Skinpress Rss

Isnin, 2 Januari 2012

ALHAMDULILLAH ALA KULLI HAL

0


Sebuah perjalanan pasti mengandungi resiko. Sebuah langkah pasti memiliki konsekuensi. Tapi hanya dijalan inilah.. dijalan taat kepada Allah, dijalan pengabdian kepada Allah, dijalan pengorbanan untuk Allah, semua resiko bisa kita rasakan sebagai nikmat. Maka ungkapkanlah lagi rasa syukur kita.. "Alhamdulillah ala kulli hal.."..segala puji hanya untuk Allah atas segala keadaan ^_^

Ahad, 1 Januari 2012

SARTIKA

2


“Dokter Puca, ayo foto..” ujar Sartika sambil menarik-narik jas putihku. Tangan masih sibuk memegang statesope, memeriksa keadaan umum Indah yang akan dimasukkan obat kemoterapi jam 8 nanti. Hari masih gelap benar. Jam baru menunjukkan angka 5.30pagi. Embun masih belum kering dari ujung dedaunan. Sartika sudah segar dan lincah berlari ke sana sini.
“kenapa Sartika? Kok ribut sekali pagi-pagi begini” sapaku sambil bibir mengelus senyum.
“Ntar lagi Sartika mau pulang. jadi foto kenang-kenangan dulu”..
kata Sartika sambil tersenyum polos. Hatinya bagai bunga kembang menanti fajar yang akan menyinsing. Mana tidaknya, sudah seminggu terpenjara di Rumah Sakit ini untuk menjalani pelbagai jenis pemeriksaan guna melanjutkan kemoterapi. Dia mau menunggu Prof.Dasril datang dan membenarkannya pulang.

SARTIKA, anak perempuan kecil yang berusia 5 tahun 3 bulan, dia berulang alik masuk ke Rumah Sakit Wahidin sejak berusia 4 tahun kerana menjalani siklus kemoterapi setelah terdiagnosis Acute Lymphoblastic Leukemia (ALL).

Leukemia limfoblastik akut (ALL) adalah keganasan klonal dari sel-sel prekursor limfoid. Pada lebih dari 80% kasus, sel-sel ganas berasal dari limfosit B dan sisanya merupakan leukemia sel T. Leukemia ini merupakan bentuk leukemia yang paling banyak pada anak-anak. Penyebab pastinya tidak diketahui. Faktor keturunan dan sindrom predisposisi genetik lebih berhubungan dengan onset pada anak. Beberapa faktor lingkungan dan kondisi klinis yang berkaitan adalah radiasi ionik, paparan benzene kadar tinggi, merokok, kemoterapi, infeksi virus Epstein Barr, Down syndrome, dan Wiskott-Aldrich

Manifestasi leukemia limfositik akut merupakan tanda dan gejala dikaitkan dengan penekanan unsur sumsum tulang normal (kegagalan sumsum tulang) atau keterlibatan ekstramedular oleh sel leukemia. Akumulasi sel-sel limfoblas ganas di sumsum tulang menyebabkan berkurangnya sel-sel normal di darah perifer dengan manifestasi utama berupa infeksi, perdarahan, dan anemia.

Pertama didiangnosa, Sartika adalah anak yang manis, lucu dan cerewet, dengan kulit yang kemerahan dan rambut panjang kehitaman, suatu hari dilarikan ke rumah sakit kerana tiba-tiba pingsan sewaktu bermain. Wajahnya berubah pucat. Dia mulai sering berdarah, demam, sakit seluruh tubuh, sesak, lemah dan hilang selera makan. Berat badannya kian menurun saban hari hingga menggetuskan kebimbangan yang besar buat ibunya. Dari Rumah Sakit Daerah di Soppeng, beliau dirujuk ke Rumah Sakit Kelas A di Makassar, RS Wahidin Sudirohusudo.Setelah diperiksa lengkap, diagnosis ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium (CBC, apus darah tepi, pemeriksaan koagulasi, kadar fibrinogen, kimia darah, ABO dan Rh, penentuan HLA), foto toraks atau CT, pungsi lumbal, aspirasi dan biopsi sumsum tulang (pewarnaan sitokimia, analisis sitogenetik, analisis imunofenotip, analisis molekular BCR-ABL). Ternyata.. Limfoblastik Leukemia Akut!! Penyakit darah yang langka.

