Skinpress Rss

Selasa, 9 Oktober 2012

A WALK TO REMEMBER ~YOGYAKARTA~

0



Aku pernah bilang, hidup ini adalah pilihan. Dan adakalanya kita akan membuat pilihan yang salah. Namun Tuhan tetap menyayangi kita. Lewat pilihan yang salah itu, DIA tetap saja menjaga dan mendidik kita untuk lebih dewasa.

Menyusuri suatu perjalanan yang sangat berharga dalam episode kehidupan ini. Mungkin aku yang terlalu keras kepala. Atau tidak mahu mendengarkan. Mungkin kerna kamu juga tahu, atau kamu juga sudah bingung harus menasehati bagaimana lagi. Satu-satunya pilihan yang tinggal adalah untuk memberikan ruang itu untukku..menjalani saja petualangan ini. Terima kasih. Terima kasih juga telah memberikanku pengalaman dan “keluarga baru”.

Menapaki stasiun Tugu jam 4.30 pagi. Sangat mendebarkan. Tanah ini tanah baru. Pertama kali kujejaki. Masih menunggu. Menunggu Dian yang datang menjemput. Aku harus menghantar sms dulu. Aku sudah di Jogja. Maaf ya dari tadi malam kamu menemaniku. Pertemuan pertama dengan dian, berkesan sangat baik. Diri dihantar ke Asrama Putri Angging Mammiri. Asrama perempuan anak-anak Makassar. Diri akan menginap disana selama berada di Jogja..

Asrama Putri Angging Mammiri adalah sebuah asrama provinsi yang dibiayai oleh pemerintah Makassar sebagai tanda peduli pada anak negeri, menjadi pusat kegiatan anak-anak Makassar yang merantau di Jogja untuk melanjut studi. Asrama ini dihuni oleh 16 orang mahasiswa S1 yang kuliah di pelbagai universitas di sekitar sini. Sementara anak-anak S2 kebanyakannya kost diluar atau dirusun UGM seperti halnya Diba. Merasa tidak pantas. Aku bukan anak Makassar. Bukan asli Makassar juga. Malah tidak ada hubungan sama sekali dengan negeri itu. Namun itulah. Mereka yang bersahabat tetap saja menyambut kedatangan diri dengan penuh welcoming. Sangat hangat. 2 hari bersama anak-anak Makassar cukup mengajarkan banyak hal yang baru pada diri terutama dari segi budaya dan cara hidup mereka. Banyak juga diceritakan prestasi-prestasi anak-anak Makassar yang sering diraih. Turut berbangga. Benarlah kita akan lebih menghargai negeri kita saat jauh darinya.

Melewati hari ini bersam Diba, Febi, Isma, benar-benar seru. Sepertinya telah menngenal mereka dalam waktu yang lama. Diba sangat bersahabat. Setiap ketemu teman-temannya, pasti dikenalkan juga ke aku. Jadinya bisa beradaptasi dengan persekitarannya. Anak S2 Hubungan Internasional, ternyata ilmu sejarah “Malaysia dan Dunia” yang pernah ku pelajari di bangku sekolah menengah itu sangat berharga. Menjadi topic bahasan yang mantap siang ini bersama Diba, Ranti dan yang lain. Sebenarnya tidak susah untuk beradaptasi dengan orang lain, asal kita kuasai apa yang menjadi focus utama kehidupan mereka. Menyusuri Jl. Malioboro dengan Diba. Ya ini akan menjadi permulaan yang baik.  

Besoknya semua sibuk dengan kuliah. Maklum saja diri bukan datang pada hujung minggu. Untung ada Mbak Muskanah, mahasiswa S2 yang sudi menemani. Kebetulan hari ini beliau tidak ada kuliah. Mba Muskanah orang Jawa Tengah. Sudah menetap di sini sejak SMP. Lagi-lagi, untuk menjalin persahabatan bukan suatu yang sukar. Tapi perhatian Mba amat luar biasa. Bayangkan orang yang baru dikenali sehari, bisa seakrab itu untuk bercerita banyak hal. Dengan mbak, diri dibawa ke Candi Prambanan. Taman Purbakala, Taman permandian putri, Keraton udah tutup. Tapi bolehlah sudah dilihat dari luar. Merasai jajanan  di jalanan seperti es dawet, gudeg, bakpia. Juga diberi pengalaman untuk makan melantai “Nasi Kucing” yang murah meriah dengan harga yang tidak mencecah 1 ribu rupiah. Melantai disamping jalan di warung Kopi Joss kegemaran. Bersama Mba Erin dan suami. Sungguh sebuah pengalaman yang luar biasa.

Malamnya masih sempat bergaul dengan anak-anak dari Ikatan Mahasiswa Pangkep. Bingung juga sebenarnya kenapa harus ada sambutan dari anak-anak Pangkep. Namun dihujungnya baru mengerti sebagai penghargaan kerna temanku “orang Pangkep”.. ok..hihi.. Mereka mengadakan parti perpisahan buatku. Padahal usia perkenalan ini Cuma dua hari. Namun ikatan ini sepertinya cukup kuat. Selalu ada perpisahan dibalik pertemuan. Selalu ada nokhtah sesudah Huruf Capital dipermulaan ayat. Sepertinya belum siap. Namun itulah roda kehidupan.

Difikir-fikir, padahal bisa saja sejak awal dulu menghubungi pihak PKPMI Jogjakarta untuk menjemput. Namun kenapa tidak pernah berpikir ke sana. Hujung-hujungnya inilah teman-temanku yang selalu menjagaku dan mencoba yang terbaik untuk memudahkan jalanku. Asal kamu bahagia.. begitu katanya.. terima kasih semua atas kebaikan dan kekhawatiran kalian.





















0 ulasan:

Catat Ulasan