I need a break. Really. Sepertinya sudah menua dalam siklus
tanpa koma ini. Terperangkap dalam labirin tanpa pintu. Tekanannya maha berat. Seakan
terhanyut dalam arusnya.. benar-benar
butuh jeda. Ingin sekali berlari-lari dengan kaki telanjang di atas pepasir
pantai yang memutih. Menyentuh gigi air dan merasai desir ombak yang menghentam
cadas. Langit biru yang menaungi sang pantai.indahnya… namun kesibukan ini
membuat aku sesak. Patut Rasulullah SAW berpesan untuk menghargai waktu lapang
sebelum datang waktu sibuk.
Kerna tugas di RS Haji yang posisinya lebih dekat dengan
labuang Baji, atau sewaktu bertugas di RS Labuang Baji sendiri, masih
menyempatkan diri untuk mampir di
tempatnya Ayhu Syahrir. Adiknya Irfan yang sudah kuanggap seperti adik sendiri.
apalagi diri dan Ayhu terhubung juga dengan Ulfa. Dulu sebelum Ayhu kuliyah di
Makassar pernah menjanjikan untuk keluar jalan bersama anak itu. Baru sekarang
berkesempatan membawa Ayhu keluar berjalan-jalan sambil makan-makan. Benarlah yang
paling penting itu bukan seberapa lama kita ketemu tapi memanfaatkan pertemuan
itu untuk menghidupkan sang waktu.
Sempat juga ketemu dengan Ulfa dan keluar jalan sambil
foto-foto. Aktivitas rutin kalau dengan Ulfa. Dan ke danau. Meski diri harusnya
bedrest total gara-gara sakit yang memanjat, namun refresh bersama Ulfa
ternyata lebih efektif berbanding bedrest totaol dirumah. Mungkin begitulah hidup
yang singkat ini dijalani. Banyak bertukar cerita dengan Ulfa. Dari masalah
perkuliyahannya hingga masalah kesehariannya. Organisasi dan pertemanannya. Kata
orang banyakkan belajar dari pengalamanmu dan pengalaman orang lain. Ulfa yang
cerewet ini selalu saja bisa menghiburkan saat terberat seperti ini. Sama halnya
Winda yang ceria dan banyak cerita itu.. jadi kangen Winda T_T
Sewaktu diri bertugas di RS Gowa, kak Murni sempat pulang kerna
hal keluarga. Alhamdulillah kak Murni gak lansung pulang hari minggunya tapi menyempatkan
diri selama seminggu lagi di Makassar. Hampir saja tidak sempat bertemu dengan
Kak Murni. Tapi Tuhan selalu punya jalan sendiri. sebelum Kak Murni kembali ke
Kalimantan, sempat juga ketemu sama kakak.. Cuma berjalan-jalan dan duduk
bersama. Kak Murni sepanjang itu menggenggam tanganku dan kami hanya
menghabiskan waktu bersama melihat-lihat barang disana. Meski begitu sudah
cukup bermakna. Jalan bertiga sama kak Murni dan Kak Fahmi selalu saja
mengundang rasa rindu pada kakakku Along dan Abang long..tidak sempat berfoto
di Fotobox padahal Kak Murni mahu sekali.. makan bersama di Mie Titi jam 22.00
malam sangat luar biasa.
Satu hari nanti, saat diri kembali ke tanah air, pasti akan
merindui momen-momen ini. Orang-orang ini. Ya Makassar yang punya banyak orang
baik dan disayangi. Ada adik.. ada kakak.. ada teman. Mereka adalah keluarga. Keluarga
yang akan kurindui satu hari nanti. Selalu bila di rumah sakit, orang-orang
pada hairan kenapa bisa diri punya teman dari UNM. Kenapa bisa berteman dengan
orang dari umur yang bervariasi. Ya itulah keluasan ukhuwah yang tidak terbatas
dengan hanya persamaan profesi, usia, waktu dsb..










0 ulasan:
Catat Ulasan