Skinpress Rss

Ahad, 2 Januari 2011

JEJAK CITA

0



Berdiri aku disini
Menatap mentari terbit lagi
Membawa cahaya menerangi hari
dan saat itu masih ku nanti

Kita sama punya cita
Yang menunggu dihadapan sana
Biarpun berliku ditempuh jua
Cekal dan tabah azimat jiwa

Tika ujian datang menduga
Tiada berputus asa dan kecewa
Andainya rebah bangkit semula
Berserah mengharap RahmatNya

Sama melangkah seiringan
Mengejar sebuah impian
Dengan semangat keyakinan
Menuju ke arah kejayaan
Bertekad penuh keazaman
gemilangkan pasti digenggaman

Jangan lupa memohon padanya
Tawakal boedoa sentiasa
Dialah penentu segala
Apa dikurnia ada hikmahnya

Disana tiada jalan yang mudah
Hanya yang sabarkan terus melangkah
Berbekal keimanan didada
dan usaha pasti akan berjaya... Berjaya

HARI-HARI TARBIYAH

0

Meski hakikatnya hitungan waktu pada semua hari itu sama..kemarin, sekarang dan esok tetaplah 24 jam..

Namun kisah yang terukir di perjalanan hari senantiasa berbeda..sedih, susah, dan senang akan silih berganti datang dan pergi ..

Bersabar, jangan pernah menyerah, dan tetaplah... BERSEMANGAT!!
Angkatlah dagu mu dan kuat kan pundakmu..krn besok akan lebih banyak lagi kisah-kisah baru yang hadir di episode khidupan mu.. Ya, setiap hari itu menjanjikan pengalaman tarbiyah yang baru buat dirimu. Didikan lansung dari Allah untuk mempertingkatkan kualitas dirimu.

Maka sentiasalah bermuhasabah untuk menjadi pribadi yang lebih matang dan tangguh.."semoga hari berikutnya, lebih baik dari hari ini dan hari kemarin.."

-FZM-

Sabtu, 1 Januari 2011

THREE LITTLE WORDS

0


By Vikki Mount

Silly birthday cards were always the norm in my family. Sentimental cards with messages of love were viewed with disdain and a faint sense of embarrassment. Looking back now, I don't ever remember the words "I love you" being spoken.

Then, just before I turned 29, Dad retired and my parents moved from Victoria to Queensland. As I'm an only child, my friends were shocked that my parents could move so far away from me. I just shrugged, not feeling at all fazed by the situation - instead seeing it as an opportunity to have somewhere warm to go on holidays.

But six months into their retirement, my mother phoned to say she had some bad news: Dad had cancer. "But don't worry," she told me. It was lymphoma and the doctors had assured her this was the most treatable kind. With chemotherapy, he would be "right as rain" in a couple of months. However, when I arrived in Queensland for a visit two months later, I was shocked by my father's appearance. He was frail, underweight and had lost all his hair from the chemo. Although he was only 65, he looked as though he had aged 20 years.

It was a sad sight and I felt my emotions welling up inside. Before I knew what was happening, I fell upon my dad with hugs and kisses, and for the ?rst time in my life I said, "I love you, Dad!" He seemed a little taken aback, but awkwardly told me he loved me, too.

But the tidal wave of emotion didn't stop there as I fell upon my mother in the same fashion, expressing my love for her, too. Then I gently pulled away, expecting some kind of reciprocation. But it never came. Instead, she appeared frozen in horror. Hurt and humiliated, I struggled to understand this rejection. What was wrong with me? What was wrong with her?

The holiday was over all too quickly. When I was back at work once again, I overheard a workmate on a personal phone call to her mother. At the end of it she said, "I love you, Mum." As simple as that. Declarations of love were clearly effortless in her family. Why wasn't it like that in mine? Tears welling up, I ran to the toilets, where I cried so hard I thought my heart would break. This wasn't right! Something had to be done about this love situation once and for all.

My opportunity came the next Sunday during my weekly phone call to my mother. After we had dispensed with our usual pleasantries and updates, I took a deep breath and asked, "Do you love me, Mum?" After a short hesitation, she replied brusquely, "You know I love you. Don't be silly."

"Do I? I don't remember ever hearing it from you."

"Well, we never said things like that in my family."

"Well, I want it to be said in ours. From now on I want to end our conversations with 'I love you.' And that goes for Dad, too."

