Skinpress Rss

Khamis, 16 Februari 2012

MERINDUIMU SEKIAN KALI

0


Dan bulan tersenyum di bawah ranting malam
Membawa hangatnya rindu pada sang bintang
Sepoi angin di kegelapan
Mengusik nyanyian sang malam

Tahukah dalam kelam bintang kesepian
Sendiri berteman awan
Sesekali ia tulis syair malam
Melantunkan nada rindu pada sang bulan

Pada malam ia mengadu
Pada pagi ia merayu
Adakah bulan masih tersenyum
Layaknya sang bayi lelap di pangkuan ibunya

Hanya rindu yang dapat terukir
Di baris cahaya kunang-kunang M
alam gelap tanpamu...
Aku merindumu. (I miss you)

~ntahlah cuma merindukan si dia yang jauh..~
kamu sudah pergi.. aku mungkin tidak akan melihatmu hingga setidaknya 2 bulan ke depan..bersedih, menangis sampai berdarah tidak akan mengubah apa pun. yang ada, hanyalah bahawa hidup yang terus berjalan. "see you again" kata-kata yang penuh harapan..iya, terkadang hanya itu yang kita punya.. di samping kenangan bersama yang sedikit sebanyak bisa mengobati luka yang tertinggal..

kalau bagimu merindukanku adalah hal yang berat, harusnya kau mencoba bagaimana caraku merindukanmu. kau adalah matahari yang menghangatkan pagiku, dan bulan yang menerangi gelap malamku.. tak bosan aku merapal namamu dalam tiap kidung doaku, berusaha membuka pintu langit biar doa itu sampai ke arasy Tuhan dan DIA berkenan memberimu kekuatan dalam tiap kondisi..

~meski perpisahan itu berat, namun dibaliknya ada nilai rindu yang sntiasa mengikat hati kita..saranghyeyo chinguya!!

Jumaat, 10 Februari 2012

INI CERITAKU.. CERITAMU?

2


Aku ingin menceritakan sebuah kisah padamu.. Mahukah kamu mendengarkannya?

Kisah tentang penolakan dan hari-hari yang penuh dengan ketidakrelaan. Kisah tentang pemberontakan jiwa, penyesuaian hati..kisah tentang Kuliyah Kerja Nyata (KKN). Kenapa aku menceritakannya kepadamu, adikku? Kerana kau juga sedang mengalami proses ini. sama seperti diriku suatu ketika dulu. Jadi aku ingin berbagi denganmu pengalamanku dan pengalaman orang lain..kata orang belajarlah dari pengalamanmu dan pengalaman orang lain, sungguh, ia akan mendewasakanmu.. Semoga ia bermanfaat buatmu..

Angin bertiup sepoi-sepoi bahasa. Mai membiarkan hujung jilbabnya liuk lentok terbuai mengikut rentak sang angin. Telefon genggam putih model Samsung B3410 itu diletakkan ke atas pangkuannya. Barusan dia mengirim pesan buat teman baiknya Angqy mengatakan kalau dia sudah ada di tempat. Iya hari ini hari minggu. Hari libur buat semua pekerja umum pemerintah. Meski dia dan temannya Angqy bukanlah bagian dari pekerja pemerintah, mereka tetap sahaja tertakluk kepada jadual rumah sakit (hospital) tempat mereka menjalankan praktikal (tugas profesi). Untung hari ini dia tidak punya jadual jaga (oncall) dan Angqy juga tidak masuk dinas. Lama benar mereka tidak bertemu sejak masing-masing sibuk dengan praktikal. Dan hari ini, baru mereka bisa meluangkan waktu bersama. Sebenarnya, sebentar siang, mereka akan berkumpul reuni Kuliah Kerja Nyata (KKN-PK) posko Tompobulu. Namun sengaja Mai datang awal. Janjian sama Angqy supaya dapat melepaskan rindu dendam dengan lebih awal.

Sambil menunggu Angqy, Mai duduk di atas batu besar sambil melepaskan pandangannya ke laut luas. Menekan telapak kaki ke pepasir putih yang setia menunggu pantai. Mengenang kembali waktu-waktu awal KKN. Fikirannya merentas waktu.. setahun yang lalu…
_______________xxx________________________________xxx________________________________

1 Julai 2010. Hari pertama pembekalan untuk peserta Kuliah Kerja Nyata Profesi (KKN-PK) Unhas Angkatan 35. Peserta berasak-asak di Baruga Pettarani. Bayangkan saja peserta dari pelbagai bidang kesehatan yang jumlahnya lebih dua ribuan harus bergabung dalam 1 program besar, program wajib kampus sebagai tiket sarjana. Program ini menghendaki para peserta mengabdi kepada masyarakat sebagai bentuk aplikasi dari ilmu teori yang telah diperoleh sepanjang 3-4 tahun perkuliah. Pembekalan ini bertujuan memberikan para peserta gambaran awal dan bentuk-bentuk program kerja yang bisa mereka lakukan sepanjang di posko (pos koordinasi) KKN nanti.

Mai mengerling jam tangannya buat kali ke sepuluh dalam 1 jam ini. 10 menit menuju jam 11. Huh, masih ada 1 jam lebih untuk dia terpaku dikerusi sial itu. Mata dipusatkan kearah pembicara namun fikirannya telah menerewang jauh mengangkasa. Tidak ada sama sekali hatinya untuk menyertai program wajib ini. Kerna ia memberi arti bahawa Mai akan terpisah dari teman-teman baiknya. Terpisah dari rutinitasnya. Terpisah dari budaya kesehariannya. Mai benci itu. Mai benci harus berada di pendesaan dengan kelompok orang yang tidak dikenalinya sama sekali selama dua bulan. Meski dari rumpun yang sama tetap dari kelompok yang berbeda. Jauh dari kemudahan dan fasilitas kota yang menjanjikan semuanya.. Ah, benci!!

Soksek.. soksek..

