MERAWAT TEMAN SEJAWAT
Dicatat oleh
amni_shamrah
|
di
1:12 PG
Category :
CO-ASST LIFE
Tret..tret..
Ada sms yang masuk.. Daripada sahabat dunia akhiratku Ummi Kalsom.. katanya dia sesak nafas dari semalam.. dan semakin memberat hari ini. Allah izin, diri bertugas satu hospital (rumah sakit) dengannya hari ini membolehkan untuk turun dan melihat kondisi sahabat yang satu itu. Kata Ummi tadi, dia masih didepan poliklinik kulit (tempat beliau bertugas) tapi sesampai diri disana, dia sudah tidak disitu.. rupanya ada diskusi didalam poliklinik.

Usia melihat kondisi Ummi, mata serta merta menghitung pernafasannya. 36.. wah sesak betul-betul sesak. Segera tangan mencapai statoscope dan memeriksa bunyi nafas. Vesikuler. Tidak ada bunyi ronchi (bunyi tambahan) atau wheezing (mengi). Khawatir kalau-kalau penyakit asthma temanku tersebut berulang (kambuh). Kerna teman yang satu ini memang pernah sakit asthma sewaktu masih di sekolah rendah (SD) dahulu. Mamanya juga punya riwayat asma. Degupan jantung yang kencang membuatkan dadanya sakit gara-gara berdebar. Tidak tahu penyebabnya.. Otakku mula berfikir keras. Tapi mungkin kegusaran dan kegelisahan yang melanda menghilangkan focus sekaligus menurunkan kemampuan daya analisa.
Otak yang seakan beku itu memaksa diri menghantar sahabatku ke UGD (unit gawat darurat/ bagian emergency). Gusar andai sesuatu yang buruk berlaku. Patutlah dalam etika kedokteran (perubatan) itu, seorang dokter tidak dibenarkan untuk merawat keluarga/ orang terdekatnya sendiri (baca: terutama untuk procedure yang life-saving/ pembedahan dan hal beresiko tinggi). Kerna dokter juga manusia.. yang pada fitrahnya akan dipengaruhi emosi saat ia melibatkan nyawa orang yang dekat dengannya. Terkadang dokter dengan IQ tinggi sekalipun boleh mengambil keputusan yang salah saat ia berhadapan dengan keluarganya.

Menguruskan administrasi dan obat-obat Ummi, tak kalah ribet (leceh), dengan prosedur rumah sakit yang memang menyusahkan. Namun disitu baru diri belajar menjiwai situasi yang dihadapi oleh keluarga penderita yang dirawat di RS. Tak mudah sebenarnya. Namun kerna sayang pada penderita, ia tetap dijalani. Belum dengan pegawai apotek (farmasist) yang cerewet dan banyak tanya. (baca: tidak semua farmasist). Untung pengetahuanku yang sedikit tentang obat-obat memberikan diri keyakinan untuk membahas kembali. Aduh, tuan apotek.. tolonglah.. pasiennya lagi gawat.. banyakna lagi natanyaka’!!
Ya.. pengalaman.. benar-benar menguji kesabaran. Tapi Alhamdulillah akhirnya semua berjalan mulus. Ummi di nebulizer untuk mengurangkan sesak. Oksigen diberikan 3L lewat canule mengurangkan rasa sesak yang dialami. Alhamdulillah setelah beberapa jam dirawat, keadaan umumnya semakin membaik.
0 ulasan:
Catat Ulasan