Skinpress Rss

Isnin, 29 November 2010

AIDILADHA DI PAREPARE

0



Alhamdulillah, baru-baru ini Allah telah memberikan peluang kepada diri untuk menyambut hari raya Aidil adha (lebaran idul adha) bersama dengan keluarga salah seorang teman posko ku sewaktu KKN beberapa bulan yang lalu. Temanku ini asli dari Parepare, salah satu kebupaten di Sulawesi Selatan yang terletak 5 jam perjalanan dari Kota Makassar melalui Maros, Pangkep dan Barru..
Kota Parepare terletak di sebuah teluk yang menghadap ke Selat Makassar. Di bagian utara berbatasan dengan Kabupaten Pinrang, di sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Sidenreng Rappang dan di bagian selatan berbatasan dengan Kabupaten Barru. Meskipun terletak di tepi laut tetapi sebagian besar wilayahnya berbukit-bukit.
Rumah temanku adalah salah satu rumah yang terletak di atas bukit. Pemandangan dari halaman rumahnya menampilkan keunikan Kota Parepare yang padat penduduk dan harmonis dengan kombinasi bagian lautan dan daratan yang tampak seimbang. Panorama yang begitu asyik dan membahagiakan. Sempat berjalan-jalan di kota dan ke pasar Senggol yang berada di persisiran pantai. Senggol terletak di jantung kota dan menjadi tumpuan penduduk tempatan. Ada cakar (jualan baju terpakai) daripada Negara-negara Asia. Kata temanku cakar adalah salah satu tempat yang menjadikan Parepare sebagai tempat yang mashyur. Setelah penat berjalan sempat singgah di warung pisang epe dan menikmati pisag epe yang panas dan enak sambil melihat pemandangan Selat Makassar yang damai.
Pengalaman menyambut lebaran bersama keluarga temanku amat menyenangkan. Ibu dan bapa temanku amat bersahabat. Menyambut kehadiranku bagaikan anak sendiri. Walaupun tergolong dalam golongan yang kaya, tak menjadikan mereka sombong dan susah bergaul sebaliknya mereka sangat ramah menghulurkan salam perkenalan. Walaupun bapa temanku seorang pejabat negeri yang sangat sibuk, beliau tetap memberikan perhatian yang penuh terhadap anak-anaknya dan sentiasa memastikan anak-anaknya berada dalam keadaan yang selamat. Buktinya setiap temanku membawaku berjalan-jalan pasti di hantar oleh pekerja bapanya dan ditemani hingga selesai dan selamat pulang ke rumah.
Ibu temanku adalah contoh ibu rumah tangga yang sukses. Setiap hari menguruskan anak-anak dari abang temanku yang paling sulung hinggalah adiknya yang bungsu, Dade’..yang berusia 7 tahun. Ibu temanku memiliki perniagaan cathering untuk mengisi waktu lapangnya. Namun perniagaannya lansung tidak mengalihkan fokusnya dari urusan keluarga. Pernah dalam satu peristiwa, mak cik (tante) menerima suatu pesanan catering secara mendadak hingga membuat beliau teramat sibuk. Pada hari yang sama ada majlis takziah di rumah saudara kepada bapa temanku yag baru meninggal dunia beberapa miggu yag lalu. Kebetulan, bapa temanku sedag di Makassar atas urusa pekerjaan. Tante tetap melapangkan waktu untuk ziarah meskipun perjalanan ke rumah saudara bapa itu letaknya di sidrap yang memakan masa hampir 1 jam setegah perjalanan.
Tiba di Pare sehari sebelum lebaran memberi peluang untuk diri menghulurkan sedikit bantuan pada keluarga temanku membuat persiapan makanan dan membersihkan rumah memandangkan mereka akan mengadakan rumah terbuka pada hari esoknya. Setelah penat menyapu lantai dan membantu mengisi kue ke dalam bekas-bekas kue, diri membantu nenek (saudara teman yang bekerja untuk menguruskan rumah mereka) menyediakan makanan untuk esok. Kata nenek, mereka hanya akan memasak 2 jenis makanan besok.
Tak seperti sewaktu lebaran Aidilfitri yang lalu. Menu untuk besok adalah bakso dan sup pangkep. Sambil membantu menyedia bahan, diri sempat belajar cara memasak kedua makanan tersebut. Kalau bakso cara masakannya mirip dengan cimcum yang diajarkan oleh ummi. Hanya saja campuranya lebih banyak memakai bakso dan sosej di samping ada juga sayur sawi yang turut dimasukkan. Sup pangkep lebih kompleks dengan menggunakan renehan air stok daging dan sayur-sayuran. Uniknya sup pangkep ini adalah antara bahan campurannya adalah telur rebus, taugeh dan pergedel kentang. Sup ini di makan bersama dengan ketupat atau burasa( beras yang dikukus didalam daun pisang).
Merasai suasana lebaran, diri pertama kali solat di lapangan sewaktu Aidil adha. Masyarakat Parepare semua berkumpul di lapangan olahraga Parepare seawall jam 7 pagi untuk menunaikan solat sunat Aidiladha berjemaah dan menurut sunnah untuk mendengarkan khutbah. Terik mentari tidak terasa kerna teruja dengan suasana baru yang dialami. Ramai orang membanjiri lapangan olahraga dan aspal-aspal (jalan tar) di tepi lapangan. Khutbah Aidiladha di sampaikan oleh seorang ustaz yang diterbangkan khas dari Pemeritah Pusat, Jakarta.

