
Bismillahirrahmanirrahim...
alhamdulillah, segala puja dan puji ku persembahkan ke hadrat Rabbul Jalil kerana masih memberikan ku sedikit ruang kesempatan untuk menukilkan sebuah pengalaman yang mungkin berguna buat sesiapa yang membaca. bak kata Solikhin Abu Izzuddin : belajarlah dari pengalaman sendiri dan pengalaman orang lain.
22 June 2010, Allah telah memberikan peluang pada diri untuk mengikuti satu lagi aktiviti yang dianjurkan oleh pihak universiti untuk pelajar tahun 3 perubatan Unhas yaitu Program Investigasi Lapangan berkaitan Occupational health. Kelompokku telah ditugaskan untuk membuat kajian tentang kesan dan risiko bagi orang-orang yang bekerja sebagai Nelayan..
Kami memilih lokasi Losari,kawasan pasar pemborongan ikan yang terbesar di Makassar. Sempat menemuramah 3 orang nelayan yang baru naik dari laut. Kata mereka, selalunya mereka akan keluar untuk menangkap ikan pada petang hari dan pulang semula ke daratan menjelang pagi. kebanyakan mereka menggunakan jala, pukat dan pancing untuk menangkap ikan. ada nelayan yang lebih selesa pergi sendirian dan ada pula yang cenderung pergi berkumpulan. Penghasilan yang mereka peroleh tergantung rezeki mereka pada hari tersebut. ada hari, memperoleh ikan dengan banyak sekali.. ada hari, tak memperoleh walau seekor ikanpun.
Rata-rata dari kaum nelayan ini mempunyai bilangan ahli keluarga yang ramai. ini mendesak para nelayan yang menjadi tulang belakang keluarga untuk membanting tulang tidak kira dalam cuaca apapun. ada yang sanggup meredah ombak besar, mengharung badai laut demi mencari sesuap rezeki. jarang sekali antara mereka yang memikirkan persoalan kesihatan dan keselamatan kerana tuntutan ekonomi yang lebih mendesak.
Apabila ditanyakan, adakah mereka punya peti keselamatan di perahu yang boleh digunakan saat kecemasan atau apa alat pelindung diri (APD) yang mereka miliki untuk mencegah dari kemalangan, mereka seakan terpinga-pinga. mungkin tidak pernah sekali pun terlintas di benak mereka untuk memiliki alat-alat tersebut.
Menurut teori yang kami pelajari di kuliyah Kesehatan Kerja, nelayan relatif lebih beresiko terhadap munculnya masalah kesihatan seperti kekurangan gizi, cirit-birit dan infeksi saluran pernafasan atas (ISPA), yang disebabkan karena persoalan lingkunan seperti sanitasi, air bersih, indoor pollution, serta sedikitnya prasarana kesehatan seperti Puskesmas ataupun Posyandu selain berisiko untuk mendapat penyakit kulit akibat terpajan sinar matahari dalam jangka waktu yang lama.
Status kesehatan nelayan digali dari beberapa karekteristik nelayan meliputi: umur, pendidikan, jumlah anggota keluarga yang menjadi tanggungan, pemakaian alat pelindung diri (APD), tersedianya alat-alat untuk mengatasi kerosakan mesin atau mengatasi bila terjadi badai,jenis kapal, jarak penangakapan, sarana menangkap ikan, lingkungan tempat tinggal (keadaan rumah, sumber air minum, jamban, pembuangan sampah, saluran pembuangan limbah/ got, penyimpanan alat penangkapan ikan), pelayanan kesehatan nelayan (pola pencarian pengobatan, pelayanan kesehatan yang diperoleh dengan pengeluaran untuk biaya kesehatan.
Melihat kehidupan para nelayan ini,kembali tersedar bahawa kita sebenarnya sangat beruntung,sekali santapan tak sah kalau tidak cukup masakan meja, sayur berjenis-jenis,buahan dan pencuci mulut sedangkan mereka para nelayan, kais pagi makan pagi, kais petang makan petang. Amat susah untuk mencari sesuap rezeki yang halal. oleh itu, sama-samalah kita tingkatkan lagi rasa syukur kita kepada Yang Maha Kaya yang memberi rezeki tanpa dipinta.. yang melindungi kita dari bencana kelaparan dan ketidakcukupan.. dan dalam pada itu, ringankanlah tangan kita untuk membantu yang tidak mampu..sesungguhnya tangan yang memberi itu adalah lebih baik..

0 ulasan:
Catat Ulasan