Di sini dia mulai diterapi dengan terapi induksi remisi dan terapi intensifikasi/konsolidasi yang mana masing-masin bertujuan untuk mencapai remisi komplit hematologik yaitu eradikasi sel leukemia yang dapat dideteksi secara morfologi dalam darah dan sumsum dan kembalinya hematopoiesis normal. Dan yang lainnya terapi yang bertujuan mengeliminasi sel leukemia residual untuk mencegah relaps dan mencegah timbulnya sel yang resisten obat. Terapi juga ini dilakukan 6 bulan kemudian.
Program pengobatan menggunakan kombinasi vinkristin, prednison, L-asparaginase, siklofosfamid, dan antrasiklin seperti daunorubisin.

Berbeda dengan anak-anak lain seumurannya yang turut mengalami nasib malang menderita penyakit darah, Sartika tidak pernah menangis saat tubuhnya ditusuk jarum untuk dipasang infuse (branula), diambil darah mahupun disuntik obat. Jika anak lain pasti sudah menjerit-jerit histeris. Tidak sanggup rasanya menanggung derita. Sartika tenang-tenang sahaja. Katanya “dokter mau bantu Sartika.. jadi Sartika harus kuat”.

Hari Sartika dimasukkan obat Kemoterapi oleh Prof. Dasril, Malam sebelumnya, dia masih menonton Sponge Bob bersama kami. Setelah itu bermain game Angry Bird. Hari itu giliran diri diberi peluang untuk mengikuti procedure kemoterapi. Mengiringi Sartika masuk ke kamar Kemoterapi. Wajahnya agak tegang. Siapa juga yang tidak tegang jika harus menghadapi saat penderitaan yang menyiksa.. Sartika sudah terbaring di meja tindakan. Diri berada di sampingnya. Tiba-tiba tangan mungilnya memegang tanganku dan tersenyum. Menusuk kalbu. Betapa kuatnya anak ini. rasa haru menyesakkan atma tatkala melihat tulang belakangnya ditusuk spinal needle no.20 didaerah lumbal 3-4, sebelum cairan likuor cerebrospinal ditarik keluar sebanyak dosis obat yang akan dimasukkan. Obat dimasukkan secara intratechal, lansung ke dalam sumsum tulangnya. Sartika Cuma mengerang kesakitan. Tidak menangis. Jejer air mata hanya mengalir lesu ditubir mata, mengikut alur garis pipi yang melengkung. Tidak projektil.

Setelah prosedur selesai, tubuh kecil Sartika layu. Kehabisan energi. Matanya terpejam. Anggotanya sama sekali tidak bisa melakukan gerakan. Bisanya obat kemoterapi hingga meninggalkan kesan lecet (luka) dibelakang anak kecil itu. Selesai dirawat, Sartika diangkat ke kamar perawatan untuk istirehat. 1 hari suntuk Sartika lemas dan tidak bisa terlalu banyak bergerak. Besoknya, sewaktu diri menyuapi Sartika makan bubur, Sartika tiba-tiba berkata “Dokter Puca, bisakah Sartika sembuh? Alvin, Dewi, Zaki, Yoga, semua pergimi (teman-teman yang biasanya bersama Sartika untuk menjalani kemoterapi semua telah meninggal dunia)”.
Air mata bagai mau saja menerjah keluar. Dada sesak menahan sebak yang amat. Jujur, prognosis bagi penyakit ALL tidak begitu bagus. Karena onset biasanya mendadak, maka dapat disertai perkembangan dan kematian yang cepat bila tidak diobati. 60% pasien yang diobati menjadi sembuh dan mengalami harapan hidup yang meningkat dengan kemoterapi agresif yang diarahkan pada sumsum tulang serta SSP. Namun tidak banyak anak yang bisa bertahan dengan kemoterapi agresif itu sendiri. Perlahan diri berkata
“Sartika harus kuat say.. banyakkan berdoa” itu saja.
Tidak bisa untuk berkata-kata lagi. Sartika hanya tersenyum dan menghabiskan sisa bubur yang baru masuk ke mulutnya.

