Skinpress Rss

Jumaat, 30 September 2011

PILIH YANG PALING BERAT

0


Tak seorangpun tahu bagaimana dan kapan tempoh hidupnya berakhir. Tak ada yang tahu bagaimana dan kapan tubuh menjadi payah oleh sakit. Saat ia tak bisa lagi secara optimal melakukan ketaatan dan amal-amal soleh sebagai tabungan di hari akhir. Seorang Abdullah b Mas’ud, sahabat dekat Rasulullah SAW pun pernah menangis saat menderita suatu penyakit, di detik-detik akhir hayatnya. “Aku menangis karena aku justeru menderita sakit, pada saat amal ibadahku berkurang, bukan pada saat aku semangat.”

Karena itu Umar bin Khattab RA mengatakan “ Hasibu anfusakum qabla tuhasabu,” berhitunglah pada dirimu sendiri, sebelum engkau dihitung di hari akhir. “Kafaa bi syaibin wa’izan”, cukuplah uban di kepala itu menjadi peringatan, begitu filosofi para salafussoleh untuk mengingat dekatnya waktu “panggilan” Allah SWT.

Saudaraku,
Inilah dering peringatan hati yang harus sentiasa ada dalam diri kita. Dering ini yang akan memicu kesadaran diri untuk segera bekerja sungguh-sungguh, meninggalkan kelezatan semu, palsu dan menipu. Jadilah seperti para sahabat yang berjuang dengan diri, harta dan waktu mereka untuk menegakkan agama Allah. Mereka memindahkan pandangan dan pertimbangannya dari amal duniawi kepada amal ukhrawi. Berkah pengenalan Allah yang tinggi, menuntun hati mereka untuk selalu bisa mengenali sesuatu yang lebih utama.

Saudaraku,
Laksanakanlah hak-hak waktu terutama yang tidak dapat diganti pada waktu yang lain. terlalu banyak hak waktu yang harus ditunaikan, sehingga sebanyak apapun orang beramal, sebenarnya hak waktu takkan habis. Ibnu Ataillah menyebutkan, “Usia dan hembusan nafas kita sangat terbatas. Yang sudah pergi berlalu takkan kembali.” Panjang pendek usia manusia memang sepanjang ia bisa bernafas. Hembusan nafas sama dengan detak jantung , dan mengalirkan darah sebagai tanda kita masih hidup. Hidup kitapun berakhir dengan tersumbatnya saluran nafas, berhentinya detak jantung dan aliran darah. Sederhana sekali. Tapi sangat mahal harganya..

Saudaraku,
Salah satu keadaan yang menyebabkan seseorang surut, longlai, dan tidak konsisten dalam ketaatan, dalam perjuangan, dan dalam pengorbanan, adalah ketika ia tidak menyedari sempitnya waktu untuk beramal. Kondisi ini antara lain muncul dalam sikap taswif, yakni menunda-nunda, santai dan berlambat-lambat melakukan amal soleh. Ulama’ islam asal Quwait, Syeikh jasim Muhalhil, menyatakan penyakit taswif tersebut pada akhirnya akan menjadikan seseorang lambat bergerak, dan akhirnya lumpuh. Benarlah sabda Rasulullah SAW,

“Tidaklah suatu kaum berlambat-lambat dalam suatu urusan, sampai Allah menjadikannya benar-benar lambat” [HR Turmidzi]

Kenapa demikian? Karena menunda-nunda pekerjaan menjadi hak waktu, pasti akan menggeser hak waktu lain yang sebenarnya mempunyai hak yang harus ditunaikan juga. Begitu seterusnya. Pergeseran itu, akan berdampak pada menumpuknya hak-hak waktu yang lain hingga akhirnya menjadi sulit dipenuhi.