Bunyi berisik dari samping kanannya. Bunyi mengganggu. Mai melirik ke samping. Teman-teman KKN nya sibuk bercerita sesama sendiri sambil ketawa. Dibelakangnya dibarisan mahasiswa laki-laki teman KKN poskonya ,kelihatan ada yang sibuk bermain rubik dan yang lain sibuk menyelesaikan soduku. Tidak ada satupun yang kelihatan tekun mencatat atau mendengarkan perkataan pembicara. Aduh, gawat.. kenapa begitu semua model teman KKN nya? Tidak ada yang kelihatan serius dan “muka buku” seperti yang diharapkan. Same type dengan dirinya. Mai tambah sebal. Segera dia kembali memfokus pandangan ke hadapan. Berusaha menghadam hal-hal yang dinyatakan oleh pembicara..

“Mai..” suatu suara menyapa dari samping sambil gulungan kertas kecil berganti tangan.

Sebentar sore, selesai pembekalan, kita kumpul yah.. Rapat untuk barang yang perlu kita bawa ke posko ..dibawah tangga Baruga.. Semangat anak Tompobulu!!
–Kordes-



Oh, please for a God sake!! Save me!!

Hati Mai berteriak. Dia paling trauma dengan yang namanya “RAPAT” yang dikoordinasikan oleh panitia Indonesia.. sumpah!! Pasti lama dan biasanya tidak penting amat. Cukuplah pengalaman ngerinya menyertai rapat-rapat menyebalkan sewaktu ditahun pertama gara-gara keberuntungannya terpilih sebagai panitia Baksos Kader (Bakti sosial yang dianjur oleh mahasiswa baru sebagai sumbangan pertama diterima menjadi anggota keluarga mahasiswa). Selesai pembekalan Mai lansung pulang. tidak dipedulikan apa kata Kordesnya kerna tidak mengikuti rapat. Ada yang lebih penting harus dia urus. Lagipula dia merasa tidak benar-benar bisa berbaur dengan teman KKN nya mungkin kerna bahasa dan budaya yang meski serumpun tapi tetap tidak sama. Kordesnya tidak berkata apa-apa. Teman-teman poskonya yang lain juga. Mungkin tidak sanggup memarahinya atas kebiadaban tersebut. Mungkin hanya kesal atau mungkin mereka bahkan tidak menganggapnya sama sekali. Dia tidak peduli.

Hari Pelepasan atau hari keberangkatan ke tempat KKN tiba. Mungkin Mai mencatatkan hari itu sebagai hari paling sebal dalam hidupnya. Dia tidak berangkat bersama teman-teman KKN nya yang lain dengan menaiki bis disebabkan dia mengikuti rencana temannya yang dari satu jurusan, Eka untuk pergi dengan menaiki mobil rental. Lebih nyaman katanya. Mai ikut-ikut saja. Tambahan itu satu-satunya teman yang dia punya saat ini. mungkin teman KKN yang lain akan bilang “belagu banget mereka.. anak FK (fakultas kedokteran) tidak mau berbaur sama yang lain!!” atau paling mereka akan bilang “emangnya beda amat yah, ada apa dengan anak FK!!?” biarkan mereka berbicara sepuasnya. Mai tidak mau terlalu menonjolkan diri.. Cukup dia nikmati konfrontasi yang dia ciptakan.

Hari-hari pertama Mai diposko Tompobulu, Kecamatan Rumbia, Kebupaten Jeneponto,benar-benar merupakan hari yang paling payah.. Sepi dalam keriuhan, sendiri dalam keramaian. Tidak ada lagi suara-teman-teman akrab yang mengingatkan dia pada Tuhan, tidak ada juga suara senior yang membisikkan kekuatan. Tidak ada lagi teman curhat (curahan hati) yang bisa diajak cerita.Semua sepi. Tertimbun dek dinginnya hembusan embun pagi yang menutupi kaki pergunungan Tompobulu.

Mai buntu. Banyak hal yang diluar jangkaannya. Banyak hal yang tidak bisa diterima pikiran warasnya. Sukar diterima akalnya saat melihat teman yang diluar posko berjilbab, hanya mengenakan celana pendek didalam rumah sedang didalam tetap ada laki-laki yang bukan mahramnya. Susah percaya saat melihat teman-teman bermain kartu taruhan dan berkelakuan seakan kita bersaudara kandung dengan wajah tanpa dosa. Sulit menerima saat harus makan bersama dalam bulatan besar dan menghadap satu sama lain antara laki-laki dan perempuan, jadual mencuci piring, memasak mahupun membersihkan rumah digabung antara laki-laki dan perempuan diperberat saat teman laki-lakinya yang mengajarkannya cara cuci piring klasik dengan menggunakan beberapa baskom (besin) seperti terakhir kali dia mencuci piring dirumah neneknya belasan tahun lampau. Apalagi saat menjemur pakaian dan besoknya melihat kalau disamping pakaiannya ada kemeja laki-laki yang tergantung disana. Atau lebih parahnya teman laki-laki bahkan yang mengangkat jemurannya. Atau mendapati teman laki-laki berada didekatnya, khusyu’ menonton atau bermain game sebaik membuka mata dari tidur siang dikamar. Tambah jengkel saat dia tidak leluasa keluar kamar waktu malam kerana teman laki-laki tidur diruang tamu sedang dia penghidap insomnia kronik. Yang mampu dia lakukan adalah membuka mata dikegelapan kamarnya dan menghadap dinding sambil mendengarkan iPodnya.

Mai tidak suka situasi-situasi itu. Namun dia lemah tanpa daya. Tidak ada sama sekali yang bisa dia lakukan melainkan melakukan pelarian diri dengan lebih banyak bergaul dengan anak-anak kecil dikampung itu. “teman kecilku” itu gelaran yang Mai berikan. Dia lebih rela berjalan mengelilingi kampong bersama mereka diwaktu sore ketimbang berada dalam posko. dia lebih rela kakinya tercalar dek duri-duri belukar dan batu-batu kasar sewaktu memanjat gunung bersama teman kecilnya. Atau bajunya basah kerna meredah sungai atau juga kotor terpalit lumpur sawah. Dia tidak peduli. Yang penting dia jauh dari suasana posko yang melemaskan.

Diposko Mai adalah yang paling malas bicara. Sedikit ditanya, sedikit juga jawabannya. Malah banyak yang ditanya,sedikit juga jawabannya. Apatah lagi jika ada masalahnya atau ada kerunsingannya.. tambah tidak terdengar suara Mai diposko. Bahkan hingga beberapa hari. Tiada mood. Itu saja alasannya. Alasan klasik yang tidak bisa diterima akal.