Klik.. klik.. klik..

Bunyi dari kamera telefon genggam Sartika.. tersentak dari lamunan.
“ih, Dokter Pua gak senyum.. jelek. Ulang!!”. Rungut Sartika.
“Yah, maafkan.. sinimi kita ulang” kata diri sambil tersenyum.
Setelah selesai foto, Sartika menggalas tas kecilnya dan memegang tangan ibunya seraya berkata
“ Dadaa dokter.. doakan Sartika..”

Jumaat, 30 Disember 2011

NAFAS KEHIDUPAN

0


Ketakutan adalah bagian dari nafas kehidupan yang harus kita miliki selain nafas harapan dan cinta. Takut pada kegagalan setelah memulai perjalanan dan berusaha sepenuh tenaga untuk meraih jaya. Takut pada perpisahan setelah hadirnya pertemuan, serta menjalani persahabatan dalam bingkai kasih sayang. Wajar. Ketakutanlah yang membuat kita waspada..

Mari lanjutkan perjalanan kita. Waspadai segala ketenangan di jalan ini. Berhati-hati dengan kemudahan. Dan hargailah segala hal yang berlaku disekeliling kita.. Fatamorgana dunia sentiasa melalaikan kita dan menjadikan kita tidak siap untuk menghadapi banyak hal dalam hidup ini..^__~

Rabu, 28 Disember 2011

GRADUATION !!

0



Faizal Tahir - Gemuruh

Bila bertalu rentak di kalbu
Hasrat yang tersirat semakin ku buru
Bila bergema laungan gempita
Harapan bernyala nadiku berganda

Gemuruh jiwa semangat membara
Dari puncak ingin ke angkasa
Berkalungkan bintang berkelipan
Menyerlah jauh dari yang biasa

Bila bertalu rentak di kalbu
Hasrat yang tersirat semakin ku buru
Bila bergema laungan gempita
Harapan bernyala nadiku berganda

Gemuruh jiwa semangat membara
Dari puncak ingin ke angkasa
Berkalungkan bintang berkelipan
Menyerlah jauh dari yang biasa

Ungkapan ini bukan sekadar bermimpi
Segalanya pastikan terbukti nanti

Gemuruh jiwa semangat membara
Dari puncak ingin ke angkasa
Berkalungkan bintang berkelipan
Menyerlah jauh dari yang biasa

~traktiran wisuda (graduasi) sekaligus acara perpisahan Fitrah~

Khamis, 22 Disember 2011

MEMBESAR DI BELAKANG BAYANGAN YANG HEBAT

4


Kali ini rasa ingin sekali berkongsi tentang “ Membesar di Belakang Bayangan Yang Hebat”. Pengalaman yang pernah dilalui sewaktu zaman kecilku. Dari kacamata seorang adik lebih tepatnya. Semoga bermanfaat. [mungkin bawaan hujan dan rindukan kakak membuatkan memori semalam berputar di minda sedar hingga memberikan ilham sebuah perkongsian]

Membesar sebagai seorang adik, pasti sosok sang kakak yang paling berperan dalam pembentukan peribadinya. Kerana sebagai anak-anak, pastilah didikan paling efektif itu adalah melalui contoh teladan yang baik ketimbang kata-kata semata. Kadang untuk anak yang berusia 6-7 tahun, mencontohi ibu bapa secara lansung boleh jadi terasa amat berat kerana pada pikiran dangkal kita, ibu dan ayah adalah sosok yang sangat sempurna dan tingga hingga kita tidak mungkin dapat mencapainya. Kita cenderung untuk melihat dan mengambil contoh dari sosok yang berada di depan kita (alias kakak/saudara yang lebih tua). Makanya, menjadi kakak juga sebenarnya tidak mudah. Bak kata teori Survival Of The Fittest, “Chosen by Fate”. Jadi terserah kita untuk membentuk diri kita menjadi teladan yang baik buat adik-adik kita atau sebaliknya menjadi teladan yang jelek untuk mereka contohi.