My mother reluctantly agreed, and for the first time our telephone conversation ended with, "I love you, Mum," and she replied, "I love you, too." Within a short time, "I love you" became easy to say, until it was very natural and we couldn't consider saying goodbye without it. Birthday and Christmas cards went from silly to sentimental, and when Mum bought Dad a Christmas card that year with the words "I love you!" spelt out in holly, I almost cried.

In the meantime, Dad had bravely completed his cancer treatments and, 12 months after being diagnosed, thankfully went into remission. A year later the lymphoma ?ared up again, but once more he valiantly fought it off.

Unfortunately, the stress and worry had taken its toll on my mother, and in May 2000 she was diagnosed with pancreatic cancer. I was told that only ?ve per cent of patients survive.

Just five months after being diagnosed, Mum was admitted to hospital. It was a few days before I was due to ?y out for another visit. Her condition was serious but not critical, and I phoned every morning to check on her. One morning when I rang, she sounded in good spirits, but that evening my instincts told me I needed to ring again.

My worst fear was con?rmed when a nurse answered the phone and regretfully informed me that my mother's condition had rapidly deteriorated. She wasn't expected to make it through the night.

Knowing I couldn't get a fight in time, I asked the nurse to put the phone next to my mother's ear so I could talk to her. "She's barely conscious," the nurse replied. "It's unlikely she'll hear you." But I didn't care. I wanted to do it anyway.

Once she'd placed the phone by my mother's ear, I started sobbing and telling Mum over and over again that I loved her, hoping she could hear. At ?rst, all I could hear from the other end was "Hmmmm" - but then, like a miracle, with a deep sigh she said, "Love you . . . love you, darling." It was the last thing she said before drifting into unconsciousness. She never spoke again. My mother died at 4 o'clock the next morning, with my father by her side.

Although I was devastated by her death, the startling part was how well I coped. Of course, losing a parent is excruciatingly painful and I shed many tears, but receiving those lovely last words made it much more bearable. I had closure in the best possible way.

Slowly, Dad has now adapted to living alone for the first time in his life. Now that there's just the two of us, we're closer than ever.

Then last year, Dad was diagnosed with cancer again. This time it's skin cancer, and to date he has been through two courses of radiotherapy. I don't know whether Dad will win this latest battle. At 79, he's not as strong as he once was, but he's still as determined as ever to go down ?ghting. But there is one thing I do know: whatever happens, whatever the future holds - for Dad and for me - our last words to each other will be "I love you." Of that I'm certain.

Jumaat, 31 Disember 2010

MELATIH SIFAT PRIHATIN DENGAN SEDEKAH

0


Balik dari MTOS membeli kelengkapan rumah. Cuaca diluar mendung. Awan menghunjamkan rintik hujan yang makin lama makin deras. Membasahi bumi yang sebelumnya panas dibakar bahang mentari. Kelihatan beberapa orang anak kecil berlumba-lumba mendatangi pengunjung yang baru keluar dari mall tersebut. Mereka menawarkan untuk memayungkan dan membantu membawa barang belian. Begitulah fenomena yang biasa terlihat di hadapan shopping kompleks ini. tiba-tiba retina menangkap imej seorang anak kecil yang sedang berdiri di tepi tembok sambil memegang payung besar berwarna warni. Tubuhnya menggigil menahan kedinginan yang menusuk ke tulang. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri mencari-cari kalau ada pengunjung yang memerlukan khidmatnya.

MasyaAllah sayu hati melihat anak-anak kecil ini. Jika adik-adik kita di rumah gembira menanti hujan supaya boleh bermain hujan, boleh melancarkan permainan kapal, bola air dan sebagainya yang melengkapkan keceriaan zaman kanak-kanak mereka, anak-anak ini sebaliknya masih harus tekun meredah kedinginan percikan air, bekerja untuk mendapatkan sesuap rezeki yang halal. Kasihannya mereka. Di kala adik-adik kita nyaman di rumah, berbalut selimut hangat sambil menonton televisyen dalam cuaca begini, anak-anak ini berpeleseran di tepi-tepi tembok menunggu pengunjung yang memerlukan bantuan, meresikokan nyawa membantu pengunjung melintasi jalan raya.

