Skinpress Rss

Rabu, 6 Jun 2012

BTKV

0



Minggu 8. Satu minggu yang memenatkan. Tapi yang paling banyak pembelajaran yang diri dapatkan di bedah. Bedah Toraks KardioVaskuler (BTKV) benar-benar sebuah subdivisi yang menjalankan system yang berdiri tersendiri. Dikelola oleh satu-satunya Spesialist cardiothoracic surgeon di Wilayah Indonesia Timur.  Dr.M.Nuralim Mallapasi,SpBT(KV). Seorang yang sangat dihormati, digeruni kerna caliber beliau. Beliau mendidik para dokter residen dan co-assisten sendirian dengan system yang rapid an terancang.

Sebelum melangkah ke dalam bagian ini, diri sudah mendengar banyak cerita dan banyak kabar angin yang beredar. Yan baik dan yang jelek. Dan pastinya lebih banyak yang jelek, memandangkan bagian ini adalah salah satu bagian terberat dan paling rentan untuk “ditembak” minggu alias Tuming (turun minggu)*.  Asbab utama yang membuatkan rentan ditembak di BTKV adalah kerana kelemahan ingatan mahasiswa yang susah untuk menghafal pasien. Dibagian ini, kita dituntut untuk mengenali dan mengetahui details pasien dibagian ini. Baik dari bed pasien hinggalah post-operasi hari ke berapa, kenapa bisa dioperasi apa komplikasi yang dialami dan obat-obat yang dikosumsi oleh pasien.

Aturan mainnya, kita semua harus menginap selama 1 minggu di rumah sakit dan memakai jadual bertugas dengan system rolling per 12 jam. Berarti kita berpeluang untuk mempelajari semua kasus yang didapatkan oleh BTKV saat itu. Jika hari ini kita ditugaskan stase di ward Pavilliun Palem, malamnya kita akan bertanggungjawab atas pasien yang berasa di ward/ lontara 1 Interna. Ward yang paling ramai pasien yang harus ditangani. Satu tim terdiri dari 2 co-asisten dan 1 dokter residen. Nah disini kita diharapkan untuk mempelajari penyakit dan memperdalamkan dan mempertajam anamnesis dan pemeriksaan fisik pada pasien dengan bimbangan dari dokter residen. Tergantung bagaimana kita sama-sama membina kekompakan dan saling menyesuaikan diri dengan teman tim dan dokter residennya. Pokoknya kita sama-sama dalam proses pembelajaran dan dibawah tekanan yang sama.

Visite pagi dengan boss (dr.Nuralim SpBTKV)  adalah saat yang paling menggetirkan dan mendebarkan. Kerna permainan harian boss sangat tidak tertebak. Boleh jadi hari ini, beliau meminta tim yang bertanggungjawab atas ward tertentu untuk  lead (istilah bagi orang yang ditunjuk untuk mengarahkan jalan ke kamar pasien), sesuai dengan tempat tugas masing-masing, adakalanya pula, boss meminta hanya satu orang residen yang lead (mengarahkan jalan ke kamar pasien dengan catatan tidak boleh salah kamar, harus teratur dan tidak boleh berpatah balik, dan HARAM lupa diagnosis dan pengobatan di seluruh rumah sakit termasuk di Private Care Center,PCC dan Rumah Sakit Pendidikan Unhas, RSP). Kadang co-ass juga ditunjuk untuk itu.

Selesai visite pagi, semua akan bergerak ke Central Operation Theater (COT) untuk mengikuti operasi beliau. Setiap hari pasti ada operasi cimino (pembuatan shunt antara vena brachialis dengan arteri radialis untuk tujuan memudahkan dialysis). Biasanya pasien yang menjalani operasi ini adalah rata-rata pasien dengan diagnosis Chronic Kidney Disease (CKD) stage IV-V. Hari Rabunya, kami bertuah dapat menyaksikan sendiri operasi besar penyakit  jantung congenital pada anak yakni Repair Tetrology Of Fallot pada pasien berusia 11 tahun  dengan diagnosis Pink TOF dan BT Shunt pada pasien 2 tahun dengan diagnosis TOF. Operasi ini menuntut tenaga ahli yang ramai hingga Tim Operasi dr.Nuralim diterbangkan khas dari Jepang dan Jakarta. Penata alat fungsi jantung juga dibawa khas kerna operasi ini memerlukan jantung pasien dihentikan menggunakan cardiac paralyser dan kalium untuk mempermudahkan proses penjahitannya. Oleh itu diperlukan mesin khas seperti yang bisa dilihat di filem bersiri Team Medical Dragon untuk menggantikan fungsi jantung buat sementara.

