
“Jangan melangkah di jalan keputusasaan. Di alam ini terhampar berjuta harapan. Jangan pergi kearah kegelapan. Di alam ini terdapat banyak cahaya…”
Putus asa symbol ketidakberdayaan dan gelap adalah symbol kesesatan. Dalam hidup ini ternyata ada sebagian orang yang lebih cenderung asyik dengan keputusasaan, kekecewaan dan kehilangan harapan. Meskipun kalau mau, dia bisa mendapatkan banyak keadaan yang membuatnya optimis, bersemangat dan penuh harapan. Ternyata, memang ada pula sekelompok orang yang cenderung berada dalam gelap. Meskipun kalau dia mau, dia sebenarnya bisa mengetahui betapa luasnya hidup dan betapa banyak cahaya yang bisa menerangi jalan di hadapannya. Orang yang sudah putus harapan dan lebih suka ada dalam kegelapan adalah kelompok orang yang sama sekali tak merasakan bahagia dan indahnya hidup.
Sederhana sekali Ibnu Qayyim memberi jawaban tentang sumber kebahagiaan hidup, “Allah”. Orang yang telah memiliki rahsia kebahagiaan itu menurut Ibnu Qayyim, akan menjadi raja di dunia dan di akhirat. Di dunia, orang itu disegerakan oleh Allah memperoleh syurga dunia, dan di akhirat, Allah menyediakannya syurga akhirat.
“Hatinya akan memandang, kefakiran adalah kekayaan saat dirinya bersama Allah. Memandang kekayaan itu kefakiran saat dirinya tidak bersama Allah. Kehinaan itu mulia bersama Allah. Kenikmatan itu adzab tanpa Allah. Adzab itu nikmat bersama Allah. Kesimpulannya, dia tidak melihat kehidupan kecuali dengan Allah. Merekalah orang yang mendapatkan dua syurga. Syurga dunia yang disegerakan Allah ketika dia hidup di dunia dan syurga di akhirat yang menantinya..”
[Nafa-5is Al-Fawaidh/202]
Saudaraku,
Tanamkan keyakinan bahawa Allah bersama kita. Ketergantungan hati pada Allah, sebagaimana diuraikan Ibnu Qayyim , hanya bisa dimiliki oleh orang yang sungguh-sungguh membina diri dan mendidik jiwanya. Membina dan mendidik jiwa dengan selalu mengaitkan segala persoalan dari sudut yang benar.
Kebenaran memandang hidup itulah yang menjadikan seseorang memiliki ketenangan jiwa, ketenteraman, kebahagiaan, perasaan lazat dengan iman. Apapun yang terjadi. Seperti ungkapan Ibnu Qayyim, “ orang-orang seperti ini tidak merasa gelisah ketika orang lain gelisah. Tidak takut ketika orang lain takut. Tidak menangis ketika orang lain menangis. Wajah dan hati mereka bersinar kerana cahaya Allah. Lisan mereka tidak terlepas dari dzikir kepada Allah. Mereka sungguh berpacu dengan waktu untuk mengisi catatan amal mereka di hari akhir..” di sanalah inti kebahagiaan.
Saudaraku,
Iman dalam hati kita ibarat pelita. Bila cahayanya meredup berarti kita akan larut dalam gelap dan kehilangan petunjuk dalam menjalani kehidupan. Dan semakin cahayanya menyala, berarti kita semakin bisa melihat segala sesuatu di hadapan kita dengan jelas. Wajar saja bila pelita itu kadang meredup, kerana memang begitulah tabiat iman sebagaimana digambarkan oleh Rasulullah SAW, bahawa iman itu terkadang bertambah dan berkurang. Tapi tentu kita harus berupaya agar ia tidak redup terus menerus bahkan padam. Hanya satu cara untuk menyalakan kembali pelita yang redup itu : Taubat.
Seorang ulama’, bakar Bin Abdillah Al muzani menegaskan:
“Siapa yang bisa menandingimu wahai anak cucu adam dalam hal bertaubat? Engkau bisa datang ke mihrab bilapun yang engkau mahu, untuk menghadap Tuhanmu. Tidak ada apapun yang membatasi antara dirimu dan Tuhanmu. Tidak ada perantara. Tidak ada penterjemah."









