“Dan Kami perintahkan kepada
manusia agar berbuat baik kepada orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya
dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah. Masa mengandung
sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan,sehingga apabila dia(anak itu) telah
dewasa dan umurnya mencapai umurnya empat puluh tahun, dia berdoa, “Ya Tuhanku,
berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau
limpahkan kepadaku dan kepada orang tuaku, agar aku dapat berbuat kebajikan
yang Engkau redhai dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada
anak cucuku. Sungguh aku bertaubat kepada Engkau dan sungguh aku termasuk orang
Muslim.”
[Al-Ahqaf 46:15]
Saudaraku……
Ibu kita, adalah orang yang telah melahirkan,
mengasuh dan membesarkan kita. Bahkan yang telah menghantarkan kita kepada
status sosial yang kita miliki saat ini; dengan untaian do’a-do’anya sepanjang
usianya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Tiga macam do’a
yang pasti terkabulkan (do’anya) yang tidak diragukan lagi; Do’a orang yang
teraniaya; Do’a seorang musafir dan do’a buruk orang tua kepada anak-anaknya.”
(Hadits Shahih, diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, at-Tirmidzi, Imam Ibnu Majah.
Syaikh al-Albani menilai hadits ini shahih).
Ibu kita, yang mungkin saat ini –sedang di tempat
kerjanya, atau di rumah; mengisi hari tuanya, selalu dan senantiasa tulus untuk
anaknya. Kalau ada kamus kehidupan yang harus menjadi acuan dalam menapaki
kerasnya hidup ini; maka kamus itu adalah ibu kita.
Ibu kita, -sebagaimana layaknya orang tua bagi
anak-anaknya- tentu tidak memiliki secuil asa pun untuk menelantarkan anaknya,
ia akan berupaya semaksimal mungkin untuk mempersembahkan yang terbaik yang ia
miliki. Dan ibu kita telah melakukan itu semua untuk kita.
“Kasih ibu sepanjang jalan; kasih anak sepanjang
galah.” Demikian kata pepatah. Lalu, bagaimanakah sikap kita terhadap ibu
selama ini?
Saudaraku……
Adalah Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu yang
meriwayatkan dan menghafal lebih dari 5.374 hadits Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam menceritakan tentang seseorang yang menjumpai Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam seraya bertanya;
“Wahai Rasulullah!, siapakah yang paling utama
aku perlakukan dengan baik terhadapnya?. Beliau bersabda; “ibumu.” Lalu dia
bertanya lagi; “Kemudian siapa lagi?.” Beliau menjawab, “ibumu.” Lalu dia
bertanya lagi; “Kemudian siapa lagi?.” Beliau menjawab, “ibumu.” Lalu dia
bertanya lagi; “Kemudian siapa lagi?.” Beliau menjawab, “bapakmu.” (Hadist
Shahih; diriwayatakan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Ibnu al-Baththal rahimahullah berkata dalam
syarah-nya terhadap hadits di atas, “Hadits tersebut mengandung pengertian
bahwa hak berbuat baik kepada ibu tiga kali lipat dari hak yang sama terhadap
bapak. Hal ini dikarenakan betapa sulitnya masa kehamilan, kemudian masa
melahirkan, kemudian masa menyususi. Ini semua dilakukan oleh ibu sendirian,
barulah kemudian ayah berpartisipasi dalam mendidik.”
Sebagian ulama berpandangan, “Ibu lebih
didahulukan dalam hal berbakti kepadanya, berbuat baik dan kasih sayang,
sedangkan ayah didahulukan dalam hal kepatuhan terhadapnya karena dia adalah
tuan rumah dan nahkoda biduk rumah tangga.”
Saudaraku…
Seberapa pentingkah dalam anggapan kita, urusan
yang kini tengah dihadapi oleh ibu dan bapak kita? Terhadap keduanya, sebagian
kita lebih banyak “lupa”. Walau sekadar menyisipkan do’a untuk keselamatan
mereka berdua, setiap seusai shalat.

Sungguh mengherankan, sebagian kalangan lebih
memilih orang tuanya diserahkan pengasuhannya ke panti-panti jompo kemudian
“dilupakan”. Sebab, bagi mereka, ibu atau bapak, di sisa-sisa usianya, tidak
lebih hanya sosok yang membebani keluarga. Semoga fenomena ini tidak termasuk
dari fenomena kita.
Saudaraku…
Untuk mengakhiri tulisan ini, sebuah hadits yang
diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu layak untuk kita renungkan bersama.
Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai anak Adam, berbuat
baiklah kamu kepada kedua orang tuamu dan sambunglah tali silaturrahim-mu,
niscaya Allah akan mempermudah urusanmu dan memperpanjang usiamu, taatilah
perintah Tuhan-Mu, niscaya engkau berakal sehat dan jangan engkau bermaksiat
kepada-Nya, sebab engkau pasti akan menjadi bodoh.” (lihat. Birrul Walidaini,
Jamaludin al-Jauzi)
Saudaraku….
Pandanglah sekali lagi, wajah ibu-bapak kita!.
Perhatikan keinginan yang terpendam pada dirinya. Lalu berbuat baiklah untuk
keduanya. Niscaya, hidup ini terasa damai, mudah dan tak ada beban yang
menyesakkan diri. Dengan demikian, raihlah umur yang berkah. Semoga!
~Selamat Hari Ibu Ummiku.. semoga Allah tetap meyayungimu dalam rahmatNya~