Minggu 8. Satu minggu yang memenatkan. Tapi yang paling
banyak pembelajaran yang diri dapatkan di bedah. Bedah Toraks KardioVaskuler
(BTKV) benar-benar sebuah subdivisi yang menjalankan system yang berdiri
tersendiri. Dikelola oleh satu-satunya Spesialist cardiothoracic surgeon di
Wilayah Indonesia Timur. Dr.M.Nuralim
Mallapasi,SpBT(KV). Seorang yang sangat dihormati, digeruni kerna caliber beliau.
Beliau mendidik para dokter residen dan co-assisten sendirian dengan system yang
rapid an terancang.
Sebelum melangkah ke dalam bagian ini, diri sudah mendengar
banyak cerita dan banyak kabar angin yang beredar. Yan baik dan yang jelek. Dan
pastinya lebih banyak yang jelek, memandangkan bagian ini adalah salah satu
bagian terberat dan paling rentan untuk “ditembak” minggu alias Tuming (turun
minggu)*. Asbab utama yang membuatkan
rentan ditembak di BTKV adalah kerana kelemahan ingatan mahasiswa yang susah
untuk menghafal pasien. Dibagian ini, kita dituntut untuk mengenali dan mengetahui
details pasien dibagian ini. Baik dari bed pasien hinggalah post-operasi hari
ke berapa, kenapa bisa dioperasi apa komplikasi yang dialami dan obat-obat yang
dikosumsi oleh pasien.
Aturan mainnya, kita semua harus menginap selama 1 minggu di
rumah sakit dan memakai jadual bertugas dengan system rolling per 12 jam. Berarti
kita berpeluang untuk mempelajari semua kasus yang didapatkan oleh BTKV saat
itu. Jika hari ini kita ditugaskan stase di ward Pavilliun Palem, malamnya kita
akan bertanggungjawab atas pasien yang berasa di ward/ lontara 1 Interna. Ward yang
paling ramai pasien yang harus ditangani. Satu tim terdiri dari 2 co-asisten
dan 1 dokter residen. Nah disini kita diharapkan untuk mempelajari penyakit dan
memperdalamkan dan mempertajam anamnesis dan pemeriksaan fisik pada pasien
dengan bimbangan dari dokter residen. Tergantung bagaimana kita sama-sama
membina kekompakan dan saling menyesuaikan diri dengan teman tim dan dokter
residennya. Pokoknya kita sama-sama dalam proses pembelajaran dan dibawah
tekanan yang sama.
Visite pagi dengan boss (dr.Nuralim SpBTKV) adalah saat yang paling menggetirkan dan
mendebarkan. Kerna permainan harian boss sangat tidak tertebak. Boleh jadi hari
ini, beliau meminta tim yang bertanggungjawab atas ward tertentu untuk lead (istilah bagi orang yang ditunjuk untuk
mengarahkan jalan ke kamar pasien), sesuai dengan tempat tugas masing-masing,
adakalanya pula, boss meminta hanya satu orang residen yang lead (mengarahkan
jalan ke kamar pasien dengan catatan tidak boleh salah kamar, harus teratur dan
tidak boleh berpatah balik, dan HARAM lupa diagnosis dan pengobatan di seluruh
rumah sakit termasuk di Private Care Center,PCC dan Rumah Sakit Pendidikan
Unhas, RSP). Kadang co-ass juga ditunjuk untuk itu.
Selesai visite pagi, semua akan bergerak ke Central
Operation Theater (COT) untuk mengikuti operasi beliau. Setiap hari pasti ada
operasi cimino (pembuatan shunt antara vena brachialis dengan arteri radialis
untuk tujuan memudahkan dialysis). Biasanya pasien yang menjalani operasi ini
adalah rata-rata pasien dengan diagnosis Chronic Kidney Disease (CKD) stage
IV-V. Hari Rabunya, kami bertuah dapat menyaksikan sendiri operasi besar
penyakit jantung congenital pada anak
yakni Repair Tetrology Of Fallot pada pasien berusia 11 tahun dengan diagnosis Pink TOF dan BT Shunt pada
pasien 2 tahun dengan diagnosis TOF. Operasi ini menuntut tenaga ahli yang
ramai hingga Tim Operasi dr.Nuralim diterbangkan khas dari Jepang dan Jakarta. Penata
alat fungsi jantung juga dibawa khas kerna operasi ini memerlukan jantung
pasien dihentikan menggunakan cardiac paralyser dan kalium untuk mempermudahkan
proses penjahitannya. Oleh itu diperlukan mesin khas seperti yang bisa dilihat
di filem bersiri Team Medical Dragon untuk menggantikan fungsi jantung buat
sementara.