Sebab itulah, saudaraku, Hasan Al Basri menegaskan: “Jauhi sifat menunda-nunda. Nilai dirimu tergantung pada hari ini, bukan hari besok. Kalau besok engkau beruntung, berarti keuntunganmu akan bertambah bila hari ini engkau telah beramal. Dan kalau besok engkau rugi, engkau takkan menyesal karena telah beramal pada hari ini” [Az-zuhd,4]

Saudaraku,
Ingat, kita hanya memiliki waktu sedikit untuk beramal soleh. Jauhi bisikan syaitan yang mengarahkan kita mengerjakan prioritas pekerjaan nisbi dan semu. Jangan terjerumus pada pertimbangan yang keliru dalam menunaikan hak waktu. Bila suatu waktu kita merasa sulit menimbang amal atau hak waktu apa yang harus lebih dahulu kita tunaikan, camlah nasihat

Ibnu Ataillah berikut ini:
“Jika kabur bagimu dua perkara, maka perhatikanlah salah satu dari keduanya yang paling terasa berat bagi nafsu, lalu ikutilah ia. Karena tidak ada sesuatu yang terasa berat bagi nafsu kecuali sesuatu itu yang benar.”

Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada kita untuk selalu berada dalam ketaatan kepadaNya..

Rabu, 28 September 2011

JANGAN PERNAH MENGALAH DENGAN UJIAN

0


Saudaraku,
Suatu ketika, mungkin kita pernah berfikir, betapa berat dan kerasnya perjalanan hidup ini. Saat hati kita seolah tak mampu lagi menahan beban masalah. Saat kita merasa longlai, lemah dan berat melangkahkan kaki, merasa tidak kuat dan bingung menghadapi berbagai suasana hidup yang sulit dan berat. Ketika kita tak lagi merasa mampu berdiri menopang beban berat yang harus dipikul.
Tidak. Semua itu bukan tanda-tanda kelemahan yang patut disesali. Sebab manusia memang diciptakan dalam keadaan serba lemah. Tapi Allah berjanji tidak akan menimpakan beban masalah kepada seseorang, di atas batas kemampuan orang tersebut untuk memikulnya.

Hamka pernah mengatakan bahawa tingkat cobaan iman itu tak ubahnya dengan anak tangga yang bertingkat-tingkat. Tiap satu anak tangga dinaiki, datang dari bawah suatu pukulan hebat mengenai tubuh orang yang mendaki. Kalau tangannya kuat bergantung, kalau kakinya kuat berpijak, dan kalau akal fikirannya tetap waspada, pukulan itu malah akan mendorong menaikkannya ke anak tangga yang lebih tinggi. Tapi kalau tangannya lemah, kakinya tidak kuat, akalnya hilan, pikirannya kusut, maka pukulan itu akan dapat menjatuhkan dan merobohkannya. Yang paling disayangkan, kalau robohnya tidak hanya satu dua anak tangga ke bawah, tapi jatuh ke anak demi anak tangga dibawahnya yang sangat banyak. Bahkan kerna lemahnya, seseorang itu bisa sulit bangkit lagi.

Dalam ungkapan yang lain Imam Hasan Al-Basri mengatakan, “ketika badan sehat dan hati senang, semua orang mengaku beriman. Tapi setelah datang cobaan, barulah diketahui benar tidaknya pengakuan itu. Orang yang ingin permintaannya cepat terkabul hari ini, dan tidak sabar menunggu, itulah orang yang lemah iman”.
Iman kepada Allah memang menghendaki perjuangan, pengorbanan sekaligus keteguhan hati. Jangan menuntut kemenangan lahir, kerna kita selalu menang di alam batin. Para nabi, daie dan mujahid mujahidah memikul beban dakwah yang berat, memikul perintah Allahdan kerna itulah mereka tempuh kesulitan. Pertama untuk membuktikan cintanya pada Allah dan kedua untuk menggembleng batinnya agar menjadi semakin kukuh.

