Menghadiri pernikahan adiknya Winda, Rusdi. Satu lagi
pengalaman berharga buat diri. Mungkin biasanya menghadiri pesta pernikahan pas
hari H nya. Bedanya kali ini berpeluang menghadiri dari awal proses pernikahan.
Dari masak-masak hingga ke resepsinya. Iya mengenal adat bugis dengan lebih
mendalam.
Acara mappettu ada (proses menentukan hari dan hal lain
menyangkut pernikahan), yakni proses pembicaraan waktu pelaksanaan dan jumlah
dui pappenre yang haruskan diserahkan oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan
akhirnya digelar. Katanya jika mappetu ada sudah digelar, adalah aib jika harus
membatalkan keputusan yang telah disepakati. Adannami tau’e na tau, manusia
hanya bisa dianggap manusia jika dia menepati kata-kata yang telah
diucapkannya.
Orang-orang bugis sangat menjunjung tinggi nilai
kekeluargaan. Saat ada sanak saudara yang menikah, mereka meninggalkan rumah
beberapa hari. Selain untuk membantu keluarga yang punya hajatan, juga untuk
berkumpul dengan keluarga-keluarga lain dari luar kampung. Kerna banyaknya tamu
menginap, kecuali tidur melantai dirumah hingga pemandangan menjadi seperti kemah
pengungsi. Malam ini kami bergotong royong memasak masakan untuk besoknya.
Menu
bakso untuk pengajian tidak terlalu ribet. Hanya bakso, kuahnya, daun-daun,
bawang goreng dan sambal yang perlu dipersiapkan.. serta pasangan abadinya
burasa (ketupat yang dibungkus menggunakan daun pisang. Berbentuk lonjong. Harus
direbus kurang lebih 2 jam untuk menantinya masak)Turut sibuk ibu-ibu
menyiapkan manisan yang selalu muncul di acara pernikahan. Barongko (pisang
yang dikisar dan dimasukkan ke dalam acuan daun pisang) turut dibuat. Selain pudding
dan kek bolu sebagai santapan. Diri sempat diajar cara membuat barongko
tersebut dari mengisar pisangnya hinggalah acuan dibuat dari daun pisang hingga
nanti tinggal diisi dan dikukus lagi.
Besoknya pengajian digelar. Seorang ustaz dipanggil untuk
memberikan ceramah tentang pernikahan. Malam sebelum hari pernikahan, biasanya
diadakan pengajian atau mappaci sebagai majlis doa selamat untuk peristiwa
besar yang akan dilalui. Besoknya sebelum berangkat ke rumah pengantin
perempuan ada yang namanya acara sungkaman (mempelai meminta maaf dan doa
restudari kerabat terdekatnya) dalam hal ini ayah, ibu, nenek, kakak dan
saudara terdekat. Kaget juga melihat keluarga atau kerabat terdekatnya tante
dan omnya menangis-nangis saat prosesi ini. Susah diartikan makna airmata
tersebut. Airmata bahagia atau sedih melepas Rusdi menikah.
Sarapo (panggung yang didirikan disamping rumah sebagai
tempat berkumpul saat pernikahan) telah berdiri. Keluarga dari segala penjuru
telah berkumpul. Walasoji (kotak persegi dari bambu untuk mengantarkan
seserahan pada mempelai wanita) telah terisi. Kelapa pelambang keutuhan rumah
tangga, tebu symbol manisnya cinta, nangka sebagai harap agar kasih sayang itu
selalu besar. Semua telah siap! Belasan bunga desa dengan baju bodo siap
membawa bosara (tatakan piring dengan pegangan dibawah dan punya penutup
khusus). Pemuda pun tidak kalah gagahnya dengan balutan jas tutup dan songkok
To Bone (songkok khas orang bugis dari anyaman berhias emas dan sutera) siap
mengangkat walisoji.