Setelah masuk ke teksi, memberi anak-anak yang membantu itu lebih dari biasanya. Mereka tersenyum girang sambil berkali-kali mengucapkan terima kasih. Sungguh jiwa lebih lapang apabila kita bisa membantu meringankan bebanan yang ditanggung orang lain.

Teringat beberapa waktu yang lalu, sewaktu ziarah ayah, ummi dan adik ke sini, ummi yang tak sempat memberikan sedekah pada anak-anak kecil sewaktu di Pasar Butung tak sudah-sudah mengeluh kekesalan lantaran tiada wang kecil untuk diberikan waktu itu. Hingga pulang ke hotel ummi masih mengungkit kejadian tadi. Kecewa benar kerana tidak berpeluang memberikan sedekah. Ayah juga setiap kali keluar dari petak parking kereta (tempat parker mobil) terus saja menghulurkan wang Rp2000 kepada orang yang membantu. Subhanallah betapa pemurahnya mereka. Sedangkan diri, maklumlah sebagai mahasiswa/pelajar yang wangnya terbatas, terkadang beri tapi banyak juga yang bolong. MasyaAllah masih belum cukup sensitif.

TANGAN yang memberi lebih mulia daripada tangan yang menerima. Sekecil mana sumbangan yang dihulurkan, ia cukup bermakna kepada si penerima yang hidup serba kekurangan, malah ‘buah tangan’ yang tidak seberapa itu mampu menerbitkan senyuman, walaupun cuma untuk seketika.

Islam sangat menggalakkan umatnya membantu mereka dalam kesempitan. Nas daripada al-Quran dan hadis Nabi s.a.w jelas menganjurkan umat Islam menghidupkan amalan sedekah, kerana banyak manfaatnya. Sedekah adalah perkataan berasal daripada bahasa Arab, iaitu sadaqah. Maksud yang sama ialah menderma, membelanjakan wang atau memberikan sesuatu kepada pihak lain dengan hati yang ikhlas, tanpa mengharapkan sebarang imbalan.

“Dan belanjakanlah (dermakanlah) sebahagian daripada rezeki yang Kami berikan kepada kamu sebelum seseorang daripada kamu sampai ajal kepadanya, (kalau tidak) maka ia (pada saat itu) akan merayu dengan berkata: Wahai Tuhanku alangkah baiknya kalau engkau lambatkan kedatangan ajal matiku ke suatu masa yang sedikit saja lagi, supaya aku dapat bersedekah dan dapat pula aku menjadi orang yang soleh.” (al-Munafiquun: 10)


Seringkali mendengar bahawa kebanyakan peminta sedekah itu dikelola oleh sendiket (diurusi oleh agen) hingga wang yang diperoleh digunakan untuk keuntungan orang lain. Padahal dalam memberi sedekah, kita tidak seharusnya terlalu berkira dengan hal seperti itu, atau prasangka tersebut akan menyebabkan kita lokek (kedekut) untuk memberikan sedekah. Biarlah hal tersebut antara dia (agen) dengan Allah. Sedangkan sedekah itu akan memberikan ketenangan jiwa kepada kita.

Amalan bersedekah daripada satu sudut menggambarkan sifat insani, kemurahan hati dan keluhuran budi seorang manusia. Tidaklah dikatakan seseorang manusia itu kaya perikemanusiaannya jika tiada di dalam jiwanya sikap prihatin dan kasihan belas kepada sesama manusia, yang menggerakkan hatinya untuk memberikan pertolongan sekadar kemam puannya.

"Sifat prihatin dan belas kasihan harus dibina di dalam diri kita dengan melatih diri suka bersedekah dan membantu yang kurang berkemampuan"

Rabu, 29 Disember 2010

TUHAN MELIHAT HATIMU

2


Pada suatu hari, Hasan Al-Basri pergi mengunjungi Habib Ajmi, seorang sufi besar lain. Pada waktu salatnya, Hasan mendengar Ajmi banyak melafalkan bacaan salatnya dengan keliru. Oleh karena itu, Hasan memutuskan untuk tidak salat berjamaah dengannya. Ia menganggap kurang pantaslah bagi dirinya untuk salat bersama orang yang tak boleh mengucapkan bacaan salat dengan benar.

