Aku telah lama memaafkanmu
Bahkan sejak pertama aku terluka kerananya
Meski kamu tidak menganggap kesalahan itu sebagai sebuah “kesalahan”
Mungkin dari awal kita sudah lain hala
Cara menginterpretasikan sebuah pertemanan mungkin jauh
berbeda
Mungkin bagimu gurauan seperti itu hanya sekelumit bumbu
Dalam rancu sebuah perhubungan
Ia bukan apa-apa melainkan sebuah “gurauan”
Tapi bagiku, kejujuran dan ketelusan adalah segalanya
Aku tidak ingin mencipta jarak dalam persahabatan ini
Juga tidak ingin kalah dirasuk curiga tiap kalinya
Tapi mungkin benar katamu
Kadang kita benar-benar butuh jeda agar pikiran bisa jernih
semula
"waktu akan mengobati segalanya"
Kau mungkin tidak tahu,
Hal yang paling menyakitkan itu adalah saat kamu mula kecewa
dengan orang lain
Tapi lebih menyakitkan saat orang lain mula kecewa denganmu
Jadi saat aku merasa jengkel, aku akan segera memaafkanmu
Sepertimana kamu sudi untuk memaafkanku waktu khilafku
Aku sudah berjanji untuk berusaha yang terbaik
Jangan dulu buru-buru mengakumulasi kekecewaanmu terhadapku
Kerna sungguh, persahabatan itu tidak akan bangun dengan “kekecewaan”
Jeda ini bukan untuk menghukummu
Sebaliknya untuk aku gunakan untuk kembali mengintrospeksi
diri
Aku tidak ingin melukaimu..bahkan terbersitpun tidak!!
Apalagi untuk membenarkan orang-orang yang bahkan tidak
pernah mengenalimu
Untuk seenaknya berbicara jelek
Kerna kutahu, kamu orang baik meski tidak sempurna
Siapa juga tak sempurna termasuk aku
Ini bukan salah siapa-siapa
Hanya saja keselarasan hati menyatukan persepsi
Ia akan butuh waktu
Saat memisah jarah emosi dari logika
Saat membuka lapangan hati sebesar-besarnya
Hingga Fault Penalty tidak membekas darah pada permainan
~amni_shamrah~
06 September 2012
05.00pm