Warna-warni busana yang dikenakan masyarakat menunjukkan betapa istimewanya hari tersebut kepada mereka. Tentunya busana yang mereka kenakan tidak sama fesyennya dengan di negaraku. Kalau di Malaysia, kebanyakan gadis dan mak cik-mak cik akan mengenakan baju kurung atau jubah, di sini, fesyennya lebih pelbagai dengan gamis (jubah) yang berbagai gaya dan kombinasi warna. Mini jubah dan baju Bodo yang unik lebih menjadi pilihan utama. Sementara untuk lelaki, kalau di Malaysia, kebanyakan lebih selesa dengan baju melayu, atau baju raihan dengan ketayap atau songkok, di sini, orang-orang banyak mengenakan baju kemeja dilengkapi jas (blazer) dengan sarung dan songkok. Menurut temanku, itu adalah pakaian rasmi kalau di sini. Ada juga yang mengenakan baju koko dengan sarung.
Walaupun berbeza cara sambutannya, intinya masih tetap sama. Kembali semula kepada ajaran Islam yang syumul dan kembali menyingkapi tabir sejarah. Kisah pengorbanan agung nabi Allah Ibrahim dan anaknya Ismail serta isterinya Hajar yang mengorbankan apa yang palig disayanginya dalam rangka mentaati peritah Allah SWT. Betapa syahdunya hati seorang ayah yang terpaksa harus menyembelih leher anak kesayangan yang ditatang bagai minyak yang penuh demi memenuhi tututan Tuhannya. Namun ketaatannya melebihi kasih yang meggunung tinggi tadi kerna dia sedar bahawa anak yang disayanginya itu tetap adalah kepuyaan Allah dan DIA berhak mengambilnya kembali kapanpun dan dimanapun yang dikehendaki. Hingga kekuatan taat itulah yang menyatukan kembali Ibrahim AS dengan putra yang sangat dicintainya setelah Allah menukarkan anak tersebut dengan qibas. Begitulah tarbiyah memilih bahasanya yang tersendiri utuk berbicara. Semoga kita menyambut kedatangan Aidiladha bukan sekadar sebuah perayaan yang disambut atas dasar adat kecuali kita kembali meyingkapi ibrah di baliknya dengan hati yang sedar, jiwa yang hidup dan akal yang terbuka untuk mencontohi inti dari Aidiladha tersebut. Wallahu a’lam..

0 ulasan:

Catat Ulasan