Hingga suatu hari, Mai dilanda kesedihan yang amat. Masalah keluarga. Masalah yang memang tidak mampu atmanya menanggung beban tersebut. Seperti kebiasaannya, dia tetap diam. Masih tidak mahu menceritakannya kepada orang asing. Itu fikirannya. Cuma airmata yang tidak mampu dibendung dari luluh menyembah bumi. Melewati batas empangan. Dan dia tidak bisa menyembunyikannya. Teman-teman poskonya gawat. Semua teman yang cewek membujuknya supaya mahu sharing/curhat. Namun Mai tetap enggan. Tetap bersikeras dengan pendiriannya. Hingga teman-temannya ikut menangis meski tidak tahu asbab kegalauan hatinya. Teman laki-laki juga tidak tinggal diam. Mundar mandir dibalik pintu kamar. Seakan tindakan mereka itu bakalan meredakan atau mengurangkan beban Mai. Kegusaran menghiasi wajah masing-masing. Tidak ada lagi kedengaran gurau senda atau tawa ceria diposko Tompobulu tersebut. Disusuli dengan penjagaan mereka terhadap Mai yang demam besoknya entah gara-gara terlalu banyak menangis atau memang kerna perubahan cuaca yang mendadak.

Kesungguhan teman-teman posko Mai menjaga dan menghiburnya sepanjang masa sakit dan masa galaunya benar-benar memberi kesan mendalam pada Mai. Baik teman yang perempuan mahupun teman yang laki-laki. Baru dia sadari jika selama ini, dia yang menciptakan tembok tinggi antara dirinya dengan teman-temannya itu. Dia yang tidak mengizinkan hatinya dari mengenali insan-insan berhati mulia tersebut. Mai baru tahu, jika dia berarti sesuatu bagi mereka semua. Dia adalah bagian dari keluarga kecil ini. Terharu saat sebuah sms masuk ke kotak inboxnya, dari salah satu temannya “Milikilah sebuah hati yang tak pernah membenci..Senyuman yang tak pernah pudar..Sebuah sentuhan yang tak pernah menyakiti..dan sebuah persahabatan yang tak pernah berakhir..cepat sembuh”.. air matanya menetes.

Baru Mai sedari adanya Kak Dwi yang perhatiannya selangit ibu tapi lucunya seperti anak SMA, Si Asmiranda yang manja dan sok artis terkenal tanah air, ada Felli yang suka pulang-pulang tapi selalu menghibur dengan ole-olenya, ada Sabrina yang matang dan pintar masak, ada Angqy yang meski suaranya tidak bisa kurang dari volume 10 tapi tetap selalu menceriakan keadaan, ada Wandy yang selalu disiplin masalah kerja, tegas terpercaya tapi enak diajak cerita, ada Amalia yang gifo (gila foto) plus narsis abis, kecuali saat menghadap mi bakso, tiada lagi kisah lain saat itu kecuali baksonya. Ada Rosita yang kalem dan tumpuan utama orang curhat, ada juga bendahara Si Eka yang senantiasa berkira-kira dengan uang yang dikeluarkan tapi selalu menjaga kebajikan anggotanya. Ada Abhe yang tenang, dewasa, penyelesai masalah namun usilnya minta ampun. Ada Kordes berwibawa, Udin yang sabar memimpin rapat meski anak-anak semua pada tidur. Ada Bernard yang lebih penyayang dan lembut terhadap binatang hingga kucing-kucing diposko lebih bondeng (gemuk) dari anggota poskonya. Ada Wirawan yang ringan tulang dan senang membantu terutama pekerjaan kasar hingga semua teman posko tertanya-tanya “keagnya kamu tuh salah masuk jurusan deh!!”.. Tuhan, terima kasih kerana memberikan aku kesempatan ini. Tuhan, terima kasih kerana akhirnya membuka ruang hatiku.

Dari peristiwa yang sederhana itu Mai belajar untuk menerima temannya apa adanya. Baik jelek. Kelebihan dan kekurangan. Mengenali mereka sedalamnya. Mai baru tahu apa artinya kebersamaan. Kekompakan. Kepercayaan. Mai sudah jatuh cinta. Cinta pada teman-temannya yang dia butuh perang fikiran dan perang dalaman jiwanya hampir sebulan untuk rela dengan segalanya. Dari komunikasi, mereka saling melengkapi. Meski dari latar belakang yang cukup beda, pendidikan yang lain pula, mereka saling menyempurnakan. Kunci keberhasilan itu letaknya pada keterbukaan kita untuk menerima orang lain. mendengarkan sebelum menghakimi. Beranggap baik sebelum menjeleki orang lain. Dua bulan itu rupanya tidak lama. Dua bulan itu tidak cukup untuk dia menyatakan betapa dia bersyukur dan berterima kasih pada mereka semua. Ya..dua bulan itu ternyata sebentar sekali!!

Saat mereka baru mulai membaur dalam kebersamaan, perpisahan itu akhirnya mengetuk. Menyentakkan mereka dari lamunan panjang. Namun bagi Mai, kebersamaan mereka di Jeneponto selama 2 bulan dengan pelbagai kisah suka duka, pahit getir yang mereka tempuh bersama bukanlah inti kepada persahabatan melainkan awal kepada perkenalan dan permulaan kepada perjalanan persahabatan itu sendiri. dalam perjalanan ini akan memerlukan lebih banyak toleransi dan saling memahami. Chinguya.. Saranghyeyo!!

___________xx________________________________xx_____________________________________

“Mai”.. jerit Angqy sambil merangkul tubuh Mai dari belakang. Rindu benar dia pada sosok itu.

