Skinpress Rss

Isnin, 18 Jun 2012

REHLAH AKBAR

0



Selalu ada masa-masa sulit yang harus dilewati dalam hidup. Masa-masa sulit itu sering kita beri nama macam-macam. Kadang kita sebut dia ujian, cobaan, musibah atau azab. Tergantung sejauh mana kita melihat dan menyetujuinya.

Lepas dari department Surgery seolah suatu kebebasan mutlak yang mengundang kebahagiaan tingkat atas. Ustazah menghantar sms mengajak untuk ikut serta dalam Rehlah Akbar anjuran PKS. Ya, lama rasanya hati tidak direndam dalam suasana iman hingga ia keras dibakar fatamorgana dunia. Menjalani 11 minggu di bedah benar-benar fase getir yang menguji ketaqwaan. Dalam segala aspek. Baik pakaian, pergaulan, pertuturan, adab dan sebagainya. Mana tidaknya pakaian seragam bedah itu saja sudah menjadi bukti yang kukuh. (not very islamic way). bahkan ada yang tidak membenarkan memakai jilbab di ruang operasi. Dan sebagai mahasiswa, kami tidak bisa melakukan banyak perlawanan. hanya yang melanggar prinsip harus ditinggalkan dengan tegas. no excuse!!

Belum bercerita soal jam kerja yang seolahnya setiap hari berada dirumah sakit. Bedah tidak mengenal apa itu siang dan malam, jam dan menit.. apakan lagi hari libur atau hari minggu. Setiap hari paling cepat dibenarkan pulang jam 8 atau 9 malam, paling cepatpun jam 5 hingga 6. Hari minggu pula digunakan untuk melapor subdivisi. Pendek cerita untuk menghadiri liqa tiap minggu seperti tantangan yang maha besar dan serba tidak mengizin. Meski teman-teman tetap menjalankannya tiap pecan, bisa dihitung dengan jari berapa kali diri berkesempatan menyertainya hingga selesai meski kami berusaha sedaya mungkin untuk memfleksibelkannya. Selebihnya diri hanya sempat bersembang kosong atau bersarapan pagi bersama anggota liqa atau mengikuti sebagian dari prosesnya sebelum berangkat ke rumah sakit. Apalagi liqa dengan ustazah yang hanya 2 kali sempat dihadiri dalam fasa ujian itu.

Astagfirullahal adzim.. padahal sudah berkali-kali pakcik dan makcik, ayah dan umi ingatkan bahawa jangan pernah sesekali menjadikan kesibukan itu sebagai alasan untuk kita meninggalkan tarbiyah. Hati yang lama jauh dari tarbiyah akan mengeras dan tidak perasa. Tidak peka dan tidak sensitive dengan dosa yang mengintipnya. 11 minggu tanpa pengisian rohani yang mapan itu ibarat kali nol. Benar-benar terasa lesunya jiwa, letihnya jasmani dan penatnya fikiran menghadapi sandiwara yang dilakonkan di pentas kehidupan seharian. Mungkin ini juga bagian dari tarbiyah buat diri. Untuk belajar lebih cermat dan pintar mengatur waktu. Teringat 10 ciri mukmin yang digariskan oleh Imam As-Syahid Hasan Al-Banna, salah satu daripadanya adalah teratur urusannya dan bijak menyusun waktu. Semoga ini menjadi pelajaran penting dalam kehidupan seterusnya.

Tiba di Akarena jam 8.30 pagi. Sudah ramai disana. Dari orang dewasa, hinggalah mahasiswa remaja belia dan anak-anak turut meramaikan. Acara sukaneka sedang berlansung. Diiringi nasyid Bekerja Untuk Negeriku dari Izzatul Islam. Menghayati bait per bait benar-benar menggetarkan jiwa. Melihat telatah anak-anak yang berlari-lari kecil, mendekap balon warna warni dan membawa tepung dalam sudu sangat lucu. Subhanallah.. bahagia rasanya taman islami yang coba dibina untuk mencetak jiwa-jiwa mujahid mujahidah junior yang tangguh untuk menebarkan wangian Islam ke penjuru dunia. Mungkin ini kelihatannya seperti usaha kecil. Namun ketahuilah bahwa usaha kecil ini akan melahirkan jiwa-jiwa besar yang akan membawa dampak besar pada dunia..

Selesai sukaneka, setiap keluarga sibuk mencari tempat masing-masing untuk rehlah. Anak-anak, remaja dan mahasiswa kelihatannya tidak kuat lagi menahan diri dari godaan air. Semua masuk beramai-ramai.. sang ikhwannya ditengah sementara akhwatnya dibelah yang tersembunyi. Tak kurang yang mengabadikan momen-momen kebersamaan ini di kamera digital. Kami menyertai keluarga ustazah untuk rehlah. Meski dengan makanan yang saling berbagi-bagi tapi momen itu cukup bermakna untuk membina syu’ur dalam hati kita. sederhana sekali. Berkelah bersama-sama. Itu saja. Tidak ada materi ruhani. Tidak ada laungan takbir. Hanya semata-mata rehlah. Tapi rehlah dalam suasana saling mencintai kerana Allah. Itu yang harganya mahal. Saling berbagi dan mementingkan antara satu sama lain, itu sudah menjadi materi cukup berharga buat hari ini. Alhamdulillah..

0 ulasan:

Catat Ulasan