Di malam harinya, Hasan Al-Basri bermimpi. Ia mendengar Tuhan berbicara kepadanya, “Hasan, jika saja kau berdiri di belakang Habib Ajmi dan menunaikan salatmu, kau akan memperoleh keridaan-Ku, dan salat kamu itu akan memberimu manfaat yang jauh lebih besar daripada seluruh salat dalam hidupmu. Kau mencoba mencari kesalahan dalam bacaan salatnya, tapi kau tak melihat kemurnian dan kesucian hatinya. Ketahuilah, Aku lebih menyukai hati yang tulus daripada pengucapan tajwid yang sempurna.

Selasa, 28 Disember 2010

TAK KENAL MAKA TAK CINTA

0



Masih dalam mode Sepak Bola dan hubungan antara Indonesia-Malaysia. Luahan rasa dari seorang teman agak membuat diri kaget dan mengundang kesedihan serta kekecewaan di pantai hati. Apa lagi apabila mengingatkan bahawa dia adalah antara teman Indonesian yang sangat dekat dengan diri. Tapi diri mengerti posisi temanku tersebut. Dia juga seperti diri ini suatu ketika dulu.

Sewaktu masih berada di Malaysia, masyarakat didedahkan dengan jenayah-jenayah yang melibatkan warga Indonesia. Seperti penglibatan dengan narkoba, perompakan, pembantu rumah yang mencuri di rumah majikan dan mendera anak majikan, dan pelbagai lagi jenayah ringan dan berat. Pengalaman diri juga sewaktu di Nilai berhadapan dengan warga Indonesia yang suka pulang larut malam, berpakaian dengan pakaian seksi yang menurut norma setempat tidak begitu sopan(perempuan). Berbicara dengan bahasa yang kasar dan kesat. Hal-hal begini yang sebenarnya memberikan impresi yang buruk terhadap Negara tetangga tersebut. Di tambah lagi dengan sifat masyarakat yang sering berdemostrasi biar kerana isu apa sekalipun, serta provokasi-provokasi yang terkadang oleh hal yang kecil dan dianggap tidak masuk akal oleh warga Malaysia. Mulalah terhasil paradigma bahawa “orang Indonesia jahat” dan menakutkan dan harus sangat berhati-hati.

Pertama kali mengambil keputusan untuk melanjutkan pelajaran ke Indonesia, sempat ketakutan itu menjalar ke urat saraf mendengarkan bahawa Sulawesi Selatan terutama Makassar adalah antara suku Indonesia (Bugis) yang paling kasar di negara itu. Hal ini disampaikan sendiri oleh kenalanku yang asli Indonesia sewaktu ketemu di UKM. Namun kerana sebuah cita-cita, ketakutan itu diharungi juga. Kekuatan semangat mengatasi ura-ura tak berasas tersebut.

Menjejakkan kaki ke Makassar, hari pertama di kampus, banyak teman-teman yang menyapa. Menghulurkan salam persahabatan yang hangat. Minggu-minggu adaptasi berjaya diharungi dengan baik berkat bantuan teman-teman kuliyah. Pensyarah-pensyarah (dosen) yang seikhlas hati menyampaikan ilmu. Sentiasa terbuka menerima kunjungan dan menjawab persoalan dari mahasiswa biar diluar waktu kuliah walau tanpa temujanji. Status professor atau dokter spesialis lansung tidak menjadi pembatas untuk mereka dekat dengan mahasiswa. MasyaAllah kagum melihat kerendahan hati para ilmuan ini.

Tambah terkesan dijiwa, setelah diri melewati hari-hari di KKN. Hidup bersama teman-teman Indonesian yang sangat mendukung. Sangat perhatian, prihatin dan saling bantu membantu. Kalau memasak, pasti mengambil kira selera teman yang lain, ada yang tidak bisa makan perasa (bumbu siap), ikan, ada yang suka sekali makan sambal (lumbok) dan sebagainya. Maka teman-teman yang memasak sentiasa memasukkan hal-hal tersebut ke dalam perhitungan. Saat sedih, saat jatuh, saat lagi bermasalah, teman-teman pasti tahu biar tidak berkata apapun. Terus saja bertanya dan mendukung. Berusaha menceriakan suasana hati yang sedang mendung. Waktu seseorang sakit, semua orang biar tanpa disuruh akan terus membantu dan memberikan semangat. Menjaganya tanpa mengenal penat.