Serentak, memori KKN nya tertutup dan Mai berpaling, membalas pelukan Angqy dan menjerit namanya. Secara tidak sedar airmatanya tumpah lagi. Air mata bahagia akan pertemuan yang hadir. Orang kata, setelah KKN banyak orang yang akan berubah. Mai akui. Dia salah satunya. Manusia memang akan berubah dan terus berubah. KKN mungkin hanya indikatornya. Berubah dengan belajar lebih banyak tidak masalah sama sekali bagi Mai. Dia senang malah. Bisa menghabiskan hujung minggunya dengan bermalam bersama Asmiranda, atau berlibur dikampungnya, melancong ‘backpacking’ bersama Felli, Amalia, Rosita dan Sabrina, jalan ke Pantai dengan Angqy, berbalas komentar di facebook dengan Abhe dan Udin, menonton bola dengan Wirawan bahkan memasuki bagian/department yang sama dengan Eka atau Bernard. Semua itu membahagiakan. Meski waktunya Cuma tinggal sedikit untuk terus bersama mereka, dia tetap mahu menghargai detik-detik kebersamaan itu…


~cerita ini hanya fiksi.. tidak sepenuhnya benar~

THE END

Selasa, 7 Februari 2012

TENGKUBAN PERAHU

0



Di Jawa Barat tepatnya di Kabupaten Bandung terdapat sebuah tempat rekreasi yang sangat indah yaitu Gunung Tangkuban Perahu. Tangkuban Perahu artinya adalah perahu yang terbalik. Diberi nama seperti karena bentuknya memang menyerupai perahu yang terbalik.

Gunung Tangkuban Parahu atau Gunung Tangkuban Perahu adalah salah satu gunung yang terletak di provinsi Jawa Barat, Indonesia. Sekitar 20 km ke arah utara Kota Bandung, dengan rimbun pohon pinus dan hamparan kebun teh di sekitarnya, gunung Tangkuban Parahu mempunyai ketinggian setinggi 2.084 meter. Bentuk gunung ini adalah Stratovulcano dengan pusat erupsi yang berpindah dari timur ke barat. Jenis batuan yang dikeluarkan melalui letusan kebanyakan adalah lava dan sulfur, mineral yang dikeluarkan adalah sulfur belerang, mineral yang dikeluarkan saat gunung tidak aktif adalah uap belerang. Daerah Gunung Tangkuban Perahu dikelola oleh Perum Perhutanan. Suhu rata-rata hariannya adalah 17oC pada siang hari dan 2 oC pada malam hari.

Gunung Tangkuban Parahu ini termasuk gunung api aktif yang statusnya diawasi terus oleh Direktorat Vulkanologi Indonesia. Beberapa kawahnya masih menunjukkan tanda tanda keaktifan gunung ini. Di antara tanda gunung berapi ini adalah munculnya gas belerang dan sumber-sumber air panas di kaki gunung nya di antaranya adalah di kasawan Ciater, Subang.
Keberadaan gunung ini serta bentuk topografi Bandung yang berupa cekungan dengan bukit dan gunung di setiap sisinya menguatkan teori keberadaan sebuah telaga (kawah) besar yang kini merupakan kawasan Bandung. Diyakini oleh para ahli geologi bahwa kawasan dataran tinggi Bandung dengan ketinggian kurang lebih 709 m di atas permukaan laut merupakan sisa dari letusan gunung api purba yang dikenal sebagai Gunung Sunda dan Gunung Tangkuban Parahu merupakan sisa Gunung Sunda purba yang masih aktif. Fenomena seperti ini dapat dilihat pada Gunung Krakatau di Selat Sunda dan kawasan Ngorongoro di Tanzania, Afrika.

Sehingga legenda Sangkuriang yang merupakan cerita masyarakat kawasan itu diyakini merupakan sebuah dokumentasi masyarakat kawasan Gunung sunda purba terhadap peristiwa pada saat itu.Konon menurut cerita rakyat Parahyangan gunung itu memang merupakan perahu yang terbalik. Berikut ini ceritanya.

Diceritakan bahwa Raja Sungging Perbangkara pergi berburu. Di tengah hutan Sang Raja membuang air seni yang tertampung dalam daun caring (keladi hutan). Seekor babi hutan betina bernama Wayungyang yang tengah bertapa ingin menjadi manusia meminum air seni tadi. Wayungyang hamil dan melahirkan seorang bayi cantik. Bayi cantik itu dibawa ke keraton oleh ayahnya dan diberi nama Dayang Sumbi alias Rarasati.

Dayang Sumbi sangat cantik dan cerdas, banyak para raja yang meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada yang diterima. Akhirnya para raja saling berperang di antara sesamanya. Galau hati Dayang Sumbi melihat kekacauan yang bersumber dari dirinya. Atas permitaannya sendiri Dayang Sumbi mengasingkan diri di sebuah bukit ditemani seekor anjing jantan yaitu Si Tumang. Ketika sedang asyik bertenun, toropong (torak) yang tengah digunakan bertenun kain terjatuh ke bawah. Dayang Sumbi karena merasa malas, terlontar ucapan tanpa dipikir dulu, dia berjanji siapa pun yang mengambilkan torak yang terjatuh bila berjenis kelamin laki-laki, akan dijadikan suaminya. Si Tumang mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang Sumbi.

Dayang Sumbi pun menikahi Si Tumang dan dikaruniai bayi laki-laki yang diberi nama Sangkuriang. Sangkuriang memiliki kekuatan sakti seperti ayahnya. Dalam masa pertumbuhannya, Sangkuring selalu ditemani bermain oleh Si Tumang yang yang dia ketahui hanya sebagai anjing yang setia, bukan sebagai ayahnya. Sangkuriang tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan, gagah perkasa dan sakti.

Pada suatu hari Sangkuriang berburu di dalam hutan disuruhnya Si Tumang untuk mengejar babi betina yang bernama Wayungyang. Karena si Tumang tidak menurut, Sangkuriang marah dan membunuh Si Tumang. Daging Si Tumang oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi, lalu dimasak dan dimakannya. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah Si Tumang, kemarahannya pun memuncak serta merta kepala Sangkuriang dipukul dengan senduk yang terbuat dari tempurung kelapa sehingga luka dan diusirlah Sangkuriang.

Sangkuriang pergi mengembara mengelilingi dunia. Setelah sekian lama berjalan ke arah timur akhirnya sampailah di arah barat lagi dan tanpa sadar telah tiba kembali di tempat Dayang Sumbi, tempat ibunya berada. Sangkuriang tidak mengenal bahwa putri cantik yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi – ibunya, begitu juga sebaliknya. Terjalinlah kisah kasih di antara kedua insan itu. Tanpa sengaja Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkuriang adalah puteranya, dengan tanda luka di kepalanya.

