Skinpress Rss

Isnin, 1 April 2013

CURRATAGE & THE AMBULANCE STORY

0



MINGGU 8. Pindah ke Rumah Sakit Umum Daerah Syeikh Yusuf, Gowa. Another great experience. Selalu saja ada perasaan yang baik dan membahagiakan saat bertugas di rumah sakit Luar Kota. Cuma mungkin awal ceritanya yang agak menegangkan. Diri harus ijin terlambat ke sana kerna ada program HIMEGA 13 yang harus diri hadiri. Menyempatkan waktu meraikan makcik dan pakcik yang datang jauh dari Malaysia, diri berangkat ke RSUD Gowa setelah Magrib.

Banyak sekali pengalaman tak terlupakan di stase ini. Apalagi pengalaman kritis merujuk pasien. Dan juga melakukan kuret.

Hari pertama. Sudah ada pasien yang harus dirujuk ke RS tipe B yaitu RS Labuang Baji. Masih malam. Jas koass ketinggalan dirumah gara-gara  kalut. Untung ada koass anak yang bisa dipinjamin jasnya. Pasien yang mahu dirujuk adalah pasien dengan diagnosis G2P1A0 gravid aterm + preeclampsia berat + post SC 1x. ibu baru berusia 21 tahun. Saat ini, ibu sudah memasuki fase aktif dengan pembukaan 6.

Berangkat ke RS Labuang Baji menaiki ambulance. Yang sangat menakjubkan itu adalah saat menaiki ambulance, seluruh keluarga pasien juga ikut disana. Berserta barang-barangnya juga. Subhanallah seperti dalam kaleng sardine. Diri dan seorang bicil (bidan cilik) harus siaga dibelakang untuk tetap memastikan kondisi ibu dan janinnya dalam keadaan baik. Supir ambulance yang baik hati lagi tidak sombong itu tersalah memilih jalan yang penuh pancaroba membuatkan kami benar-benar dalam kondisi “Ikan Kaleng”.. untuk memeriksa denyut jantung bayi pada saat begini adalah sangat tidak memungkinkan.

Tiba di RS Labuang Baji. Ternyata kamar bersalinnya (VK) berada jauh di belakang. Kami harus merentas UGD lorong-lorong sempit hingga bangsal baji-baji untuk tiba di VK. Sesuatu banget deh.. tiba disana, dokter melakukan pemeriksaan dalam vagina. Pembukaan 8. Dokter tetap saja tidak berani untuk membiarkan kelahiran pervaginam gara-gara ada riwayat “Post-SC 1x 3 tahun yang lalu”. Untuk melakukan SC, ternyata mereka tidak punya baju OK yang cukup. Pasien dirujuk lagi ke RS Wahidin. RS tipe A di Makassar. Sebelum berangkat, dokter memberikan diri handscone, dan partus set. Kemudian beliau berkata: “kalo pasiennya partus dijalan, kamu bantu aja. Tapi sebolehnya tahan hingga sampai di WS yah.. good luck!” wah debarannya makin terasa.

Sepanjang perjalanan ke WS sangat mendebarkan. Banyak pikiran “bagaimana kalau…” “jika begini, saya apakan?” “bagaimana jika…” dan Tuhan telah merencanakan semuanya. 10 menit sebelum tiba dirumah sakit WS, ibu ingin mengedan. Kekuatan hisnya juga bagus. Terpaksa berkata pada bicil untuk bersiap untuk sebarang kemungkinan. Inilah tanggungjawab. Semaksimalnya saja yang kita bisa lakukan. Tapi akhirnya Alhamdulillah sempat tiba di WS. Dan tim medis disana juga sudah siaga dengan segala kemungkinan. Pasien langsung saja didorong ke kamar operasi.

Pengalaman kuret lain lagi. Belajar dari persiapannya, hingga  premedikasi  dan cara melakukannya dilapangan. Pertama kali melakukannya sendiri cukup mendebarkan. Namun selalu dokter akan memeriksa ulang untuk memastikan bahwa rahim sang ibu  benar-benar sudah bersih. Disitu kami diberi kesempatan untuk merasai bagaimana sensasi rahim yang sudah bersih. Meski kelihatan agak sederhana, namun banyak hal yang harus diberi perhatian.

Kuret atau kuretase merupakan tindakan medis untuk mengeluarkan jaringan atau sisa jaringan dari dalam rahim dengan fungsi diagnostik atau terapetik. Jaringan bisa berupa janin yang mengalami abortus, endometriosis, atau sisa plasenta yang tertinggal seusai persalinan. Kuret perlu dilakukan supaya rahim bersih dari jaringan yang tidak semestinya berada bahkan tumbuh di dalamnya. Jika tidak dibersihkan, akan memunculkan gangguan seperti nyeri dan perdarahan.