Meski terlahir bersaudara, tetap kita menjalani proses perkenalan dan kebersamaan yang tersendiri. Kebanyakan kita bisa lihat, hubungan bersaudara itu sangat jarang yang bisa diekspresikan. Kadang, meski sang kakak sangat menyayangi adiknya, namun sebaliknya mereka bersikap cuek (tidak peduli) atau bersikap usil (nakal). Mereka lebih selesa dengan menjadikan adik-adik mereka bahan ketawa, bahan ejekan dan sebagainya. Sang adik jua merespon sedemikian. Saat sang kakak dimarahi, mereka juga akan membalas dendam dengan mengetawai atau mengacungkan jempol sebagai tanda gembira atau “padan muka”!! Tak kurang juga yang acap menggunakan bahasa yang kasar dalam bertutur dan mengeluarkan caci maki dalam perbualan harian. Tanpa disedari, hal-hal ini mendarah daging dalam kehidupan dan menjadi bagian dari peribadi mereka.

Perbedaan usia diri dan kakak tidak jauh beda. 4 tahun. Tambahan diri dan kakak sama-sama perempuan membuat hubungan kami sangat akrab sejak kecil. Kakakku teman terbaikku. Teman bermainku. Teman ceritaku. Sepanjang akal ini masih mampu mengingat, selalu ada kakak yang menemani hari kecil dan hari remajaku.

Meniti-meniti hari remaja, kakak semakin mendewasa. Diri sangat kagum sewaktu melihat kakak mampu berbahas banyak hal dengan ayah dari isu semasa hingga kepada isu dunia. Kakak banyak membaca. Jadi pengetahuannya sangat luas. Diri masih ingat dalam 1 perjalanan pulang kampung ayah di Selangor di suatu musim cuti sekolah, seperti biasa ayah akan bercerita kepada kami tentang kisah sirah nabi dan para sahabat. Kakak banyak merespon. Kemudian dia bercerita kepada ayah tentang rencananya untuk menulis tentang Imam As-Syahid Hasan Al-Banna, pengasas gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir, Mujadid yang telah memberi nafas baru dalam perkembangan dunia dakwah. Nilaian pertama yang diri belajar dari kakak. Membaca jembatan ilmu. Seiring dengan ini, ayah dan ummi mengesyorkan (memberi saran) bahan bacaan yang sesuai dengan tahap kami dan berusaha menciptakan suasana yang lebih kondusif untuk membantu proses pembelajaran dan pengetahuan kami.

Sewaktu pertama menjejakkan kaki ke alam sekolah menengah (SMP), diri masih lagi terperangkap dalam dunia kanak-kanak yang tidak begitu mempedulikan soal aurat dsb. Dan kemudian kakaklah yang mengajarkan diri untuk lebih prihatin terhadap pakaian yang menutup aurat. Tapi cara kakak mendidik diri jelas terasa seninya. Diri masih ingat sewaktu kakak meminta ummi membelikan kami jubah (gamis) yang serupa coraknya. Kakak mengajak diri untuk memakai baju yang sama dan menghadiahkan diri sepasang stoking (koas kaki). Beliau tidak lansung memarahi diri yang masih tidak menutup aurat dengan sempurna di usia 13 ku. Namun sebaliknya beliau mengajarkan diri dengan teladan yang baik dan cerita-cerita tentang wanita hebat zaman nabi.