Dayang Sumbi pun berusaha menjelaskan kesalahpahaman hubungan mereka. Walau demikian, Sangkuriang tetap memaksa untuk menikahinya. Dayang Sumbi meminta agar Sangkuriang membuatkan perahu dan telaga (danau) dalam waktu semalam dengan membendung sungai Citarum. Sangkuriang menyanggupinya.

Maka dibuatlah perahu dari sebuah pohon yang tumbuh di arah timur, tunggul/pokok pohon itu berubah menjadi gunung ukit Tanggul. Rantingnya ditumpukkan di sebelah barat dan mejadi Gunung Burangrang. Dengan bantuan para guriang, bendungan pun hampir selesai dikerjakan. Tetapi Dayang Sumbi bermohon kepada Sang Hyang Tunggal agar maksud Sangkuriang tidak terwujud. Dayang Sumbi menebarkan irisan boeh rarang (kain putih hasil tenunannya), ketika itu pula fajar pun merekah di ufuk timur. Sangkuriang menjadi gusar, dipuncak kemarahannya, bendungan yang berada di Sanghyang Tikoro dijebolnya, sumbat aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma menjadi Gunung Manglayang. Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan dengan bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan berubah wujud menjadi Gunung Tangkuban Perahu.

Sangkuriang terus mengejar Dayang Sumbi yang mendadak menghilang di Gunung Putri dan berubah menjadi setangkai unga jaksi. Adapun Sangkuriang setelah sampai di sebuah tempat yang disebut dengan Ujung berung akhirnya menghilang ke alam gaib (ngahiyang).

Sabtu, 4 Februari 2012

SECANGKIR TEH

0



Mana satu minuman kegemaran anda setiap pagi, kopi atau teh. Yang pasti, minuman ini mempunyai penggemarnya yang tersendiri. Ada orang yang berasa tidak bertenaga dan lemah lesu selagi tidak mendapat secawan kopi atau teh. Segar rasanya setelah menghirup secawan kopi atau teh panas. Teh merupakan minuman yang sudah dikenal dengan luas di Indonesia dan di dunia. Minuman berwarna coklat ini umum menjadi minuman penjamu tamu. Aromanya yang harum serta rasanya yang khas membuat minuman ini banyak dikonsumsi. Selain kelebihan tadi, ada banyak zat yang memiliki banyak manfaat yang sangat berguna bagi kesehatan tubuh.
Baru-baru ini berpeluang menginap di Ladang Teh Semungih, Desa Moga, Pemalang, Jawa Timur Indonesia. Meski waktu yang singkat namun sedikit sebanyak menambah ilmu pengetahuan diri tentang teh. Berkenalan lansung dengan dedaun aslinya dan mengetahui proses pembuatannya memandangkan fabrik (kilang) pemprosesannya turut ada disitu.
Manfaat teh antara lain adalah sebagai antioksidan, memperbaiki sel-sel yang rusak, menghaluskan kulit, melangsingkan tubuh, mencegah kanker, mencegah penyakit jantung, mengurangi kolesterol dalam darah, melancarkan sirkulasi darah. Maka, tidak heran bila minuman ini disebut-sebut sebagai minuman kaya manfaat.
Zat dalam Secangkir Teh yang Bermanfaat
Karena itu selain sebagai minuman ringan, teh juga dapat digunakan sebagai terapi untuk kesehatan. Jika kita meminum secangkir teh, maka kita setidaknya tahu apa saja zat terbaik yang ada di dalam secangkir teh yang kita minum. Zat apa saja yang terdapat dalam teh sehingga membuatnya dikenal sebagai minuman kaya manfaat? Berikut ini beberapa zat utama yang bermanfaat yang terdapat di dalam secangkir teh.
Polifenol
Polifenol pada teh berupa katekin dan flavanol. Senyawa ini berfungsi sebagai antioksidan untuk menangkap radikal bebas dalam tubuh juga ampuh mencegah berkembangnya sel kanker dalam tubuh. Radikal bebas ada di tubuh kita karena lingkungan udara yang tercemar polusi dan juga dari makanan yang kita makan.
Vitamin E
Dalam satu cangkir teh mengandung vitamin E sebanyak sekitar 100-200 IU yang merupakan kebutuhan satu hari bagi tubuh manusia. Jumlah ini berfungsi menjaga kesehatan jantung dan membuat kulit menjadi halus.
Vitamin C
Vitamin ini berfungsi sebagai imunitas atau daya tahan bagi tubuh manusia. Selain itu vitamin C juga berfungsi sebagai antioksidan yang diperlukan untuk ketahanan tubuh manusia terhadap penyakit.
Vitamin A
Vitamin A yang ada pada teh berbentuk betakaroten merupakan vitamin yang diperlukan tubuh dapat tercukupi.
Jenis Teh
Zat-zat yang terdapat dalam teh sangat mudah teroksidasi. Bila daun teh terkena sinar matahari, maka proses oksidasi pun terjadi. Adapun jenis teh yang umumnya dikenal dalam masyarakat adalah teh hijau, teh Oolong (misalnya teh Jawa Oolung/Ulung), teh hitam dan teh putih. Teh hijau memiliki kandungan yang paling baik karena dalam proses pembuatannya, teh jenis ini tidak dikeringkan dengan menggunakan sinar matahari tetapi menggunakan teknik pengeringan secara khusus. Sedangkan teh jenis lainnya diproses dengan cara fermentasi.
Zat dalam Teh yang Kurang Baik
Selain manfaat teh, ada juga zat yang terkandung dalam teh yang berakibat kurang baik untuk tubuh. Zat itu adalah kafein. Kafein pada teh (tehine) dapat menyebabkan proses penyerapan makanan menjadi terhambat. Batas aman untuk mengkonsumsi kafein dalam sehari adalah 750 mg/hari atau setara dengan 5 cangkir teh berukuran 200 ml.
Patut Dihindari saat Minum Teh
Ada pula yang harus Anda perhatikan saat Anda minum teh agar zat yang berguna dalam tubuh tidak hilang, antara lain:
Jangan minum teh saat atau sesudah makan kerena zat yang terkandung dalam makanan dapat dicuri oleh zat stimulan teh.
Jangan minum teh saat perut kosong sebab dapat meningkatkan produksi asam lambung.
Hindari minum teh dicampur dengan gula karena menyebabkan zat-zat yang dikandungnya menjadi berkurang.
Jangan minum teh yang sudah semalaman karena sudah banyak zat nya yang teroksidasi dan basi sehingga berdampak tidak baik untuk tubuh.
Hindari minum teh saat hamil dan menyusui. Karena kafein dan zat stimulan pada teh bisa merangsang kontraksi rahim. Selain itu untuk ibu menyusui akan mengganggu produksi kelenjar penghasil susu ibu atau ASI.
Cara Menyeduh Teh
Yang tidak kalah dalam proses pembuatannya adalah cara menyeduh teh. Untuk menghindari kesalahan saat menyeduh teh, Anda harus memperhatikan cara menyeduh teh apakah sudah benar atau belum. Karena kesalahan ini dapat menyebabkan teh tidak memberikan manfaat bagi orang yang meminumnya. Untuk menyeduh teh, gunakan air mendidih bersuhu 80 derajat, jangan menggunakan air dengan yang suhunya lebih tinggi dari 80 derajat karena dapat membuat kita kehilangan manfaat dari teh.
Selain itu, teh bisa dicampur dengan susu. Teh yang dicampur susu atau sering dikenal teh susu bisa mengurangi efek stimulan dari teh karena kalsium susu akan mengikat zat-zat stimulan pada teh.
Cara lain lagi adalah menambahkan lemon yang sering kita kenal dengan sebutan Lemon Tea. Lemon akan memberikan perlindungan bagi pencernaan, karena asam sitrat dalam lemon mencegah timbulnya kerak pada dinding usus.
Di seluruh dunia terdapat banyak sekali cara orang minum teh. Di Inggris, anggota Kerajaan Inggris memiliki kebiasaan minum secangkir teh setiap sore. Di belahan dunia lainnya kebiasaan minum teh juga dilakukan. Semua tergantung Anda dan kebiasaan di budaya Anda. Namun jangan lupa memperhatikan beberapa petunjuk yang telah disebutkan di atas saat meminum teh. Selamat menikmati secangkir teh!