Saudaraku,
Di situlah tersimpan kekuatan iman. Tanpa kekuatan iman, sujud dan rukuk menjadi kering. Kerana sesungguhnya ia laksana dahan yang berasal dari batang keimanan. Dahan akan kurus, daun akan kering bila batang tidak memiliki akar yang kuat, kukuh dan tidak mudah goyah diterpa angin dan badai. Dahan dan ranting sangat tergantung oleh suplai makanan dari batang dan akar. Batang dan akar itulah bahan dasar kepada iman.

Saudaraku, sekali lagi,
Jangan pernah kalah oleh beratnya cobaan hidup. Tidak semua permintaan kita harus dikabulkan. Karena Allah lah yang lebih mengenal batin kita daripada diri kita sendiri. Teka teki hidup ini sangat banyak. Jangan menyangka Allah lemah dalam menolong hambaNya.

Saudaraku,

Lalu kapan, dan bagaimana pertolongan serta bantuan Allah itu? Ibnu Atailah memberi pengarahan yang sangat bagus dalam hal ini.

“tampilkanlah dengan sesungguhnya sifat-sifat kekuranganmu, nescaya Allah menolongmu dengan sifat-sifat kesempurnaanNya, bersungguh-sungguhlah dengan kehinaanmu, nescaya Allah menolongmu dengan kemuliaanNya. Bersungguh-sungguhlah dengan ketidakberdayaanmu, nescaya Allah menolongmu dengan kekuasaanNya. Bersungguh-sunggiuhlah dengan kelemahanmu, nescaya Ia menolongmu dengan kekuatanNya”

Pertolongan, bantuan, dukungan, kemenangan dari Allah itu pasti. “adalah hak bagi Kami menolong orang-orang beriman” [QS ArRum : 47]. Sedetikpun Allah tidak pernah tinggalkan hambaNya yang beriman. Dan, jika Ia berkehendak, tak ada yang dapat menghalangi turunnya pertolongan dan bantuanNya. Masalahnya hanya ada pada proses turunnya pertolongan dan bantuan itu. Karenanya sekali lagi, jangan pernah kalah dengan Cobaan..

Isnin, 26 September 2011

MERIT KAK ANHY

0


Event pertama dikalangan anak-anak KKN ku menghadiri majlis pernikahan kakak kesayangan kami semua, Kak Anhy.. meski undangannya agak mendadak, namun Alhamdulillah berjaya mengintai kesempatan dalam kesempitan waktu untuk turut hadir. Kak Anhy katanya akan berpindah ke Kalimantan mengikuti suaminya yang bekerja di sana beberapa hari setelah majlis pernikahannya nanti.. aduh, makin susah dan sempit peluang untuk bertemu dengan kakak yang heboh dan riang itu.. kesedihan melanda sejenak meski kebahagiaan lebih dominan.. andai waktu dapat dibekukan… namun itulah adat kehidupan.. setiap pertemuan akan beriring dengannya perpisahan. Tidak tahu bila peluang untuk sama berkumpul akan kembali menjengah.

Setelah hampir lebih setahun terpisah setelah pulang dari KKN dulu, pertama kalinya pertemuan ini hampir lengkap dihadiri. Walau masih kurang Amel dan Wawan yang terpaksa bertugas di hari bersejarah Kak Anhy ini, namun kehadiran teman-teman yang lain amat bermakna. Menyulam kembali jalinan yang kian terurai dimakan dek sesaknya waktu. Ada Uul dan Ayong yang menyempatkan waktu walau masing-masing sibuk dengan cari penderita dan urusan koasnya, ada Ochy yang masih ceria seperti selalu, Rahma yang tetap semangat biar flu dan demam menjerat diri, Winda, sang bintang Polaris yang menceriakan keadaan. Iyan yang kalem (tenang)dan sedang mengikuti pelatihan dosen (lecturer),Kiki, pramugari yang lincah dan heboh. Adit yang masih bergelut dengan ujian dibagian akhir tingkat 4, Fitrah yang masih ceria seperti selalu meski kesibukan skripsi dan asistensi yang menggunung, Irfan yang baru-baru baik dari sakit.. wah seperti lama sekali tidak bertemu..