Hari kamisnya kami masih berpeluang untuk menyaksikan
operasi salah satu lagi penyakit jantung bawaan asianotik, Patent Ductus
Ateriosus, PDA. Pada operasi ini, tidak dilakukan pembedahan jantung terbuka
alias tidak dibuka lewat rongga mediastinumnya atau depan jantung sebaliknya
dibedah lewat samping atau linea axillaris media. Dibebaskan costa 3 dan 4 dan
beliau bekerja di antara kedua celah yang sempit itu. Subhanallah.. saat Allah
memilih hambaNya untuk diberi kebijaksanaan dan kepakaran untuk membantu oran
lain lewat celah yang sesempit itu. Ketajaman penglihatan dan focus yang tinggi
dibutuhkan untuk menjayakannya.
Sabtu. Hari terakhir di BTKV. Alhamdulillah semoga hari ini lancar-lancar
saja hingga ia bisa dilalui dengan baik tanpa sebarang penghadang. Pagi-pagi
ada kuliah umum yang diberikan oleh dr.Nuralim, SpBTKV untuk semua co-ass
bedah. Dengan judul Water-Sealed Drainage. Tajuk yang sederhana namun sangat
penting untuk diketahui oleh calon dokter umum seperti kami. Dari kuliahnya
menambah kekaguman diri terhadap kerendahan hatinya. Diiselanya sempat beliau
menegaskan bahawa kita tidak boleh menjadi dokter yang sombong. Kerna yang bisa
menyembuhkan pasien itu hanya tangan Allah. Diceritakan pengalaman beliau
sewaktu menangani seorang pasien dengan diagnosis Vulnus Ictum ec Panetran
Ventrikel Sinistra (luka tusuk hingga menembus ke ventrikel kiri). FATAL. Waktu
itu kondisi kesehatan boss sendiri tidak begitu fit, ditambah dengan stress
tingkat tinggi. Dalam semua pembedahan jantung, jarang dilakukan tindakan invasive
dengan melakukan insisi (pembedahan) pada bagian ventrikel jantung. selain
kerna ventrikel adalah dinding paling tebal dan aktif yang berperan untuk
memompa darah ke seluruh tubuh, di ventrikel juga mempunyai kabel-kabel
penghantar listrik yang menghidupi jantung yang dikenali sebagai serat
Purkinje. Saat serat ini salah dijahit, akan menyebabkannya rusak dan tidak
dapat mengalirkan aliran listrik jantung. anak ini tidak akan mampu untuk
bertahan hidup.
Keadaan pasien kurang fit (tidak layak operasi) lantaran
darah yang terus menerus keluar dari bagian jantung yang bocor. Tapi andai
pembedahan ditangguh untuk sedikit saja lagi waktu, prognosis atau prediksi ke
depannya sudah jelek dan mungkin tidak bisa lagi diselamatkan. Dalam keadaan
yang berat itu, dr.Nuralim membuat satu keputusan yang Maha Berat dan berisiko
tinggi. MENERUSKAN OPERASI!! Didukung oleh satu-satunya spesialis Anestesi
Kardiovaskuler yang berani maju untuk mendampingi dr.NA, yaitu dr.H SpAn. Sempat
tangan NA gementaran sewaktu menjahit namun Alhamdulillah semuanya berjalan lancar.
“Ilmu itu 50% Allah pinjamkan pada kita dan 50% lagi mutlak
milikNya.. 50% itu yang kita gunakan untuk membantu orang lain. kapan kita malas dan tidak belajar, otak kita
tumpul dan ilmu kita menyusut. Maka ilmu milik Tuhan akan terus bertambah. Bagaimana
caranya kita untuk menggunakan pinjaman ilmu itu untuk menyelamatkan pasien
kita??”
~dr.NA~
*dengan catatan medical student akan dihukum kerana
kesalahan apa saja dengan hukuman harus mengulang semula minggu tersebut
disubdivisi tersebut.



0 ulasan:
Catat Ulasan