Jumaat, 3 Februari 2012

18 HOURS

0


Tiba di Bandar Udara (Airport) Sukarno Hatta, Jakarta kira-kira 16.30 petang (sore). Dari Jakarta lansung berangkat ke Pemalang. Kata temanku, perjalanan dari Jakarta ke Pemalang mengambil masa 1 hari penuh jika menaiki kereta api atau lebih setengah hari jika menaiki kenderaan darat lainnya. Kerana perjalanan adalah dari barat ke timur. Sementara diri dan rombongan akan menaiki bas (bis) menuju ke Pemalang. Wah jarak 9 jam perjalanan yang sangat jauh dan sukar buat penderita “chronic motion sickness” seperti diri ini.

2 jam dibas. Mulai keringat dingin. Padahal sudah makan obat antimuntah yang diberikan ayah dari rumah. Memang bukan obat yang biasanya diri makan (kosumsi) sewaktu berjalan jauh (travel) sewaktu di Makassar, dimetylhidranate. Sepertinya tidak mapan. Ayah sudah tertidur kepenatan. Ummi juga. Tidak sanggup membangunkan mereka. Sensasi mual semakin menggeletek esophagus. Luar biasa. Sambil mengulum gula-gula(mengemut permen), tangan menaip (mengetik) sms. Sengaja mencari kesibukan untuk mengalihkan focus otak dari terus bertumpu pada rasa mual yang merajai. Shivering. Pertama kalinya motion sickness hingga menggigil seperti ini. Masih harus sabar. Masih harus bertahan. Semoga pusat muntah belum teransang untuk bekerja. Hal yang horror untuk dipikirkan sebenarnya..semoga tidak!! Kasihan temanku terpaksa melayani dir isms tidak penting. Hmm..

Dalam kondisi putus harap tersebut, dalam keadaan lemah tanpa daya, tiba-tiba bas membelok ke kawasan istirehat (R&R) di kilometer 19 Jalan Tol Timur Jakarta.alhamdulillah, Ya Allah!! MAUNAH!! Bantuan dari Allah yang Maha Mengerti di saat yang paling tepat. Segera turun dan membasuh muka di kamar kecil. Agak segar. Gigilan sudah agak berhenti. Gelora mual, berkurang ambangnya. Aduh, benar-benar sebuah penyiksaan yang mendera.

Makan malam bersama Prof.Agus, Rektor ISPN Jakarta (salah seorang penganjur program). Soto betawi yang sangat enak menjamah rongga lambung yang memang kosong sejak pagi. Alhamdulillah meski sama sekali hilang selera untuk makan lantaran rasa mual yang masih mengganjal di tenggorokan (tekak) dan kegusaran bahawa ransangan makanan kemudian nanti akan mempercepat teransangnya pusat muntah untuk bekerja. Setelah makan, diri segera mencari obat yang biasa digunakan sewaktu di Makassar atas saran teman. Dari satu toko ke toko yang lain. Tidak ada. Dari satu bangunan ke bangunan yang lain. Tetap tidak ada. Tidak terbayangkan bagaimana untuk menempuh 7 jam ke depan tanpa perisai ampuh tersebut.
Dalam keputusasaan tersebut, hanya pengharapan pada Allah menjadi azimat sakti. Bahwa Allah yang Maha Mengetahui tidak akan menelantarkan hambaNya. Jika memang diri tidak berjaya mendapatkan obat tersebut berarti Allah sedang member tarbiyah yang harusnya mampu untuk tubuh lemah ini hadapi. Walk slowly. Go beyond the limit. Dalam perjalanan menuju ke bas, datang penjaja jalan dengan bakulnya sambil menawari “ada yang maw obat antimuntah?” Wah, miracle!! Diri segera berpaling dan melihat… Dimenhydrinate!! Obat dalam kemasan kelabu (abu-abu) dengan lukisan kereta, mobil, motor dan sebagainya. Malaikat Penyelamatku!! Terima kasih Ya Allah!! Ternyata Allah hanya menguji diri sebentar. Lansung diberikannya solusi. Alhamdulillah..