Ternyata orang Indonesia baik-baik sebenarnya. Kejamnya diri menghukum dan membina persepsi tanpa mengenali mereka terlebih dahulu. Benarlah pepatah yang mengatakan “tak kenal maka tak cinta”. Kita selalu menutup hati kita tanpa membuka ruang untuk memahami situasi mereka.

Berada di Indonesia benar-benar mengubah paradigma diri selama ini. Ternyata budaya berpakaian masyarakat di Indonesia berbeza (beda) dari tempatku. Kalau di Malaysia, memakai seluar pendek (celana pendek) dan warna-warna terang (warna mencolok) itu tidak sopan. Justeru masyarakat di sini lebih gemar dengan pakaian sedemikian. Lebih sesuai dengan cuaca dan lebih ceria katanya. Hingga kalau dilihat di toko-toko juga fesyen yang sedemikian yang di tampilkan. Makanya ia adalah sesuatu yang biasa di sini.

Kalau masalah suka berdemostrasi, setelah mengikuti Latihan Kader 1 yang diatur oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), yang mana di dalamnya di selitkan ceramah (materi) demostrasi baru diri mengerti bahawa di negeri bertuah ini, untuk mendapat perhatian dan peluang berurusan dengan pemerintah harus lewat demostrasi. Apabila sesuatu demostrasi dilakukan dan mendapat perhatian dari media massa, baru mereka diberi peluang untuk berhadapan lansung dengan pihak pemerintah untuk menyuarakan aspirasi mereka. Subhanallah betapa getirnya jalan yang harus mereka lalui untuk menyampaikan suara masyarakat. Di banding dengan mahasiswa di Malaysia yang kebanyakannya Cuma sibuk belajar dan aspirasi harus disampaikan lewat Majlis Perwakilan Pelajar (MPP) yang akan bertemu lansung dengan pihak kerajaan. Atau melalui memorandum dan sebagainya kerana mahasiswa di Malaysia terikat dengan undang-undang yang menyekat kebebasan bersuara di bawah Akta Universiti dan Kolej Universiti (AUKU).

Kalau masalah tuntutan-tuntutan perbatasan, hak dagang dan sebagainya, itu diri tidak mahu berbicara banyak mengingatkan hal-hal tersebut adalah urusan antara pemerintah. Tapi kalau mahu membahas itu harus kita pertanyakan kembali “adakah dasar pemerintahan Malaysia mahupun Indonesia sudah menjalankan sistem pemerintahan yang benar-benar berlandas kepada syariat dan menepati hokum-hukum Allah?” Sungguh Islam itu mengajarkan kita untuk saling menghormati, saling berbagi rezeki. Saling mendukung bukan saling menjatuhkan. Bukan saling hasad dengki dengan kejayaan antara satu sama lain, bukan saling tamak dan mengaut keuntungan untuk diri sendiri.kalau dasarnya juga tidak menepati jadi bagaimana kita mahu membuat pertimbangan yang sesuai dengan syara’?

Sementara jika membahas persoalan budaya, diri juga tidak tahu apa sebenarnya yang dipermasalahkan kerana asli masyarakat Nusantara itu sama sebenarnya. Orang yang membuka Melaka, Kerajaan pertama di Tanah Melayu juga adalah Parameswara yang asli putera Palembang. Setelah itu berlaku penghijrahan beramai-ramai masyarakat dari suku Bugis, Minangkabau, Jawa, Aceh dan sebagainya yang membawa bersama mereka budaya dan jati diri yang diklaim sebagai milik mutlak Indonesia. Rata-rata jika ditanya penduduk Melayu di Malaysia sekarang, pasti ada darah Jawanya, darah Bugis dan lain-lainnya. Hanya saja mungkin kerana masa beredar, jam berputar maka tak semua budaya Jawa/ Bugis/ Minangkabau yang diturunkan kepada generasi setelahnya. Hanya saja adaptasinya masih kuat berumbi dalam masyarakat. Kita sibuk berperang hak antara Indonesia-Malaysia, tanpa kiata pernah berfikir “adakah orang yang aku perangi ini adalah orang yang sebenarnya terhubung darah denganku?” “mungkinkah saudaraku yang tidak pernah aku temui atau ketahui sebelumnya?” temanku saja sebagai buktinya, lahir, membesar di Malaysia. Tapi ternyata ada keluarganya di Medan dan akan ke sana bulan 3 nanti. Ada lagi temanku yang begitu, setelah datang melanjutkan pelajaran ke sini baru mendapati oh ternyata adik kepada ayahnya asli orang Sulawesi.

