Skinpress Rss

Isnin, 29 Oktober 2012

OCTOBER EVE

2



Jadikan semalam untuk dimuhasabah
Hari ini untuk kita usahakan
dan hari esok, Untuk matlamat kerana Allah

~Saranghyeyo Chinguya~

Ahad, 28 Oktober 2012

PUISI BUAT NENEK

0


Bergetar hatiku saat senyummu menyambut hadirku
Mata tuamu mungkin sudah tidak bisa mengidentifikasi dengan baik
Memorimu mungkin sudah tidak sebaik hari kemarin
Namun sentuhanmu tidak pernah dingin dari bayu kasih

Sebak jiwaku saat tangan tuamu menggenggam erat tanganku
Saat daku memimpin tanganmu masuk ke ruang
Memegang payung tuamu adalah satu kehormatan

Aku juga pernah punya nenek
Yang bisa kupimpin tangannya menyusuri jalan kuburan
Untuk menebar ziarah beberapa waktu yang lalu
Aku masih punya peluang untuk mengecup dahinya yang berkedut-kedut
Mencium pipinya yang sudah kendur
Dan menyalami tangannya yang sudah menua dikunyah waktu
Namun kesempatan itu sudah sirna
Saat Tuhan memanggilnya kembali ke sisi Rabbi

Aku tidak punya kesempatan lagi untuk mengulang waktu dengannya
Melewati hari kemarin saat dia masih disisiku
Saat Tuhan masih memberiku ruang untuk berbakti padanya
Bahkan untuk merenung pada redup sinar sepasang mata tua itu
Kesempatan yang sama sekali tidak akan berulang!!

Ya, mungkin Tuhan masih menyanyangiku
Memberiku ruang untuk menyaksikan lagi kasih nenek lewat matamu
Meski Cuma sebentar tapi ia bisa meneduhkan rindu yang takkan pernah kelar
Semoga Kau merahmati ruhnya dan menempatkannya dikalangan orang soleh
Amin.

amni_shamrah
~22.30pm~
28 October 2012



SPASI

2


Seindah apapun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi?

Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang jika ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.

Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi. Darah mengalir deras

dengan jantung yang tidak dipakai dua kali. Jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah. Jadi jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang.

Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat. Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.

Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring. Kawan!
copas: dee_lestari

Jumaat, 26 Oktober 2012

EID ADHA ~ARTI SEBUAH PENGORBANAN

0


“Dan ketika Ibrahim diuji Rabbnya dgn beberapa kalimat lalu Ibrahim menunaikannya..” . Allah memerintah Ibrahim as berhijrah ke Mekah. Perintah ini bukan kali pertama bagi Ibrahim. Sebelumnya beliau telah menunaikan hijrah beberapa kali dari Babilon ke Palestina; dari Palestina ke Mesir; dari Mesir ke Palestina lagi. Semua beliau lakukan demi risalah suci. 

Hijrah ke Mekah kemudian menjadi peristiwa yg monumental di dalamnya syarat dgn pelajaran utk sebuah pengorbanan sejati. Sekurang-kurangnya ada tiga aktor yg berperan penting Ibrahim Hajar Isma’il. Ketinganya mewakili tiga unsur keluarga bapak istri dan anak. Adalah Ibrahim as yg sudah berumur mengharapkan keturunan. Allah kemudian memberinya Isma’il. Bukan main girang dan bersyukurnya Ibrahim ia mendapat karunia yg selama ini selalu dimintanya. Sampai akhirnya datang perintah hijrah ke tempat yg kini dikenal dgn Mekah. Ibrahim Hajar dan Isma’il pergi menuju padang gersang yg tak bertuan itu. Tiada penduduk tiada tempat tinggal tiada tanaman tiada air. Di tempat itulah Ibrahim rela meninggalkan istri dan bayinya. Semua ia lakukan demi perintah Allah. Tak banyak bekal yg beliau tinggalkan kecuali seteko air dan sekantong makanan. Ibnu Katsir menceritakan saat Nabi Ibrahim hendak berlalu sang istri menarik tali kekang tunggangannya dan bertanya “Apakah Kanda akan meninggalkanku bersama anakmu di tempat yg tiada tanaman lagi ?” Ibrahim as terdiam. Hajar mengulangi pertanyaannya hingga tiga kali dan tetap saja Ibrahim diam. Sampai akhirnya Hajar mengganti pertanyaan “Apakah Allah yg memerintahkanmu melakukan hal ini?” “Benar” jawab Ibrahim. Hajar menimpali “Jika demikian Allah tidak akan mempersulit kami.” Sungguh sebuah dialog yg menusuk hati. Merefleksikan kedalaman iman. 