Jumaat, 23 September 2011

TRAKTIRAN WINDA

0


And so we talked all night about the rest of our lives,
Where we're gonna be when we turn twenty-five
I keep thinking times will never change
Keep on thinking things will always be the same.
But when we leave this year we won't be coming back
No more hanging out because we’re on a different track
And if you got something that you need to say
You better say it right now because you don't have another day

Because we're moving on and we can't slow down
These memories are playing like a film without sound
And I keep thinking of that night in July
I didn't know much of love but it came too soon
Stay at home talking on the telephone, with me
We'd get so excited and we'd get so scared
Laughing at ourselves thinking life's not fair

And this is how it feels.

As we go on,
We remember,
All the times we,
Had together,
And as our lives change,
Come whatever,
We will still be
Friends Forever.

So if we get the big jobs and we make the big money
When we look back now will our jokes still be funny?
Will we still remember everything we learned in school,
Still be trying to break every single rule?
Will little brainy Bobby be the stockbroker man?
Can Heather find a job that won't interfere with her tan?
I keep, keep thinking that it's not goodbye
Keep on thinking it's our time to fly

And this is how it feels

Will we think about tomorrow like we think about now?
Can we survive it out there?
Can we make it somehow? (somehow)
I guess I thought that this would never end
And suddenly it's like we're women and men
Will the past be a shadow that will follow us 'round
Or will these memories fade when I leave this town?
I keep, keep thinking that it's not goodbye
Keep on thinking it's our time to fly


* Credited to Winda, Iyan, Ochy & Rahma.. congratulation for the graduation.. Win, thanks for the “traktiran” hihi.. eventhough feeling a bit unhealthy, but it’s always really exciting hanging out with you.. thanks for a cozy day..
* The best coconut shake I’ve tasted because having you around and the unforgettable shoot from Canon camera that worth our while.. great moment together ^_^

Rabu, 21 September 2011

HARI LAHIR AIMI SOLEHAH

0


18 September 2011 lalu,

Hari lahir Aimi Solehah. Junior angkatan 2011 yang baru beberapa bulan menapak di bumi Makassar. Meski usia perkenalan masih terlalu baru, namun ikatan iman seakan memberi rasa perkenalan yang berusia sudah cukup lama. Ruh ukhuwah yang menghubungkan kami. Alhamdulillah berpeluang membawa mereka keluar makan bersama di Piza Ria. Walau tidak jauh namun keluar bersama memberi ruang yang lebih untuk taaruf berjalan. Biar usia jauh berbeza namun mereka, diri rasakan ibarat sahabat yang akan menjadi cerminan diri dan akan membantu kondisi iman yang sifatnya turun naik. Semoga Allah sentiasa memelihara ikatan yang terbina ini semata kerna mencari redhaNya..

Aimi, aikku.. saham akhiratku..

Selamat Hari Lahir yang ke-19.. semoga sentiasa dalam lindungan Allah dan dikurniakan kebahagiaan hidup dunia akhirat.. amin.. semoga Allah memelihara dirimu dari segala karat jahiliyah yang pekat di sekelilingmu dan semoga taman imanmu sentiasa subur dengan bajaan taqwa dan siraman halwa ikhlas..



Selasa, 20 September 2011

TERANGI KEGELAPAN

0


“Jangan melangkah di jalan keputusasaan. Di alam ini terhampar berjuta harapan. Jangan pergi kearah kegelapan. Di alam ini terdapat banyak cahaya…”

Putus asa symbol ketidakberdayaan dan gelap adalah symbol kesesatan. Dalam hidup ini ternyata ada sebagian orang yang lebih cenderung asyik dengan keputusasaan, kekecewaan dan kehilangan harapan. Meskipun kalau mau, dia bisa mendapatkan banyak keadaan yang membuatnya optimis, bersemangat dan penuh harapan. Ternyata, memang ada pula sekelompok orang yang cenderung berada dalam gelap. Meskipun kalau dia mau, dia sebenarnya bisa mengetahui betapa luasnya hidup dan betapa banyak cahaya yang bisa menerangi jalan di hadapannya. Orang yang sudah putus harapan dan lebih suka ada dalam kegelapan adalah kelompok orang yang sama sekali tak merasakan bahagia dan indahnya hidup.