Kalau mahu menunding jari mungkin harus dipersalahkan Parameswara dan pembesar-pembesarnya yang sewaktu berhijrah lupa untuk menanggalkan juga adat budaya dari Palembang. Mungkin juga harus dipersalahkan orang-orang Jawa, Bugis, Minangkabau, Aceh dan lain-lain kerana membawa masuk juga budaya dan adat dari sukunya. Tapi adakah salah mereka mengekalkan jati diri Melayu tersebut? Adakah salah mereka bangga dengan asal usul mereka dan cuba mengekalkannya dengan menurunkan adat tradisi tersebut kepada anak keturunan mereka?

Masalah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) sebenarnya diri kagum dengan mereka yang sanggup mengambil resiko dan berani untuk berhijrah demi mendapatkan sesuap rezeki yang halal. Mengubah nasib keluarga. Menghidupi tanggungan yang ramai. Berpisah anak, isteri, suami. Itulah hidup yang keras. Pengalaman diri sewaktu di KKN sangat menyentuh hati apabila seorang dari teman kecilku, Anah, ibu bapanya pergi ke Malaysia sebagai TKI. Sudah 4 tahun tidak pernah pulang. Anak itu ditinggalkan sendirian sejak kecil di bawah jagaan tetangga kerana desakan hidup. Bayangkan bagaimana anak sekecil itu bertahan hidup tanpa orang tuanya. Bayangkan betapa berat hati orang tuanya untuk meninggalkan permata hati dalam usia pembesarannya? Pasti sangat parah, sakit terluka.

Di sini, melihat suasana hidup yang sangat mendesak, jurang ekonomi yang besar hingga orang-orang terpaksa tinggal di kaki lima dalam kotak (kardus), terpaksa mencari katak, atau menangkap burung buat dijual mendapatkan sesuap nasi. Di kala setiap malam harus berfikir “apakah aku dapat makan besok” berbanding “apa yang mahu dimakan besok?”. Nasib anak-anak tak terbela. Usia 7-8 yahun yang harusnya berada di bangku sekolah terpaksa meminta sedekah di tepi-tepi jalan. Hidup yang cukup tertekan. Boleh jadi tekanan hidup ini yang memaksa individu(warga Indonesia) yang berada di Malaysia untuk melakukan jenayah. Mencuri dan merompak lantaran tidak sabar dan menginginkan hasil yang tampak di mata. Namun harus kita fahami, bahawa itu adalah kesalahan individu yang mana tidak seharusnya kita menghukum Indonesia untuk itu. Setiap Negara itu juga ada orang baik dan ada orang jahat. Tidak adil kita menghukum orang baik kerana kejahatan orang lain. Sama juga adalah tidak wajar kalau Indonesia menghukum Malaysia ganas gara-gara Nordin M.Top atau individu yang tidak etik (etis) yang memancarkan laser saat perlawanan akhir piala AFF. KERANA ITU KESALAHAN INDIVIDU.

Setiap kali timbul isu berkenaan Indonesia-Malaysia,media seakan menghangatkan. Ya media massa dan cetak (televesi dan Koran) juga memainkan peran penting dalam membina persepsi masyarakat sini. Seperti masyarakat Malaysia yang percaya, masyarakat sini juga terprovokasi dengan “kejahatan” orang Malaysia yang mencuri budaya dan jahat kerana mendera pembantu rumah tangga. Dan juga pasti orang-orang sekitar akan bertanya pendapat kami sebagai warga Malaysia, “kamu pilih yang mana? Malay atau Indo?” jujur itu adalah soalan yang sukar untuk dijawab kerana diri sayang kedua-dua Negara ini. Malaysia tanah tumpah darahku, membesarkan aku dan memberikan kecukupan hidup sedang Indonesia tanah tempatku menuntut ilmu. Tanah berkah yang melengkapkan diri ini dengan pengalaman hidup yang pelbagai untuk menyediakan diri menghadapi hari esok yang penuh cabaran.