Tercermin ketundukan sekaligus pengorbanan yg menakjubkan. Berhijrah meninggalkan kemapanan dan barangkali rumah pekerjaan sanak keluarga serta nilai materi dunia lain menuju tempat yg gersang tak bertuan tak ada jaminan keamanan tidak juga makanan dan minuman apalagi sanak keluarga dan handai taulan. Sebuah sikap dan keputusan yg memancarkan nilai tawakal dan iman yg begitu tinggi bahwa hanya Allah yg Maha Menghidupkan Maha Mematikan Maha Memberi Rezeki. Meyakini dan mewujudkan keyakinan tersebut dalam praktik tentu tidak semudah meyakininya dalam teori. Tidak semudah menghafal lafaz-lafaz asmaul husna. Ibrahim beserta keluarga tidak sedang berteori tetapi tangah mengartikulasikan sebuah teori. Sampai akhirnya terjadilah peristiwa bersejarah. Perbekalan air dan makanan Hajar habis. Isma’il a.s. menagis kehausan krn ibunya tak lagi dapat mengeluarkan ASI. Sang ibu kelabakan ia berlari berusaha mencari air di antara Bukit Shofa dan Marwa. Usahanya tak menuai hasil. Terjadilah mukjizat isma’il menjejakkan kakinya dan terpancarlah air. Hajar berseru “Zummi? zummi? .” Sang air kemudian mengumpul jadilah ia telaga zam-zam. Dalam syariat haji kesabaran dan keyakinan keluarga Ibrahim diabadikan dalam amal sa’i. Selesaikah ujian? ternyata belum. 

Ketika Isma’il menginjak dewasa dan sampai pada umur sanggup berusaha bersama ayahnya Ibrahim mendapat wahyu utk menyembelih sang anak. Ibrahim berkata “Wahai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Sungguh sebuah perintah yg tiada terkira pengorbanannya baik bagi sang bapak maupun sang anak. Keimanan keduanya ditantang. Pernyataan Isma’il sungguh memukau “Ia menjawab ‘Hai Bapakku kerjakan apa yg diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yg sabar’.” . Akhirnya perintah itu ditunaikan. Saat Ibrahim hendak menyembelih anak kesayangannya setan datang mengganggu. Ibrahim sadar akan gangguan maka dilemparlah setan dgn batu. Gangguan terjadi hingga tiga kali. Peristiwa ini diabadikan dalam syariat haji berupa “lempar jumrah”. Ketika mata pisau Ibrahim hendak menyentuh leher Isma’il Allah menahan mata pisau itu dan menggantikannya dgn seekor domba. Kisah ini dikenang dalam syariat penyembelihan hewan kurban pada tiap musim haji. Demikian Ibrahim as sang suri tauladan. Kecintaan yg purna terhadap Allah menghantarkan ia lulus ujian. “Dan ketika Ibrahim diuji Rabnya dgn beberapa kalimat lalu Ibrahim menunaikannya..” .

 Kisah di atas hanya salah satu bentuk ujian baginya. Sebelumnya Ibrahim juga menghadapi ujian-ujian yg luar biasa. Dan Ia selalu lulus. Para Mufassirbanyak menyebutkan bentuk-bentuk ujian Ibrahim dan ia selalu sukses menjalaninya. Bukan hanya Ibrahim yg mencontohkan pengorbanan di atas. Istri dan anaknya demikian juga. Sungguh sebuah komposisi yg ideal ada teladan seorang bapak teladan seorang istri dan teladan seorang anak. Ketiganya adl pilar sebuah keluarga. Baik buruknya sebuah keluarga menjadi kunci utama baik buruknya sebuah masyarakat. Karena masyarakat terbangun atas sekumpulan keluarga demikian seterusnya. Sungguh tak terbayang betapa indah sebuah bangunan masyarakat jika unsur-unsur masyarakatnya adl manusia terdidik seperti terdidiknya keluarga Ibrahim? Manusia-manusia bertauhid yg meletakkan kecintaan terhadap Allah di atas segala-galanya? 

Kisah pengorbanan Ibrahim sekeluarga menjadi “monumen” sejarah. Ia selalu diperingati tiap tahun dalam syari’at haji dan kurban pada tiap Dzulhijjah. Bukan tanpa maksud melainkan utk ditauladani. Dari sini masing-masing dapat bermuhasabah sudahkah kecintaan kita terhadap Allah berada di atas segala-galanya melebihi cinta kita terhadap pekerjaan tempat tinggal dan harta? melebihi cinta kita terhadap anak istri bahkan kedua orang tua? melebihi cinta kita terhadap yg paling berharga dalam hidup nyawa kita? Semua berpulang pada diri kita. Masing-masing pribadi yg tahu jawabannya. Wallahu a’lam bish shawab. .