Sederhana sekali Ibnu Qayyim memberi jawaban tentang sumber kebahagiaan hidup, “Allah”. Orang yang telah memiliki rahsia kebahagiaan itu menurut Ibnu Qayyim, akan menjadi raja di dunia dan di akhirat. Di dunia, orang itu disegerakan oleh Allah memperoleh syurga dunia, dan di akhirat, Allah menyediakannya syurga akhirat.

“Hatinya akan memandang, kefakiran adalah kekayaan saat dirinya bersama Allah. Memandang kekayaan itu kefakiran saat dirinya tidak bersama Allah. Kehinaan itu mulia bersama Allah. Kenikmatan itu adzab tanpa Allah. Adzab itu nikmat bersama Allah. Kesimpulannya, dia tidak melihat kehidupan kecuali dengan Allah. Merekalah orang yang mendapatkan dua syurga. Syurga dunia yang disegerakan Allah ketika dia hidup di dunia dan syurga di akhirat yang menantinya..”

[Nafa-5is Al-Fawaidh/202]

Saudaraku,
Tanamkan keyakinan bahawa Allah bersama kita. Ketergantungan hati pada Allah, sebagaimana diuraikan Ibnu Qayyim , hanya bisa dimiliki oleh orang yang sungguh-sungguh membina diri dan mendidik jiwanya. Membina dan mendidik jiwa dengan selalu mengaitkan segala persoalan dari sudut yang benar.

Kebenaran memandang hidup itulah yang menjadikan seseorang memiliki ketenangan jiwa, ketenteraman, kebahagiaan, perasaan lazat dengan iman. Apapun yang terjadi. Seperti ungkapan Ibnu Qayyim, “ orang-orang seperti ini tidak merasa gelisah ketika orang lain gelisah. Tidak takut ketika orang lain takut. Tidak menangis ketika orang lain menangis. Wajah dan hati mereka bersinar kerana cahaya Allah. Lisan mereka tidak terlepas dari dzikir kepada Allah. Mereka sungguh berpacu dengan waktu untuk mengisi catatan amal mereka di hari akhir..” di sanalah inti kebahagiaan.

Saudaraku,
Iman dalam hati kita ibarat pelita. Bila cahayanya meredup berarti kita akan larut dalam gelap dan kehilangan petunjuk dalam menjalani kehidupan. Dan semakin cahayanya menyala, berarti kita semakin bisa melihat segala sesuatu di hadapan kita dengan jelas. Wajar saja bila pelita itu kadang meredup, kerana memang begitulah tabiat iman sebagaimana digambarkan oleh Rasulullah SAW, bahawa iman itu terkadang bertambah dan berkurang. Tapi tentu kita harus berupaya agar ia tidak redup terus menerus bahkan padam. Hanya satu cara untuk menyalakan kembali pelita yang redup itu : Taubat.

Seorang ulama’, bakar Bin Abdillah Al muzani menegaskan:

“Siapa yang bisa menandingimu wahai anak cucu adam dalam hal bertaubat? Engkau bisa datang ke mihrab bilapun yang engkau mahu, untuk menghadap Tuhanmu. Tidak ada apapun yang membatasi antara dirimu dan Tuhanmu. Tidak ada perantara. Tidak ada penterjemah."

Ahad, 18 September 2011

SANAH HELWA JAMEELAH KAKAKKU

0


Selamat Hari Lahir buat kakakku.. semoga Allah melindungimu selalu. memberikanmu usia yang berkah, kebahagiaan hidup dunia akhirat. menjadi anak yang soleh, isteri yang solehah, ibu mithali, penegak hukum yang adil dan semoga terus thabat di atas jalan dakwah dan tarbiyah.. sayang kakak..