MINGGU 8. Pindah ke Rumah Sakit Umum Daerah Syeikh Yusuf,
Gowa. Another great experience. Selalu saja ada perasaan yang baik dan
membahagiakan saat bertugas di rumah sakit Luar Kota. Cuma mungkin awal
ceritanya yang agak menegangkan. Diri harus ijin terlambat ke sana kerna ada
program HIMEGA 13 yang harus diri hadiri. Menyempatkan waktu meraikan makcik
dan pakcik yang datang jauh dari Malaysia, diri berangkat ke RSUD Gowa setelah
Magrib.
Banyak sekali pengalaman tak terlupakan di stase ini. Apalagi
pengalaman kritis merujuk pasien. Dan juga melakukan kuret.
Hari pertama. Sudah ada pasien yang harus dirujuk ke RS tipe
B yaitu RS Labuang Baji. Masih malam. Jas koass ketinggalan dirumah gara-gara kalut. Untung ada koass anak yang bisa
dipinjamin jasnya. Pasien yang mahu dirujuk adalah pasien dengan diagnosis G2P1A0
gravid aterm + preeclampsia berat + post SC 1x. ibu baru berusia 21 tahun. Saat
ini, ibu sudah memasuki fase aktif dengan pembukaan 6.
Berangkat ke RS Labuang Baji menaiki ambulance. Yang sangat
menakjubkan itu adalah saat menaiki ambulance, seluruh keluarga pasien juga
ikut disana. Berserta barang-barangnya juga. Subhanallah seperti dalam kaleng sardine.
Diri dan seorang bicil (bidan cilik) harus siaga dibelakang untuk tetap
memastikan kondisi ibu dan janinnya dalam keadaan baik. Supir ambulance yang
baik hati lagi tidak sombong itu tersalah memilih jalan yang penuh pancaroba
membuatkan kami benar-benar dalam kondisi “Ikan Kaleng”.. untuk memeriksa
denyut jantung bayi pada saat begini adalah sangat tidak memungkinkan.
Tiba di RS Labuang Baji. Ternyata kamar bersalinnya (VK)
berada jauh di belakang. Kami harus merentas UGD lorong-lorong sempit hingga
bangsal baji-baji untuk tiba di VK. Sesuatu banget deh.. tiba disana, dokter
melakukan pemeriksaan dalam vagina. Pembukaan 8. Dokter tetap saja tidak berani
untuk membiarkan kelahiran pervaginam gara-gara ada riwayat “Post-SC 1x 3 tahun
yang lalu”. Untuk melakukan SC, ternyata mereka tidak punya baju OK yang cukup.
Pasien dirujuk lagi ke RS Wahidin. RS tipe A di Makassar. Sebelum berangkat,
dokter memberikan diri handscone, dan partus set. Kemudian beliau berkata: “kalo
pasiennya partus dijalan, kamu bantu aja. Tapi sebolehnya tahan hingga sampai
di WS yah.. good luck!” wah debarannya makin terasa.
Sepanjang perjalanan ke WS sangat mendebarkan. Banyak pikiran
“bagaimana kalau…” “jika begini, saya apakan?” “bagaimana jika…” dan Tuhan
telah merencanakan semuanya. 10 menit sebelum tiba dirumah sakit WS, ibu ingin
mengedan. Kekuatan hisnya juga bagus. Terpaksa berkata pada bicil untuk bersiap
untuk sebarang kemungkinan. Inilah tanggungjawab. Semaksimalnya saja yang kita
bisa lakukan. Tapi akhirnya Alhamdulillah sempat tiba di WS. Dan tim medis
disana juga sudah siaga dengan segala kemungkinan. Pasien langsung saja
didorong ke kamar operasi.
Pengalaman kuret lain lagi. Belajar dari persiapannya,
hingga premedikasi dan cara melakukannya dilapangan. Pertama kali
melakukannya sendiri cukup mendebarkan. Namun selalu dokter akan memeriksa
ulang untuk memastikan bahwa rahim sang ibu
benar-benar sudah bersih. Disitu kami diberi kesempatan untuk merasai
bagaimana sensasi rahim yang sudah bersih. Meski kelihatan agak sederhana,
namun banyak hal yang harus diberi perhatian.
Kuret
atau kuretase merupakan tindakan medis untuk mengeluarkan jaringan atau sisa
jaringan dari dalam rahim dengan fungsi diagnostik atau terapetik. Jaringan
bisa berupa janin yang mengalami abortus, endometriosis, atau sisa plasenta
yang tertinggal seusai persalinan. Kuret perlu dilakukan supaya rahim bersih
dari jaringan yang tidak semestinya berada bahkan tumbuh di dalamnya. Jika
tidak dibersihkan, akan memunculkan gangguan seperti nyeri dan perdarahan.