Isnin, 15 Oktober 2012

LINGKARAN SEMPIT

0



Kelak ketika kamu beranjak usia , hidupmu akan semakin disibukan oleh banyak hal , saat itu kamu akan sadar , bahwa kamu merasa jauh dari teman.

atau , teman-temanmu yang semakin jauh , sibuk dalam dunianya masing-masing.

ketika itu aku paham akan kata seseorang bahwa “teman itu bukan seberapa banyak , tapi seberapa dalam”.

kelak , hanya akan sedikit dari teman-teman mu yang menanyakan kabarmu , mengajakmu jalan-jalan , atau berkumpul. Mungkin pun sekedar reuni sehari di sekolah , setelah itu kembali ke posisi masing-masing.

kelak hanya akan sedikit temanmu yang bisa kamu ajak bicara , berbagi pendapat tentang idealisme dan banyak hal lain dimasa muda , hingga ketika kamu hendak menghubungi mereka dari handphone mu , kamu pun mulai menyeleksi mereka dengan sendirinya.

yang akan kamu hubungi adalah teman yang terdekat , sebuah kedekatan yang dibangun dimasa muda , bukan sekedar tau nama , sapa sekali , kemudian lupa.

kelak hanya akan sedikit dari temanmu yang ingat tanggal lahirmu , itu tidak begitu penting bukan ?

kelak ketika usia mu semakin beranjak , kamu akan tahu dengan sendirinya berapa sebenarnya teman yang kamu miliki.

ketika kamu menyadarinya , kamu akan sangat bersyukur memilikinya , bukankah sesuatu yang sedikit itu justru sangat nikmat dan berkesan ?

kelak lingkaranmu akan semakin sempit , tapi justru semakin dalam.

iya , teman itu bukan seberapa banyak yang kamu miliki , tapi seberapa dalam :)

==================================================

Dan saya menemukan lingkaran sempit itu disini ... :') :) ^_^ :D
#REPOST
[FZM]

~benarlah...~ 
“teman itu bukan seberapa banyak , tapi seberapa dalam” bukan seberapa lama bersama tapi seakrab mana kebersamaan itu..people choose to be with others but come to the one they feel save with..

Jumaat, 12 Oktober 2012

MAPPENRE BOTTING

2



Menghadiri pernikahan adiknya Winda, Rusdi. Satu lagi pengalaman berharga buat diri. Mungkin biasanya menghadiri pesta pernikahan pas hari H nya. Bedanya kali ini berpeluang menghadiri dari awal proses pernikahan. Dari masak-masak hingga ke resepsinya. Iya mengenal adat bugis dengan lebih mendalam.

Acara mappettu ada (proses menentukan hari dan hal lain menyangkut pernikahan), yakni proses pembicaraan waktu pelaksanaan dan jumlah dui pappenre yang haruskan diserahkan oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan akhirnya digelar. Katanya jika mappetu ada sudah digelar, adalah aib jika harus membatalkan keputusan yang telah disepakati. Adannami tau’e na tau, manusia hanya bisa dianggap manusia jika dia menepati kata-kata yang telah diucapkannya.

Orang-orang bugis sangat menjunjung tinggi nilai kekeluargaan. Saat ada sanak saudara yang menikah, mereka meninggalkan rumah beberapa hari. Selain untuk membantu keluarga yang punya hajatan, juga untuk berkumpul dengan keluarga-keluarga lain dari luar kampung. Kerna banyaknya tamu menginap, kecuali tidur melantai dirumah hingga pemandangan menjadi seperti kemah pengungsi. Malam ini kami bergotong royong memasak masakan untuk besoknya. 

Menu bakso untuk pengajian tidak terlalu ribet. Hanya bakso, kuahnya, daun-daun, bawang goreng dan sambal yang perlu dipersiapkan.. serta pasangan abadinya burasa (ketupat yang dibungkus menggunakan daun pisang. Berbentuk lonjong. Harus direbus kurang lebih 2 jam untuk menantinya masak)Turut sibuk ibu-ibu menyiapkan manisan yang selalu muncul di acara pernikahan. Barongko (pisang yang dikisar dan dimasukkan ke dalam acuan daun pisang) turut dibuat. Selain pudding dan kek bolu sebagai santapan. Diri sempat diajar cara membuat barongko tersebut dari mengisar pisangnya hinggalah acuan dibuat dari daun pisang hingga nanti tinggal diisi dan dikukus lagi.

Besoknya pengajian digelar. Seorang ustaz dipanggil untuk memberikan ceramah tentang pernikahan. Malam sebelum hari pernikahan, biasanya diadakan pengajian atau mappaci sebagai majlis doa selamat untuk peristiwa besar yang akan dilalui. Besoknya sebelum berangkat ke rumah pengantin perempuan ada yang namanya acara sungkaman (mempelai meminta maaf dan doa restudari kerabat terdekatnya) dalam hal ini ayah, ibu, nenek, kakak dan saudara terdekat. Kaget juga melihat keluarga atau kerabat terdekatnya tante dan omnya menangis-nangis saat prosesi ini. Susah diartikan makna airmata tersebut. Airmata bahagia atau sedih melepas Rusdi menikah.