Kesimpulannya, belajarlah untuk mengenali dan memahami sebelum menghukum dan membina persepsi dan ingatlah bahawa perbezaan adalah pelengkap.(beda menambah keunikan). Belajarlah untuk menghargai diri sendiri dan orang lain. Kerana matlamat tinggi kita adalah untuk bersama menuju kepada Allah. Kalau yang namanya ukhuwah islamiyah itu merentasi Negara dan bangsa, ras dan warna, adat dan budaya. Berhentilah untuk saling menyalahkan dan belajarlah untuk saling menghargai. Hakikatnya kita semua sama tidak kira Malaysia atau Indonesia. Yang membezakan kita adalah orang baik dengan orang jahat. orang yang beriman dengan orang yang kufur.

~peace for Indonesia & Malaysia~

Isnin, 27 Disember 2010

GARA-GARA SEBIJI BOLA

0



Demam bola sepak Piala AFF Suzuki. Yang menyebabkan demam bertambah panas mencapai suhu tinggi adalah apabila pasukan “saudara tetangga/ musuh tradisi” yang akan bertempur pada liga akhir. Pasukan (tim) Harimau Melaya (pasukan nasional Malaysia) melawan Timnas Garuda Indonesia. Dua pasukan bola sepak yang semakin naik ke persada, keluar dari kepompong kegelapan menuju harapan yang menjulang. Permainan pertama dijalankan di Stadium Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia pada 26 Disember 2010. Sementara permainan kedua akan dijalankan di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta Indonesia pada 29 Disember 2010.


Permainan pertama di Stadium Bukit Jalil sudah lewat. Dan Malaysia mencatat kemenangan 3-0. Apa yang menjadi kekesalan adalah terjadinya insidens pancaran laser ke arah penjaga gol Tim Garuda, Markus sewaktu Malaysia diberikan peluang untuk membuat tendangan bebas dihadapan kotak D gawang lawan. Bekas Pakar Pandangan Mata Hospital Pulau Pinang Dr Zahimi Chik berkata, sinaran laser akan berbahaya kepada mata sekiranya ia mempunyai daya kekuatan yang tinggi seperti yang digunakan untuk pembedahan. Sinaran laser yang lemah tidak akan menjejaskan pandangan mata manusia jika dipancarkan dari jarak jauh contohnya ketika satu perlawanan bola sepak, menurut seorang pakar optometris.

"Sinaran ini akan merosakkan retina jika ia terkena pada titik pandangan visual mata iaitu mekula walaupun dalam jangka masa singkat.
"Bagaimanapun, jika sinaran itu hanya daripada penunjuk laser seperti "laserpointer" yang digunakan orang ramai sekarang, ia tidak berbahaya kecuali dalamjarak dekat," katanya ketika dihubungi Bernama di sini, Isnin.

Beliau berkata, sinaran laser yang mampu dibeli kini hanya mempunyai daya kekuatan yang lemah kerana ia dihasilkan dengan tujuan tidak membahayakan pengguna. Menurut Dr Zahimi, sinaran laser itu mungkin mengakibatkan kesan penglihatan sementara jika disasarkan secara tetap selama beberapa minit di hadapan mata seseorang.

Alasan medis ini tentunya tidak diterima oleh para supporter Indonesia yang mengganggap bahawa itu adalah aksi provokasi dan penghinaan terhadap Timnas kebanggaan mereka. Ia juga sekaligus menyentap kekuatan Garuda dan ibarat belati yang mencalitkan luka pada sang gagah untuk mengalih tumpuannya. Berbagai tuduhan, kutukan dan tohmahan dilemparkan oleh masyarakat, meletus bagai Gunung Merapi yang tidak tertahan lagi memuntahkan laharnya yang maha dahsyat.

Sibuk diperbincangkan di televisi, situs-situs layar maya, dikampus, di masyarakat. Ada yang menaggapinya secara sangat negative, ada yang menanggapinya secara positif dan menjadikannya sebagai pembakar semangat. Tak kurang juga yang berbalik arah dan meletakkan kesalahan pada tim Merah-putih tersebut. Dari pihak Malaysia juga tidak mahu kalah. Sengaja mendabik dada seakan kemenangan sudah di genggaman. Sengaja tambah menyiram minyak ke bara api yang marak menyala. Akhirnya saling perang mulut. Perang tulisan. Kata mengata.Perang media dan sebagainya dengan tujuan saling menyakiti hati dan mencalarkan kehormatan Negara. Provokasi-provokasi/ isu-isu yang pernah terjadi sebelumnya timbul lagi di permukaan sebagai upaya untuk menambah bara. Isu antara Negara kembali dibahas. Asli rumpun yang sama saling caci mencaci, keji mengeji. Berkata seenaknya tanpa mempedulikan orang yang mendengar atau membaca. Yang ada hanya memuaskan hati masing-masing.