Kakak selalu menggunakan pendekatan psikologis. Walau tampak sederhana namun sebenarnya amat berbekas dihati. Selalu, jika dimarahi, kakak menjadi orang pertama yang akan membela. Pasti al sepele seperti itu, buat anak-anak akan menjadi suatu hal yang sangat berharga. Belum lagi, kebiasaan kakak yang membelikan hadiah buat kami. Meski jika dia hanya ke kota untuk membeli keperluan tanpa kami, pasti dia tetap akan membelikan sesuatu sebagai ole-ole. Diri yang semakin meningkat remaja, dan mulai punya pemikiran tersendiri, pernah bertanya pada kakak kenapa harus dia bazirkan uangnya untuk kami? Padahal uang tersebut bisa digunakan untuk perbelanjaan hariannya. Namun kakak hanya tersenyum dan menjawab tak mengapa. Kemurahan hati dan kasih sayang yang kakak tunjukkan mengajar diri bahawa kemurahan hati itu adalah suatu yang harus mendasar dalam diri dan indahnya kasih sayang jika diterjemahkan dalam perbuatan.

Masih segar diingatan,hari pengumuman keputusan SPM (Sijil Peperiksaan Malaysia/ Ujian Nasional SMA), kakak tidak berada di rumah. Beliau sedang melanjutkan pelajarannya di kampus KUSZA, Terengganu. Sebaik mengetahui keputusan ujian, diri segera menelefon kakak untuk memberitahunya kabar tersebut. Jawaban kakak sewaktu itu “tahniah angah, kakak tau angah boleh..” kata-kata sederhana. Tapi buat seorang adik, ia memberi makna yang sangat mendalam. Kakak punya keyakinan yang tinggi pada kita meski dia terkesan lebih dewasa dan lebih berpengalaman. Ia menanam keyakinan diri dan rasa ingin berusaha dengan lebih keras. Kakak lansung menyuruh diri mengambil hadiah (kado) yan sudah disiapkan dari awal dikamarnya. Segera berlari ke kamar kakak setelah pulang dari sekolah. Kakak telah menghadiahkan sehelai jubah (gamis) berwarna pink muda dengan layer tipis berwarna peach. Baju yang kian lama diri impikan. Menangis terharu. Wah, kakak tau betul apa yang diri mau.. TERIMA KASIH KAKAK..

Kehalusan jiwa kakak dan sensitivitinya amat terserlah sejak kecil. Sewaktu adikku Afham masih ditingkatan 1 (SMP kelas 1) , pernah satu kejadian sewaktu adikku yang tinggal di asrama sekolah Tahfiz Sains, pulang bercuti (libur) di rumah. Suatu pagi, sedang diri sedang membersihkan kamar, kakak tiba-tiba masuk sambil matanya merah. Sisa air mata masih mengalir deras ditubir matanya menandakan hati yang gundah masih belum tenang. Hairan. Padahal baru setengah jam yang lalu beliau keluar dari kamarku untuk menggambil minuman dalam keadaan ketawa-ketawa.setelah diri bertanya, kakak mengatakan “sedih lihat adik menangis kerana susah menghafal Al-Quran. Tapi kakak tidak dapat bantu sedikitpun..” sebaik mendengar kata-kata kakak, semerta dada ini sebak. Ingin ikut menangis. Tapi harus dipendam. Memang seperti itu. Sejak kecil diri harus lebih pintar menyembunyikan perasaan kerana kakak sangat ekspresif orangnya. Saat kakak menarik tanganku keluar kamar dan mengintip dikamar adik, air mata ini tidak mampu lagi terbendung. Mengingat kata-kata kakak tadi dan melihat sendiri sosok adik yang sedaya upaya berusaha dengan keras untuk memantapkan hafalannya..kasihan adikku..