Perjalanan malamnya walau masih sering terjaga tapi lebih baik dari yang dijangkakan. Pejam celik..pejam celik.. masih belum sampai. Sudah lewat 12 jam. Di Tegar. Masih jauh dari Pemalang. Efek dimenhydrinate makin menghilang. Ragu untuk makan lagi satu. Temanku agak-agak tidak menggalakkan terlalu banyak mengambil obat atu menggandakan dosis obat. MasyaAllah, harus bertahan..

Jam 08.30 am. Kami tiba di sebuah masjid Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) yang turut menjadi salah satu penganjur program ini. Alhamdulillah. Selesai menikmati makan pagi yang enak disediakan oleh panitia, kami sempat berfoto-foto sementara menunggu arahan selanjutnya dari ketua program. Wah ternyata, kami harus meneruskan lagi perjalanan ke tempat program yang berjarak 2-3 jam ke desa Moga yang terletak dikawasan bukit. Waduh, parah.. tidak sanggup lagi rasanya kembali ke bas dan meneruskan perjalanan ini. Namun itulah. Kebaikan butuh pengorbanan dan pembuktian. Ini juga bagian dari siri perjuangan itu sendiri. SEMANGAT MAHFUZAH!! Yakin boleh.

Perjalanan lanjut. Tiba di Desa Moga jam 11.00 pagi. Di Panti Asuhan Darul Aitam. Alhamdulillah.. akhirnya, perjuangan tuntas.. . Disambut oleh anak-anak SD (sekolah rendah) yang menggemaskan, menghilangkan sedikit kepenatan (kecape’an) di jalan. Senyuman mereka melonggarkan wajah ketat rombongan.18 jam dibas. (9 jam perjalanan normal Jakarta-Pemalang) namun gara-gara jammed (macet), alhasil 18 jam perjalanan yang kami tempuh. Benar-benar sebuah tarbiyah yang luar biasa. Bukan hanya bagi diri yang berpenyakit “motion sickness” tapi juga buat makcik-makcik (tante2) yang turut serta dalam program ini yang kuat bertahan. Padahal jika kita maklumi, diusia mereka, pelbagai penyakit sendi, otot dan tulang menyerang apalagi terpaksa berhotelkan kerusi-kerusi bas yang kecil dan terkotak katik bersama irama bas..

Rabu, 1 Februari 2012

AT LIFE'S CROSSROADS

0


~The path to my future seemed set – then 30 minutes changed everything
By FAISAL WASIM ISMAIL~


In 1989, fresh out of school, I had the intimidating task of choosing a career path before college started in three months. In those days in Pakistan, there were limited options: become a doctor or an engineer, or enter the corporate world after getting a business degree. I wasn’t interested in engineering, so that left medicine or business. I couldn’t decide.

My uncle, one of the elders in the family, suggested that I do a work placement to gain experience for a month in a multinational company followed by a month in a hospital. After that, I could make a decision. It seemed like a brilliant idea.

I was accepted for a month’s observatory placement at a foreign bank in Karachi. I tagged along with the sales and marketing people, and got a feel for how the world of finance functioned. I liked the professionalism, made new friends, and generally enjoyed the mostly easy-going work surroundings.

The month passed rapidly, and soon I began my stint at a leading hospital in Karachi. The experience couldn’t have been more different. The hospital had an intense environment, with the buzz in the wards contrasting with the eerie silence of the intensive care unit. The doctors were in a constant rush.

The days started early (at 7 am, compared to 9 am at the bank), and were filled with attending rounds, watching blood samples being taken, and rushing around with the team to the ward, intensive care and clinics. It seemed that everyone was always busy, that there was always work to do be done.

While I saw a good number of patients getting well and being discharged, I also witnessed a 16-year-old die. The family’s grief was difficult to handle.

And the night duties! Also known as night calls, they were essentially a 36-hour shift. This was insane, working all day, through the night, and again the next day.

I began thinking about my two experiences. The bank had offered a more relaxed atmosphere, better working hours and less stress. The hospital was full of excitement, and unpredictability, but the studying and training was tough. It seemed that the business option was going to win out.

Near the end of my month at the hospital, I was driving home after a particularly hectic night call. In front of me was a public bus, with college students sitting on the roof, clinging to a small metal railing. As the driver weaved through traffic, I could see the boys shaking from side to side.

Suddenly, a boy tumbled off the back of the bus. He hit the road face down, bounced once, and rolled over. He lay motionless in the middle of the road as the bus sped away.

The cars directly behind the bus braked to avoid the boy, but none stopped. Part of me understood – if he died, it would mean police involvement and unnecessary problems. In fact, I felt the same urge to keep going, but the urge to stop and help was stronger. I knew that if the boy was bleeding into his brain, he could die in a matter of minutes. He had to get to hospital quickly.

I stopped my car and carefully examined the boy, who appeared to be about 20. His face was covered in blood – he had a large gash on his forehead and another above his right ear. There didn’t seem to be any other injuries. I tried to apply pressure to the cuts to stem the bleeding but to no avail. With the help of some bystanders, I lifted his unconscious body into the back seat of my car.

I asked a couple of men to accompany me, but they shrank away from further involvement. I jumped in the car and raced back to the hospital. On reaching the emergency entrance, I shouted, “Head injury!” Paramedical staff whisked the boy into the emergency room, while I gave a quick history to the on-call doctor.

After a preliminary examination, the doctors determined that he was most likely bleeding into his brain. His family was contacted, and he was wheeled into emergency surgery. Since I wasn’t allowed into the operating room, I drove home, exhausted and troubled, the blood on my back seat serving as a reminder of my harrowing experience.

The next day, I went to the operating room to find out what had happened. A surgical aide said that a blood vessel had ruptured in the boy’s skull. The clot had been removed, the bleeding stopped, and the boy was recovering in the ward.

After learning that his name was Asif, I went to see him. His head was in a bandage, and there was excessive swelling around his eyes, but he was conscious. Asif’s parents, grandmother, brothers and sisters were sitting around his bed. The doctor introduced me as the “person who saved your son’s life”.