Kuret sebagai diagnostik suatu penyakit rahim. Ini bertujuan untuk mengambil sedikit jaringan lapis lendir rahim, sehingga dapat diketahui penyebab dari perdarahan abnormal yang terjadi. Misalnya:
- Pendarahan pervaginam yang tidak teratur
- Pendarahan hebat
- Kecurigaan akan kanker endometriosis atau kanker rahim
- Infeksi rahim
- Pemeriksaan kesuburan/ infertilitas
Kuret sebagai terapi, bertujuan menghentikan perdarahan yang terjadi pada keguguran kehamilan dengan cara mengeluarkan hasil kehamilan yang telah gagal berkembang; menghentikan perdarahan akibat mioma dan polip dengan cara mengambil mioma dan polip dari dalam rongga rahim; menghentikan perdarahan akibat gangguan hormon dengan cara mengeluarkan lapisan dalam rahim. Misalnya:
- Kasus keguguran
- Tertinggalnya sisa jaringan plasenta (ari-ari), atau sisa jaringan janin di dalam rahim setelah proses persalinan
- Hamil anggur
- Menghilangkan polip rahim
Prosedur Kuret
Prosedurnya sama antara kuret karena keguguran maupun non keguguran.
1. Persiapan sebelum kuret
Puasa. Saat akan menjalani kuret, biasanya Moms harus mempersiapkan diri. Misal, berpuasa 8 jam sebelumnya agar perut dalam keadaan kosong sehingga kuret bisa dilakukan dengan maksimal.
Cek adanya perdarahan. Dokter akan melakukan cek darah untuk mengetahui apakah pasien mengalami gangguan perdarahan atau tidak. Jika ada indikasi gangguan perdarahan, kuret akan ditunda sampai masalah perdarahan teratasi. Namun tak menutup kemungkinan kuret segera dilakukan untuk kebaikan pasien.
Persiapan psikologis. Seperti halnya persalinan normal, sakit tidaknya kuret sangat individual. Sehingga, kesiapan Moms sangat berperan dalam menentukan hal ini. Bila Moms sudah ketakutan bahkan syok lebih dulu sebelum kuret, munculnya rasa sakit sangat mungkin terjadi. Sebab rasa takut akan menambah kuat rasa sakit. Usahakan menenangkan diri untuk mengatasi rasa takut, pahami bahwa kuret adalah jalan yang terbaik untuk mengatasi masalah yang ada.
Minta penjelasan dokter selengkap-lengkapnya, mulai apa itu kuret, alasan kenapa harus dikuret, persiapan yang harus dilakukan, hingga masalah atau risiko yang mungkin timbul.
Sebelum dilakukan kuret, biasanya pasien akan diberikan obat anestesi (bius). Ketika melakukan kuret, ada 2 pilihan alat bantu. Pertama, sendok kuret dan kanula/selang. Sendok kuret biasanya dipilih oleh dokter untuk mengeluarkan janin yang usianya lebih dari 8 minggu karena pembersihannya bisa lebih maksimal. Sedangkan sendok kanula lebih dipilih untuk mengeluarkan janin yang berusia di bawah 8 minggu, sisa plasenta, atau kasus endometrium.
Perawatan usai kuretase umumnya sama dengan operasi-operasi lain. Moms harus menjaga bekas operasi dengan baik, tidak melakukan aktivitas yang terlalu berat, tidak melakukan hubungan intim untuk jangka waktu tertentu sampai keluhannya benar-benar hilang, dan meminum obat secara teratur.
Jika ternyata muncul keluhan, sakit yang terus berkepanjangan atau muncul perdarahan, segera periksakan diri ke dokter. Mungkin perlu dilakukan tindakan kuret yang kedua karena bisa saja ada sisa jaringan yang tertinggal. Jika keluhan tak muncul, biasanya kuret berjalan dengan baik dan pasien tinggal menunggu kesembuhan.
Dampak Kuret
- Perdarahan. Ini dikhawatirkan terjadi jika jaringan tidak diambil dengan bersih. Untuk itu jaringan harus diambil dengan bersih dan tidak boleh tersisa sedikit pun. Bila ada sisa kemudian terjadi perdarahan, maka kuret kedua harus segera dilakukan. Biasanya hal ini terjadi pada kasus jaringan yang sudah membatu.
- Cerukan di dinding rahim. Pengerokan jaringan pun harus tepat sasaran, jangan sampai meninggalkan cerukan di dinding rahim. Karena dikhawatirkan akan mengganggu kesehatan rahim.
- Infeksi. Jika jaringan tersisa di dalam rahim, muncul luka, cerukan, dikhawatirkan bisa memicu terjadinya infeksi. Sebab, kuman senang sekali dengan daerah-daerah yang basah oleh cairan seperti darah.
- Perlekatan bagian dalam rahim.
- Masih terdapat jaringan tersisa.
Masih Bisa Hamil Kembali
Bila ada yang bilang usai kuret tak bisa hamil lagi itu keliru. Penyebab sulit hamil, mungkin ada masalah dengan organ reproduksi atau masalah kesuburan. Setelah menjalani kuret, Moms tetap bisa hamil dan memiliki anak lagi. Asal kondisi organ reproduksinya baik, ditambah dengan masa subur yang tidak bermasalah.
Namun, seusai kuret Moms dianjurkan untuk mengistirahatkan rahim sampai benar-benar sehat dan siap hamil. Khususnya bila kuret dilakukan pada saat kondisi hamil tua karena kondisi uterus sudah membesar sehingga perlu istirahat. Namun bila kuret dilakukan pada saat kehamilan masih muda (batasannya hingga 20 minggu) kehamilan bisa dilakukan lebih cepat jika Moms sudah merasa siap.







0 ulasan:
Catat Ulasan