Skinpress Rss

Jumaat, 12 Oktober 2012

MAPPENRE BOTTING

2



Menghadiri pernikahan adiknya Winda, Rusdi. Satu lagi pengalaman berharga buat diri. Mungkin biasanya menghadiri pesta pernikahan pas hari H nya. Bedanya kali ini berpeluang menghadiri dari awal proses pernikahan. Dari masak-masak hingga ke resepsinya. Iya mengenal adat bugis dengan lebih mendalam.

Acara mappettu ada (proses menentukan hari dan hal lain menyangkut pernikahan), yakni proses pembicaraan waktu pelaksanaan dan jumlah dui pappenre yang haruskan diserahkan oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan akhirnya digelar. Katanya jika mappetu ada sudah digelar, adalah aib jika harus membatalkan keputusan yang telah disepakati. Adannami tau’e na tau, manusia hanya bisa dianggap manusia jika dia menepati kata-kata yang telah diucapkannya.

Orang-orang bugis sangat menjunjung tinggi nilai kekeluargaan. Saat ada sanak saudara yang menikah, mereka meninggalkan rumah beberapa hari. Selain untuk membantu keluarga yang punya hajatan, juga untuk berkumpul dengan keluarga-keluarga lain dari luar kampung. Kerna banyaknya tamu menginap, kecuali tidur melantai dirumah hingga pemandangan menjadi seperti kemah pengungsi. Malam ini kami bergotong royong memasak masakan untuk besoknya. 

Menu bakso untuk pengajian tidak terlalu ribet. Hanya bakso, kuahnya, daun-daun, bawang goreng dan sambal yang perlu dipersiapkan.. serta pasangan abadinya burasa (ketupat yang dibungkus menggunakan daun pisang. Berbentuk lonjong. Harus direbus kurang lebih 2 jam untuk menantinya masak)Turut sibuk ibu-ibu menyiapkan manisan yang selalu muncul di acara pernikahan. Barongko (pisang yang dikisar dan dimasukkan ke dalam acuan daun pisang) turut dibuat. Selain pudding dan kek bolu sebagai santapan. Diri sempat diajar cara membuat barongko tersebut dari mengisar pisangnya hinggalah acuan dibuat dari daun pisang hingga nanti tinggal diisi dan dikukus lagi.

Besoknya pengajian digelar. Seorang ustaz dipanggil untuk memberikan ceramah tentang pernikahan. Malam sebelum hari pernikahan, biasanya diadakan pengajian atau mappaci sebagai majlis doa selamat untuk peristiwa besar yang akan dilalui. Besoknya sebelum berangkat ke rumah pengantin perempuan ada yang namanya acara sungkaman (mempelai meminta maaf dan doa restudari kerabat terdekatnya) dalam hal ini ayah, ibu, nenek, kakak dan saudara terdekat. Kaget juga melihat keluarga atau kerabat terdekatnya tante dan omnya menangis-nangis saat prosesi ini. Susah diartikan makna airmata tersebut. Airmata bahagia atau sedih melepas Rusdi menikah.

Sarapo (panggung yang didirikan disamping rumah sebagai tempat berkumpul saat pernikahan) telah berdiri. Keluarga dari segala penjuru telah berkumpul. Walasoji (kotak persegi dari bambu untuk mengantarkan seserahan pada mempelai wanita) telah terisi. Kelapa pelambang keutuhan rumah tangga, tebu symbol manisnya cinta, nangka sebagai harap agar kasih sayang itu selalu besar. Semua telah siap! Belasan bunga desa dengan baju bodo siap membawa bosara (tatakan piring dengan pegangan dibawah dan punya penutup khusus). Pemuda pun tidak kalah gagahnya dengan balutan jas tutup dan songkok To Bone (songkok khas orang bugis dari anyaman berhias emas dan sutera) siap mengangkat walisoji.