Tiba-tiba mama Winda memanggil diri dan meminta untuk
membawakan salah satu seserahan berupa Al-Quran dalam kotak baldu yang akan
digandingkan dengan walasoji yang akan diserahkan setelah akad nikah nanti. Jadilah
diri berada dibarisan depan bersama sepupunya Winda untuk mengetuai gadis desa
berbaju bodo membawa seserahan menuju ke rumah mempelai perempuan. I’m a part
of the ceremony.. benar-benar beda rasanya.. ^_^ Acara mappenre botting (proses
mengantar mempelai pria ke rumah mempelai wanita untuk akad nikah) digelar.
Meski terusik dengan denyut jantung yang seolah ditabuh, Rusdi tetaplah
tersenyum dengan pakaian pengantin khas bugis-nya. Tenang mengatur langkah
dengan mantap menuju ke rumah mempelai perempuannya.
Akad selesai. Pengantin naik ke panggung. Diiringi elekton
kelas atas dengan lagu khas Bugis “Alosi Ripolo Dua”.. Bagai Pinang Dibelah Dua.
Kuripancaji ri lino
Engka riwatang kalemu
Mulle purani totoku
To sipa’dua siruntu
[ku tercipta/lahir di dunia
ADA di dalam dirimu
mungkin sudah takdirku
berdua saling bertemu]
Muripancaji ri lino
Tudang riwatang kalemu
Lettu campana rilino
Sipa’dua metteru
[kamu tercipta/lahir di dunia
duduk/bertahta di jasadmu/dirimu
sampai akhir dunia
berdua selamanya..]
Tappamu na tappaku
Sirupa na de na pada
Iyaro tanranna topuri sitoto
[Wajahmu dan wajahku,
serupa tapi tidak sama,
itulah tandanya kita sejodoh]
Matammu na mataku
Alosi si polo dua
Pappada bungae sibawa daunna
[matamu dan mataku
pinang dibelah dua
bagai bunga dan daunnya]
Alemu aleku
Pada muddani
Tori massidi tanranna sitoto
[Dirimu.. Diruku
saling merindu
Slalu menyatu tandax takdir/jodoh]
Sedang rancak lagu berkumandang, tiba-tiba
“Huuuaaaaarrrggghhhhhh!!!!” pengantin perempuan menjerit
histeris.
Apa tuh? Tiba-tiba kondisi menggawat. Seperti saja sinetron yang
bermain ditelevisi. Beliau kemudian terus menangis sambil tubuhnya jatuh
lunglai ditopang sang pengantin laki-laki dan ibu bapanya. Pengunjung mulai
heboh dan berkerumun untuk melihat dengan lebih dekat. Mencoba untuk
menghampiri, kerabat pengantin perempuan datang membawa air putih.
Mencoba lagi untuk lebih hampir. Siapa tahu ada yang bisa
dibantu. Lewat ibu-ibu yang bilang
“Datangmi kembarnya. Makanya kesurupan. Makanya dibilang
harus bikin mapacci atau pengajian sebagai sembahan ke kembarnya”
Bingung. Apa yang yang heboh diperkatakan tentang kembar. Setahuku
Putri (pengantin perempuan) tidak punya kembar. Bertanya pada Winda. Baru Winda
menceritakannya. Tentang itu. Reptile manusia. Sama persis seperti yang pernah
kubaca di novel Lontara Rindu tulisan S. Gegge Mappangewa. Mungkin akan ku
jelaskan di antri yang berikutnya..
Tapi dari kejadian ini, baru merasa bahawa benar-benar apa
yang diceritakan sang penulis adalah hal yang mendarah daging dalam aliran
pembuluh darah orang Bugis. Mengakar dalam keyakinan sesetengah dari mereka..
Malam mendatang. Acara resepsi akan diadakan di gedung. Semua
orang sudah sibuk bersiap-siap sorenya. Malam tiba juga akhirnya. Dan keluarga
Winda sudah siap-siap dalam seragam merah kuning, baju adat Bugis. Acara berlansung
dengan lancar seperti biasanya. Kasian melihat kak Kalla, Titin dan nenek yang
kewalahan mempersiapkan dan menambah lauk pauk ke tempat. Namun diri tidak bisa
lama. Sebentar harus mengikuti tante Winda yang akan pulang ke Makassar. Maklum
saja besok diri akan mulai lagi bekerja di klinik Health And Nutrition.



Suka.. :)
ambilmi..ckck