Padahal kerana kesalahan individu-individu yang tidak bertanggungjawab, maka nama Negara turut terheret sama. Seperti kata pepatah melayu “kerana nila (pewarna) setitik, rosak susu sebelanga”. Jiwa menjadi sempit. Hati penuh hasad. Syaitan durjana tersenyum sombong kerna tidak perlu bekerja keras menghasut ummat Rasulullah. Fikiran diselimuti awan gelap yang tidak mahu nyah pergi.


Ah, betapa keadaan ini sangat menyesakkan. Gara-gara sebiji bola, sirna hubungan baik antara Negara, roboh sifat saling mempercaya. Hilang kebaikan yang menggunung sebelumnya. Lupa bahawa kita adalah saudara seagama. Yang bersumpah dengan nama Tuhan yang Esa. Bersyahadat dengan kalimah “La illaha illallah, Muhammadu Rasulullah”. Pudar akhlak Islamiah lupa segalanya.

Ya, gara-gara sebiji bola yang dicipta oleh sistem jahiliah. Perancangan jahiliyah yang telah berakar umbi dalam kehidupan. Jahiliyah yang sekarang pasti sedang bertepuk tangan bangga kerana berjaya melagakan kita. Dan kita ibarat boneka yang hanya menurut skrip cerita. Diperbudakkan oleh sistem kuffar yang sedang menghampiri keruntuhan. Dan yang berazam untuk menarik kita semua bersama dalam keruntuhan itu. Melatah dengan hal yang sangat kecil. Astagfirullahal adzim.. astagfirullahal adzim.. Malu rasanya pada Allah SWT, Yang Maha Menyaksikan. DIA sedang menyaksikan kebodohan kita. Kita mencalari kehormatan Rasulullah SAW yang mengajarkan kita akhlak yang tinggi “sesungguhnya aku di utuskan untuk menyempurnakan akhlak” hanya kerana hal sepele. Kita menyakiti saudara sesama Muslim sedang prinsip ukhuwwah itu menghendaki kita untuk saling meraikan dan saling menjaga. Kita mengeluarkan perkataan busuk tanpa mengira ada tidak orang yang tersakiti kerana perkataan kita. Kita menunding jari menyalahkan orang lain tanpa meletakkan diri kita pada posisi mereka. Waktu menang di sanjung tinggi. Waktu kalah di biar tanggung sendiri.

Ini semua bukan corakan Islam. Ini semua bukan dari tarbiyyah Rasulullah. Orang mukmin itu sifatnya tenang bagai air yang mengalir. Dia tetap teguh sewaktu orang lain bergoncangan, tetap sabar ketika orang lain resah gelisah. Dalam berolahraga, dia berakhlak. Bersukan kerana Allah dan untuk mempertajam ukhuwah. Mengikut tata tertib. Berpakaian sopan menutup aurat. Jujur dan berakhlak menjadi modal utama. Di hatinya berolahraga untuk mempamerkan keindahan islam yang syumul. Yang supporter (penyokong) juga sama. Ada adab dan tata tertibnya. Saling menghormati. Saling menyemangati. Aduh, betapa indahnya Islam jika diterjemahkan ke dalam setiap lapangan kehidupan.

Semoga kekhilafan dalam permainan kali ini serta segala insiden yang berlaku didalamnya akan menjadi pengajaran bermakna buat kedua tim dan pengelola program. Dan semoga saja Allah SWT memberikan keputusan ya terbaik buat kedua Timnas Garuda Indonesia mahupun Skuad Harimau Melaya. Tidak usah pakai emosi. Nikmati saja permainannya. Lagi pula ia tidak lebih dari sebuah permaianan “11 lelaki mengejar sebiji bola”. Tidak perlu terlalu serius dalam menanggapinya.

Sebagai kesimpulan:

Kemarahan (pintu hasutan syaitan) + hawa nafsu + perancangan jahiliyah = masyarakat rendah nilai
Iman (x) ukhuwah (x) akhlak (x) baik sangka (x) saling menghargai (x) perpaduan / “bola”= 0 (hilang semua kebaikan)