Begitu juga adikku Ijah, dari kecil, kerna perempuan bungsu, Ijah selalu adalah yang paling unik. Jadi sebagai yang bungsu, sering dimanjakan oleh kakak. Apapun maunya pasti kakak turuti. Setiap kali pulang dari kampus, kakak pasti akan membahagikan waktunya untuk menemani Ijah menonton kartun meski itu bukanlah kebiasaan kakak, sepertimana kakak mengajar diri untuk menyintai sepak bola gunag menembusi dunia satu-satunya adik lelakiku. Kakak juga sering membelikan sesuatu yang disukai adikku Ijah menjelang hari lahirnya. Kakak mulai suka menonton Barbie gara-gara adikku yang satu. Tiap kali Ijah bercerita tentang Barbie dan cerita tentang zaman kanak-kanaknya disekolah rendah, Kakak pasti menunjukkan perhatian penuh dan merespon cerita tersebut hingga adik semakin senang dan mulai cerewet dengan kakak..

Sepanjang akal ini mampu menyimpan memori, tidak pernah rasanya mendengar kakak mengeluarkan kata-kata yang kasar atau kesat. Sebaliknya kakak sering memberi motivasi dan paling penting, kakak adalah tempat mencurah masalah dan berkongsi pendapat. Kakak sangat rasional dan berfikiran terbuka serta berpandangan jauh. Setiap dia memberi pendapat pasti masuk akal dan bisa dipraktekkan. Bukan sekadar teori semata-mata. Berbicara dengan kakak itu menambah ilmu dan wawasan. Berbincang dengan kakak itu akan membenahi idea yang kreatif.

~kakak, saranghyeyo~

Selasa, 20 Disember 2011

REPLY ME NOT!!

0


Sometime I said those stupid words
And demand you to do silly things
Never reply me!
Cause I’ve just making nonsense that come
Neither from my brain nor my heart
But from my uncontrolled and unorganized emotion

Sometime I ask you the unneeded questions
And urge you to answer
Never reply me!
You’re just building up my ego and cause me to be unbearable person
An arrogant that totally didn’t make sense
Who only know just to demand and not to give

Sometime I ask you “not so important” question
And hoping that you’ll keep up with me
Taking a part of your leisure time that not suppose to be mine
Never reply me!
Teach me to be rational
Teach me to be patious
Teach me to be strong
And teach me to be independend
Lead me to be better than I do before knowing you..

Amni_Shamrah
20 Dec 2011-12-23 8.45pm

Isnin, 12 Disember 2011

DI MANA ALLAH DALAM HATI KITA?

0


Di mana Allah dalam hati kita? Renungkan dan pikirkan kalimat ini, saudaraku. Kerana Ali bin Abi Talib RA pernah menyifatkan keadaan para solihin di zamannya dengan mengatakan “azhumal khaliqu fii qulubihim, fashaghura maa duunahu fii a’yunihim”, sungguh keagungan Allah telah mendominasi dinding hati mereka. Karenanya menjadi kecil dan tidak berartilah di mata mereka, selain Allah. Mereka menjadi besar kerana telah meyakini kebesaran dan keagungan Allah SWT. Kedudukan mereka menjadi tinggi, kerana mereka telah meninggikan Allah SWT. Jiwa mereka telah sibuk dengan hanya mengagungkan Allah hingga mereka menjadi tidak takut kecuali kerana Allah, menjadi tidak tenang kecuali bila dekat kepada Allah, menjadi tidak memiliki tempat bersandar kecuali kepada Allah, menjadi tidak memiliki tempat bergantung kecuali Allah. Keagungan Allah benar-benar telah merajai hati mereka. Selalu begitu hebat dan mengagumkan keadaan hati para solafussoleh dalam tingkat ma’rifah mereka kepada Allah SWT.. Subhanallah.. Maha Suci Allah…