Kuret sebagai diagnostik suatu penyakit rahim. Ini bertujuan untuk mengambil sedikit jaringan lapis lendir rahim, sehingga dapat diketahui penyebab dari perdarahan abnormal yang terjadi. Misalnya:
- Pendarahan pervaginam yang tidak teratur
- Pendarahan hebat
- Kecurigaan akan kanker endometriosis atau kanker rahim
- Infeksi rahim
- Pemeriksaan kesuburan/ infertilitas

Kuret sebagai terapi, bertujuan menghentikan perdarahan yang terjadi pada keguguran kehamilan dengan cara mengeluarkan hasil kehamilan yang telah gagal berkembang; menghentikan perdarahan akibat mioma dan polip dengan cara mengambil mioma dan polip dari dalam rongga rahim; menghentikan perdarahan akibat gangguan hormon dengan cara mengeluarkan lapisan dalam rahim. Misalnya:
- Kasus keguguran
- Tertinggalnya sisa jaringan plasenta (ari-ari), atau sisa jaringan janin di dalam rahim setelah proses persalinan
- Hamil anggur
- Menghilangkan polip rahim

Prosedur Kuret

Prosedurnya sama antara kuret karena keguguran maupun non keguguran.

1. Persiapan sebelum kuret

Puasa. Saat akan menjalani kuret, biasanya Moms harus mempersiapkan diri. Misal, berpuasa 8 jam sebelumnya agar perut dalam keadaan kosong sehingga kuret bisa dilakukan dengan maksimal.

Cek adanya perdarahan. Dokter akan melakukan cek darah untuk mengetahui apakah pasien mengalami gangguan perdarahan atau tidak. Jika ada indikasi gangguan perdarahan, kuret akan ditunda sampai masalah perdarahan teratasi. Namun tak menutup kemungkinan kuret segera dilakukan untuk kebaikan pasien.

Persiapan psikologis. Seperti halnya persalinan normal, sakit tidaknya kuret sangat individual. Sehingga, kesiapan Moms sangat berperan dalam menentukan hal ini. Bila Moms sudah ketakutan bahkan syok lebih dulu sebelum kuret, munculnya rasa sakit sangat mungkin terjadi. Sebab rasa takut akan menambah kuat rasa sakit. Usahakan menenangkan diri untuk mengatasi rasa takut, pahami bahwa kuret adalah jalan yang terbaik untuk mengatasi masalah yang ada.


Minta penjelasan dokter selengkap-lengkapnya, mulai apa itu kuret, alasan kenapa harus dikuret, persiapan yang harus dilakukan, hingga masalah atau risiko yang mungkin timbul.

Sebelum dilakukan kuret, biasanya pasien akan diberikan obat anestesi (bius). Ketika melakukan kuret, ada 2 pilihan alat bantu. Pertama, sendok kuret dan kanula/selang. Sendok kuret biasanya dipilih oleh dokter untuk mengeluarkan janin yang usianya lebih dari 8 minggu karena pembersihannya bisa lebih maksimal. Sedangkan sendok kanula lebih dipilih untuk mengeluarkan janin yang berusia di bawah 8 minggu, sisa plasenta, atau kasus endometrium.

Perawatan usai kuretase umumnya sama dengan operasi-operasi lain. Moms harus menjaga bekas operasi dengan baik, tidak melakukan aktivitas yang terlalu berat, tidak melakukan hubungan intim untuk jangka waktu tertentu sampai keluhannya benar-benar hilang, dan meminum obat secara teratur.

Jika ternyata muncul keluhan, sakit yang terus berkepanjangan atau muncul perdarahan, segera periksakan diri ke dokter. Mungkin perlu dilakukan tindakan kuret yang kedua karena bisa saja ada sisa jaringan yang tertinggal. Jika keluhan tak muncul, biasanya kuret berjalan dengan baik dan pasien tinggal menunggu kesembuhan.

Dampak Kuret

- Perdarahan. Ini dikhawatirkan terjadi jika jaringan tidak diambil dengan bersih. Untuk itu jaringan harus diambil dengan bersih dan tidak boleh tersisa sedikit pun. Bila ada sisa kemudian terjadi perdarahan, maka kuret kedua harus segera dilakukan. Biasanya hal ini terjadi pada kasus jaringan yang sudah membatu.

- Cerukan di dinding rahim. Pengerokan jaringan pun harus tepat sasaran, jangan sampai meninggalkan cerukan di dinding rahim. Karena dikhawatirkan akan mengganggu kesehatan rahim.

- Infeksi. Jika jaringan tersisa di dalam rahim, muncul luka, cerukan, dikhawatirkan bisa memicu terjadinya infeksi. Sebab, kuman senang sekali dengan daerah-daerah yang basah oleh cairan seperti darah.

- Perlekatan bagian dalam rahim.

- Masih terdapat jaringan tersisa.

Masih Bisa Hamil Kembali

Bila ada yang bilang usai kuret tak bisa hamil lagi itu keliru. Penyebab sulit hamil, mungkin ada masalah dengan organ reproduksi atau masalah kesuburan. Setelah menjalani kuret, Moms tetap bisa hamil dan memiliki anak lagi. Asal kondisi organ reproduksinya baik, ditambah dengan masa subur yang tidak bermasalah.

Namun, seusai kuret Moms dianjurkan untuk mengistirahatkan rahim sampai benar-benar sehat dan siap hamil. Khususnya bila kuret dilakukan pada saat kondisi hamil tua karena kondisi uterus sudah membesar sehingga perlu istirahat. Namun bila kuret dilakukan pada saat kehamilan masih muda (batasannya hingga 20 minggu) kehamilan bisa dilakukan lebih cepat jika Moms sudah merasa siap.


0 ulasan:

Catat Ulasan