusat erupsi yang berpindah dari timur ke barat. Jenis batuan yang dikeluarkan melalui letusan kebanyakan adalah lava dan sulfur, mineral yang dikeluarkan adalah sulfur belerang, mineral yang dikeluarkan saat gunung tidak aktif adalah uap belerang. Daerah Gunung Tangkuban Perahu dikelola oleh Perum Perhutanan. Suhu rata-rata hariannya adalah 17oC pada siang hari dan 2 oC pada malam hari.

Gunung Tangkuban Parahu ini termasuk gunung api aktif yang statusnya diawasi terus oleh Direktorat Vulkanologi Indonesia. Beberapa kawahnya masih menunjukkan tanda tanda keaktifan gunung ini. Di antara tanda gunung berapi ini adalah munculnya gas belerang dan sumber-sumber air panas di kaki gunung nya di antaranya adalah di kasawan Ciater, Subang.
Keberadaan gunung ini serta bentuk topografi Bandung yang berupa cekungan dengan bukit dan gunung di setiap sisinya menguatkan teori keberadaan sebuah telaga (kawah) besar yang kini merupakan kawasan Bandung. Diyakini oleh para ahli geologi bahwa kawasan dataran tinggi Bandung dengan ketinggian kurang lebih 709 m di atas permukaan laut merupakan sisa dari letusan gunung api purba yang dikenal sebagai Gunung Sunda dan Gunung Tangkuban Parahu merupakan sisa Gunung Sunda purba yang masih aktif. Fenomena seperti ini dapat dilihat pada Gunung Krakatau di Selat Sunda dan kawasan Ngorongoro di Tanzania, Afrika.

Sehingga legenda Sangkuriang yang merupakan cerita masyarakat kawasan itu diyakini merupakan sebuah dokumentasi masyarakat kawasan Gunung sunda purba terhadap peristiwa pada saat itu.Konon menurut cerita rakyat Parahyangan gunung itu memang merupakan perahu yang terbalik. Berikut ini ceritanya.

Diceritakan bahwa Raja Sungging Perbangkara pergi berburu. Di tengah hutan Sang Raja membuang air seni yang tertampung dalam daun caring (keladi hutan). Seekor babi hutan betina bernama Wayungyang yang tengah bertapa ingin menjadi manusia meminum air seni tadi. Wayungyang hamil dan melahirkan seorang bayi cantik. Bayi cantik itu dibawa ke keraton oleh ayahnya dan diberi nama Dayang Sumbi alias Rarasati.

Dayang Sumbi sangat cantik dan cerdas, banyak para raja yang meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada yang diterima. Akhirnya para raja saling berperang di antara sesamanya. Galau hati Dayang Sumbi melihat kekacauan yang bersumber dari dirinya. Atas permitaannya sendiri Dayang Sumbi mengasingkan diri di sebuah bukit ditemani seekor anjing jantan yaitu Si Tumang. Ketika sedang asyik bertenun, toropong (torak) yang tengah digunakan bertenun kain terjatuh ke bawah. Dayang Sumbi karena merasa malas, terlontar ucapan tanpa dipikir dulu, dia berjanji siapa pun yang mengambilkan torak yang terjatuh bila berjenis kelamin laki-laki, akan dijadikan suaminya. Si Tumang mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang Sumbi.

Dayang Sumbi pun menikahi Si Tumang dan dikaruniai bayi laki-laki yang diberi nama Sangkuriang. Sangkuriang memiliki kekuatan sakti seperti ayahnya. Dalam masa pertumbuhannya, Sangkuring selalu ditemani bermain oleh Si Tumang yang yang dia ketahui hanya sebagai anjing yang setia, bukan sebagai ayahnya. Sangkuriang tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan, gagah perkasa dan sakti.

Pada suatu hari Sangkuriang berburu di dalam hutan disuruhnya Si Tumang untuk mengejar babi betina yang bernama Wayungyang. Karena si Tumang tidak menurut, Sangkuriang marah dan membunuh Si Tumang. Daging Si Tumang oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi, lalu dimasak dan dimakannya. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah Si Tumang, kemarahannya pun memuncak serta merta kepala Sangkuriang dipukul dengan senduk yang terbuat dari tempurung kelapa sehingga luka dan diusirlah Sangkuriang.

Sangkuriang pergi mengembara mengelilingi dunia. Setelah sekian lama berjalan ke arah timur akhirnya sampailah di arah barat lagi dan tanpa sadar telah tiba kembali di tempat Dayang Sumbi, tempat ibunya berada. Sangkuriang tidak mengenal bahwa putri cantik yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi – ibunya, begitu juga sebaliknya. Terjalinlah kisah kasih di antara kedua insan itu. Tanpa sengaja Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkuriang adalah puteranya, dengan tanda luka di kepalanya.

Dayang Sumbi pun berusaha menjelaskan kesalahpahaman hubungan mereka. Walau demikian, Sangkuriang tetap memaksa untuk menikahinya. Dayang Sumbi meminta agar Sangkuriang membuatkan perahu dan telaga (danau) dalam waktu semalam dengan membendung sungai Citarum. Sangkuriang menyanggupinya.

Maka dibuatlah perahu dari sebuah pohon yang tumbuh di arah timur, tunggul/pokok pohon itu berubah menjadi gunung ukit Tanggul. Rantingnya ditumpukkan di sebelah barat dan mejadi Gunung Burangrang. Dengan bantuan para guriang, bendungan pun hampir selesai dikerjakan. Tetapi Dayang Sumbi bermohon kepada Sang Hyang Tunggal agar maksud Sangkuriang tidak terwujud. Dayang Sumbi menebarkan irisan boeh rarang (kain putih hasil tenunannya), ketika itu pula fajar pun merekah di ufuk timur. Sangkuriang menjadi gusar, dipuncak kemarahannya, bendungan yang berada di Sanghyang Tikoro dijebolnya, sumbat aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma menjadi Gunung Manglayang. Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan dengan bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan berubah wujud menjadi Gunung Tangkuban Perahu.

Sangkuriang terus mengejar Dayang Sumbi yang mendadak menghilang di Gunung Putri dan berubah menjadi setangkai unga jaksi. Adapun Sangkuriang setelah sampai di sebuah tempat yang disebut dengan Ujung berung akhirnya menghilang ke alam gaib (ngahiyang).