Hari kamisnya kami masih berpeluang untuk menyaksikan operasi salah satu lagi penyakit jantung bawaan asianotik, Patent Ductus Ateriosus, PDA. Pada operasi ini, tidak dilakukan pembedahan jantung terbuka alias tidak dibuka lewat rongga mediastinumnya atau depan jantung sebaliknya dibedah lewat samping atau linea axillaris media. Dibebaskan costa 3 dan 4 dan beliau bekerja di antara kedua celah yang sempit itu. Subhanallah.. saat Allah memilih hambaNya untuk diberi kebijaksanaan dan kepakaran untuk membantu oran lain lewat celah yang sesempit itu. Ketajaman penglihatan dan focus yang tinggi dibutuhkan untuk menjayakannya.

Sabtu. Hari terakhir di BTKV. Alhamdulillah semoga hari ini lancar-lancar saja hingga ia bisa dilalui dengan baik tanpa sebarang penghadang. Pagi-pagi ada kuliah umum yang diberikan oleh dr.Nuralim, SpBTKV untuk semua co-ass bedah. Dengan judul Water-Sealed Drainage. Tajuk yang sederhana namun sangat penting untuk diketahui oleh calon dokter umum seperti kami. Dari kuliahnya menambah kekaguman diri terhadap kerendahan hatinya. Diiselanya sempat beliau menegaskan bahawa kita tidak boleh menjadi dokter yang sombong. Kerna yang bisa menyembuhkan pasien itu hanya tangan Allah. Diceritakan pengalaman beliau sewaktu menangani seorang pasien dengan diagnosis Vulnus Ictum ec Panetran Ventrikel Sinistra (luka tusuk hingga menembus ke ventrikel kiri). FATAL. Waktu itu kondisi kesehatan boss sendiri tidak begitu fit, ditambah dengan stress tingkat tinggi. Dalam semua pembedahan jantung, jarang dilakukan tindakan invasive dengan melakukan insisi (pembedahan) pada bagian ventrikel jantung. selain kerna ventrikel adalah dinding paling tebal dan aktif yang berperan untuk memompa darah ke seluruh tubuh, di ventrikel juga mempunyai kabel-kabel penghantar listrik yang menghidupi jantung yang dikenali sebagai serat Purkinje. Saat serat ini salah dijahit, akan menyebabkannya rusak dan tidak dapat mengalirkan aliran listrik jantung. anak ini tidak akan mampu untuk bertahan hidup.

Keadaan pasien kurang fit (tidak layak operasi) lantaran darah yang terus menerus keluar dari bagian jantung yang bocor. Tapi andai pembedahan ditangguh untuk sedikit saja lagi waktu, prognosis atau prediksi ke depannya sudah jelek dan mungkin tidak bisa lagi diselamatkan. Dalam keadaan yang berat itu, dr.Nuralim membuat satu keputusan yang Maha Berat dan berisiko tinggi. MENERUSKAN OPERASI!! Didukung oleh satu-satunya spesialis Anestesi Kardiovaskuler yang berani maju untuk mendampingi dr.NA, yaitu dr.H SpAn. Sempat tangan NA gementaran sewaktu menjahit namun Alhamdulillah semuanya berjalan lancar.

“Ilmu itu 50% Allah pinjamkan pada kita dan 50% lagi mutlak milikNya.. 50% itu yang kita gunakan untuk membantu orang lain.  kapan kita malas dan tidak belajar, otak kita tumpul dan ilmu kita menyusut. Maka ilmu milik Tuhan akan terus bertambah. Bagaimana caranya kita untuk menggunakan pinjaman ilmu itu untuk menyelamatkan pasien kita??”
~dr.NA~



*dengan catatan medical student akan dihukum kerana kesalahan apa saja dengan hukuman harus mengulang semula minggu tersebut disubdivisi tersebut.

0 ulasan:

Catat Ulasan