Everyone got up, with grateful smiles on their faces. The mother held my hands to her face and started weeping. “Son, you are an angel,” she repeated over and over in Urdu. After consoling her, I went over to Asif. He managed to smile and squeeze my hand. No words were spoken between us – none were needed.

What a feeling this was, to help save the life of another person! I spent the rest of the day in a state of exhilaration, the most fabulous mood I had ever experienced. Driving home that evening, I knew what I wanted to do for the rest of my life. Two months of placements could not do what 30 minutes helping an accident victim had done for me.

I enrolled in college for my medical studies and am now an assistant professor and practise as a specialist gastroenterologist in Karachi. I never saw Asif again, but I was told that he made a complete recovery.

We spend a lot of our time wondering about what path to take in our lives. This experience taught me that sometimes, you don’t really have to worry about the big decisions. At times, these decisions are made for you – and that whatever happens is always for the best.

Isnin, 30 Januari 2012

HOLIDAY ATTACHMENT

2



Alhamdulillah setelah mengharungi ujian yang maha berat untuk pulang ke kampong halaman, akhirnya berjaya juga pulang. Adat hari kerja, pasti ummi dan Ijah ke sekolah menjalani rutinitas harian. Sementara diri, akan menjalani rutinitas baru. Attachment di klinik ayah.

Walau sebelumnya telah lama berhajat, namun kali ini baru benar-benar serius untuk menjalaninya. Maklum setelah menjalani co-ass (co-assistant) di Unhas, lebih curious pula untuk melihat sendiri penyakit-penyakit yang paling banyak menghinggapi masyarakat di tanah air.
Hari pertama, seperti kebiasaannya di Poliklinik sewaktu di Makassar, diri akan berdiri disamping dokter (ayahku) sambil memerhati pesakit yang datang. Tak menang mulut ayah dibuatnya untuk memperkenalkan diri sebagai medical student @ anaknya. Hihi..mungkin kerna klinik private, makanya kerahsiaan si pesakit lebih menjadi keutamaan.

Pagi ini banyak betul pesakit ayah yang datang. Kata ayah, biasanya jika pagi kurang pesakit. Tapi hari ini, tidak sempat rehat dibuatnya ayah. [alamak, tiba-tiba terdetik, jangan sampai kerna aura “pemanggil”ku, seperti kata Anki,temanku sewaktu posting pediatric, “Fuzah tuh, aura pemanggilnya ampunma”, waduh kok bias yach jadinya pemanggil keras..hehehe].. Berbalik pada cerita tadi, banyak penyakit yang bisa diri pelajari secara umum. Dari URTI (upper respiratory tract infection atau bahasa Indonesianya ISPA, infeksi saluran napas atas), gangguan gastrointestinal, AGE (acute gastroenteritis atau bahasa indonesianya GEA, gastroenteritis akut), penyakit kulit, psoriasis, dermatitis corporis, allergy conjunctivitis, neuropathy DM, hypertension etc. penyakit-penyakit pediatric juga didapat seperti Herpes Zoster, diaper rash dsb. Kebanyakan ilmu penyakit dalam yang paling berguna di sini.

Meski penyakit yang sama (itu ituji), tapi tetap penanganannya sedikit berbeda. Kalau waktu dipoli, untuk diarrhea, pasti dikasikan zink, dan oralit, disini ayah menggunakan modim dan hyamide. Hmm, nampaknya diri harus lebih terbiasa dengan adaptasi ubat-ubatan nantinya. Sudah memang agak lemah dengan ubat..

Ada lagi bedanya, jika di poliklinik interna di Makassar, secepat-cepatnya mahu diselesaikan pasien yang datang, ayah lebih mengambil waktu bersama dengan pesakit. Hamper semua pesakitnya dikenali dengan baik sampai keluarganya yang lain. Biar yang namanya seorang terdaftar, nanti yang diperiksa didalam hamper 1 keluarga..hihi.. kata ayah, hubungan yang baik dengan pesakit juga membuatkan pesakit amat selesa untuk dirawat oleh kita.

Sempat mengikut ayah housecall (pesakit yang memanggil dokter ke rumah). Menaiki mobilnya pasien yang menjemput, wah benar-benar merasa seperti tugas didaerah..keren.. rumahnya pesakit letaknya di pedalaman kampung. Disela-sela hijaunya sawah yang bendang. Kata ayah, pesakit tersebut sudah biasa (regular customer), sambil bercerita dengan suami pesakit yang menjemput, ayah kemudian tertidur. Kemudian atuk (kakek) itu berkata “memang begitu dokter, biasa sampai dirumah nanti baru saya kejutkan.. letih sangat kerja..hihi”.. wah saking biasanya dengan ayah, hingga suami pesakitnya juga tahu kalau ayah akan tertidur kalau tidak ada yang dikerja. Sampai dirumahnya pesakit, kelihatan nenek-nenek yang berusia separuh abad sedang terlantar dipojok rumah. Kelihatan lemah, tangannya bengkak (osteoarthritis kronik). Ayah sempat menjelaskan sedikit sebanyak kondisi nenek tersebut yang Cuma mampu terlantar gara-gara jatuh beberapa bulan yang lalu (epiphysis fracture of femur/head of femur). Nenek itu mesra sekali biar pertama kali bertemu dengan diri.. siap menceritakan itu ini. Ramah benar orangnya. Setelah selesai ayah memeriksa dan menyuntik nenek tadi, kami kembali ke klinik. Melewati sawah bendang yang terbentang benar-benar menggugah kenangan di Jeneponto dulu.. bersama teman kecilku yang mungil dan bersahabat.

;Setengah hari menjadi pemerhati amat memberikan pengalaman yang cukup bernilai. Paling-paling mendengar cara pesakit disini menyampaikan keluhannya. Wah, sepertinya lebih mudah bahasa Makassar difahami berbanding bahasa Kelantan. [soalnya saya mulai kehidupan klinis di Makassar, mendengar keluhannya orang Bugis-Makassar] huhu.. tapi yah insyaAllah, hal teknikal seperti itu hanya perlukan lebih banyak latihan dan kepercayaan diri.. ^_^