Saudaraku,

Dimana Allah dalam hati kita? Seberapa dominan keagungan Allah SWT dalam hati kita? Allah SWT tak ingin hati kita dipenuhsesaki oleh keinginan nafsu dan ita-cita dunia. Dahulu, ketika Nabi Allah Ibrahim terdominasi oleh kecintaannya kepada sang anak, Allah memerintahkannya untuk menyembelih anaknya. Dahulu, ketika suatu saat Rasulullah SAW dan para sahabat begitu memuliakan Baitul haram dalam hati mereka, Allah lalu memerintahkan mereka melakukan solat menghadap Baitul Maqdis. Agar Allah mengetahui apakah kadar kecintaan mereka kepada Allah lebih kuat, lebih dominan dan lebih besar daripada kecintaan mereka terhadap Baitul Haram? Ketika jawabannya adalah IYA, lalu Allah mengembalikan lagi Baitul Haram kepada mereka dengan perintahNya. Ketika Ibrahim ternyata lebih menyintai Allah, maka Allah kembalikan lagi sang anaknya kepadanya dan menggantikannya dengan menyembelih kambing qibashy.

Dimanakah Allah SWT dalam hati kita? Apakah yang mendominasi hati kita selama ini?

Saudaraku,

Apakah kita merasa gembira dan senang saat berdekatan denganNya? Apakah kita selalu berusaha agar Allah selalu bersama kita? Sejauh mana tingkat kesenangan dan kedamaian kita saat sholat, disaat kita bertemu dan bermunajat kepadaNya? Seberapa sejuk dan teduhnya jiwa kita saat sujud di hadapanNya, kerana saat sujud merupakan saat yang paling dekat denganNya.. Duhai, indahnya bila kita mengetahui firman Allah SWT :

“Aku bersama hambaKU di saat ia mengingatiKU dan dua bibirnya menyebutKU”
[HR Bukhari, Kitab at Tauhid]

Apakah kita menyediakan waktu sejenak, disepertiga malam terakhir untuk menikmati saat-saat kedekatan kita denganNya? Di saat Allah mengatakan:

“Apakah ada orang yang bertaubat yang aku terima taubatnya. Adakah orang yang meminta ampun atas dosanya dan Aku ampuni dosanya. Adakah orang yang meminta dan aku berikan pintanya.”
[HR Muslim]

Sejauh manakah pengorbanan kita untukNya? Apakah kita selalu berupaya melangkah dan bergegas mendekat tempat-tempat yang bisa membuat Allah redha kepada kita? Atau justeru kita mendekati tempat-tempat kemurkaanNya hingga kita semakin jauh dari redhaNya? Tapi lalu kita memohon dan meminta keluasan rahmatNya, mengeluhkan ragam kesempitan, kesedihan dan kelemahan kita kepadaNya. Mengetuk pintu kasih sayangNya dan berharap agar Allah mau membukakannya untuk kita yang penuh dosa, banyak lalai dan berlumur kesalahan?

Saudaraku,

Dimanakah Allah SWT dalam hati kita? Saat kita harus melewati sebuah peristiwa pahit dan menyakitkan dalam hidup. Mampukah kita meraba kasih sayang Allah SWT dalam setiap peristiwa pahit dan menyakitkan itu? Karena, sesungguhnya apapun yang datang dari Allah itu adalah indah. Meskipun kadang kita tak mampu melihat keindahan dalam musibah yang menimpa. Tapi itu tetap saja indah. Renungkanlah keindahan dalam musibah yang menimpa Nabi Musa AS saat bersama Nabi Khaidir. Bagaimana peristiwa kapal yang diboocrkan, seorang anak yang dibunuh dan rumah hampir roboh yang dibangun kembali. Semua itu musibah yang buruk dalam pandangan Nabi Musa AS. Tapi saksikanlah betapa keindahan itu terbentuk sedemikian rupa dari ketetapan Allah, setelah diketahui hakikat dan hikmah musibah itu semua? [Ibnu Qayyim, Al Fawaid]

Saudaraku,

Mari terus menerus berlatih agar jiwa kita benar-benar dipenuhi oleh cinta kepadaNya, bukan kepada selainNya. Kita sudah lama menjalani hidup. Tapi kita terlalu lama dibuai dunia. Kita harus berhenti sejenak disini. Lalu bertanya kepada diri sendiri

“Dimanakah Allah SWT dalam hati kita?”