 Tiba-tiba mama Winda memanggil diri dan meminta untuk membawakan salah satu seserahan berupa Al-Quran dalam kotak baldu yang akan digandingkan dengan walasoji yang akan diserahkan setelah akad nikah nanti. Jadilah diri berada dibarisan depan bersama sepupunya Winda untuk mengetuai gadis desa berbaju bodo membawa seserahan menuju ke rumah mempelai perempuan. I’m a part of the ceremony.. benar-benar beda rasanya.. ^_^ Acara mappenre botting (proses mengantar mempelai pria ke rumah mempelai wanita untuk akad nikah) digelar. Meski terusik dengan denyut jantung yang seolah ditabuh, Rusdi tetaplah tersenyum dengan pakaian pengantin khas bugis-nya. Tenang mengatur langkah dengan mantap menuju ke rumah mempelai perempuannya.

Akad selesai. Pengantin naik ke panggung. Diiringi elekton kelas atas dengan lagu khas Bugis “Alosi Ripolo Dua”.. Bagai Pinang Dibelah Dua.

Kuripancaji ri lino
Engka riwatang kalemu
Mulle purani totoku
To sipa’dua siruntu
[ku tercipta/lahir di dunia
ADA di dalam dirimu
mungkin sudah takdirku
berdua saling bertemu]

Muripancaji ri lino
Tudang riwatang kalemu
Lettu campana rilino
Sipa’dua metteru
[kamu tercipta/lahir di dunia
duduk/bertahta di jasadmu/dirimu
sampai akhir dunia
berdua selamanya..]

Tappamu na tappaku
Sirupa na de na pada

Iyaro tanranna topuri sitoto
[Wajahmu dan wajahku,
serupa tapi tidak sama,
itulah tandanya kita sejodoh]

Matammu na mataku
Alosi si polo dua
Pappada bungae sibawa daunna
[matamu dan mataku
pinang dibelah dua
bagai bunga dan daunnya]

Alemu aleku
Pada muddani
Tori massidi tanranna sitoto
[Dirimu.. Diruku
saling merindu
Slalu menyatu tandax takdir/jodoh]


Sedang rancak lagu berkumandang, tiba-tiba
“Huuuaaaaarrrggghhhhhh!!!!” pengantin perempuan menjerit histeris. 

Apa tuh? Tiba-tiba kondisi menggawat. Seperti saja sinetron yang bermain ditelevisi. Beliau kemudian terus menangis sambil tubuhnya jatuh lunglai ditopang sang pengantin laki-laki dan ibu bapanya. Pengunjung mulai heboh dan berkerumun untuk melihat dengan lebih dekat. Mencoba untuk menghampiri, kerabat pengantin perempuan datang membawa air putih.

Mencoba lagi untuk lebih hampir. Siapa tahu ada yang bisa dibantu. Lewat ibu-ibu yang bilang

“Datangmi kembarnya. Makanya kesurupan. Makanya dibilang harus bikin mapacci atau pengajian sebagai sembahan ke kembarnya”

Bingung. Apa yang yang heboh diperkatakan tentang kembar. Setahuku Putri (pengantin perempuan) tidak punya kembar. Bertanya pada Winda. Baru Winda menceritakannya. Tentang itu. Reptile manusia. Sama persis seperti yang pernah kubaca di novel Lontara Rindu tulisan S. Gegge Mappangewa. Mungkin akan ku jelaskan di antri yang berikutnya..

Tapi dari kejadian ini, baru merasa bahawa benar-benar apa yang diceritakan sang penulis adalah hal yang mendarah daging dalam aliran pembuluh darah orang Bugis. Mengakar dalam keyakinan sesetengah dari mereka..

Malam mendatang. Acara resepsi akan diadakan di gedung. Semua orang sudah sibuk bersiap-siap sorenya. Malam tiba juga akhirnya. Dan keluarga Winda sudah siap-siap dalam seragam merah kuning, baju adat Bugis. Acara berlansung dengan lancar seperti biasanya. Kasian melihat kak Kalla, Titin dan nenek yang kewalahan mempersiapkan dan menambah lauk pauk ke tempat. Namun diri tidak bisa lama. Sebentar harus mengikuti tante Winda yang akan pulang ke Makassar. Maklum saja besok diri akan mulai lagi bekerja di klinik Health And Nutrition.

2 ulasan:

Catat Ulasan