Sarapo (panggung yang didirikan disamping rumah sebagai tempat berkumpul saat pernikahan) telah berdiri. Keluarga dari segala penjuru telah berkumpul. Walasoji (kotak persegi dari bambu untuk mengantarkan seserahan pada mempelai wanita) telah terisi. Kelapa pelambang keutuhan rumah tangga, tebu symbol manisnya cinta, nangka sebagai harap agar kasih sayang itu selalu besar. Semua telah siap! Belasan bunga desa dengan baju bodo siap membawa bosara (tatakan piring dengan pegangan dibawah dan punya penutup khusus). Pemuda pun tidak kalah gagahnya dengan balutan jas tutup dan songkok To Bone (songkok khas orang bugis dari anyaman berhias emas dan sutera) siap mengangkat walisoji.

 Tiba-tiba mama Winda memanggil diri dan meminta untuk membawakan salah satu seserahan berupa Al-Quran dalam kotak baldu yang akan digandingkan dengan walasoji yang akan diserahkan setelah akad nikah nanti. Jadilah diri berada dibarisan depan bersama sepupunya Winda untuk mengetuai gadis desa berbaju bodo membawa seserahan menuju ke rumah mempelai perempuan. I’m a part of the ceremony.. benar-benar beda rasanya.. ^_^ Acara mappenre botting (proses mengantar mempelai pria ke rumah mempelai wanita untuk akad nikah) digelar. Meski terusik dengan denyut jantung yang seolah ditabuh, Rusdi tetaplah tersenyum dengan pakaian pengantin khas bugis-nya. Tenang mengatur langkah dengan mantap menuju ke rumah mempelai perempuannya.

Akad selesai. Pengantin naik ke panggung. Diiringi elekton kelas atas dengan lagu khas Bugis “Alosi Ripolo Dua”.. Bagai Pinang Dibelah Dua.

Kuripancaji ri lino
Engka riwatang kalemu
Mulle purani totoku
To sipa’dua siruntu
[ku tercipta/lahir di dunia
ADA di dalam dirimu
mungkin sudah takdirku
berdua saling bertemu]

Muripancaji ri lino
Tudang riwatang kalemu
Lettu campana rilino
Sipa’dua metteru
[kamu tercipta/lahir di dunia
duduk/bertahta di jasadmu/dirimu
sampai akhir dunia
berdua selamanya..]

Tappamu na tappaku
Sirupa na de na pada

Iyaro tanranna topuri sitoto
[Wajahmu dan wajahku,
serupa tapi tidak sama,
itulah tandanya kita sejodoh]

Matammu na mataku
Alosi si polo dua
Pappada bungae sibawa daunna
[matamu dan mataku
pinang dibelah dua
bagai bunga dan daunnya]

Alemu aleku
Pada muddani
Tori massidi tanranna sitoto
[Dirimu.. Diruku
saling merindu
Slalu menyatu tandax takdir/jodoh]


Sedang rancak lagu berkumandang, tiba-tiba
“Huuuaaaaarrrggghhhhhh!!!!” pengantin perempuan menjerit histeris. 

Apa tuh? Tiba-tiba kondisi menggawat. Seperti saja sinetron yang bermain ditelevisi. Beliau kemudian terus menangis sambil tubuhnya jatuh lunglai ditopang sang pengantin laki-laki dan ibu bapanya. Pengunjung mulai heboh dan berkerumun untuk melihat dengan lebih dekat. Mencoba untuk menghampiri, kerabat pengantin perempuan datang membawa air putih.

Mencoba lagi untuk lebih hampir. Siapa tahu ada yang bisa dibantu. Lewat ibu-ibu yang bilang

“Datangmi kembarnya. Makanya kesurupan. Makanya dibilang harus bikin mapacci atau pengajian sebagai sembahan ke kembarnya”

Bingung. Apa yang yang heboh diperkatakan tentang kembar. Setahuku Putri (pengantin perempuan) tidak punya kembar. Bertanya pada Winda. Baru Winda menceritakannya. Tentang itu. Reptile manusia. Sama persis seperti yang pernah kubaca di novel Lontara Rindu tulisan S. Gegge Mappangewa. Mungkin akan ku jelaskan di antri yang berikutnya..

Tapi dari kejadian ini, baru merasa bahawa benar-benar apa yang diceritakan sang penulis adalah hal yang mendarah daging dalam aliran pembuluh darah orang Bugis. Mengakar dalam keyakinan sesetengah dari mereka..

Malam mendatang. Acara resepsi akan diadakan di gedung. Semua orang sudah sibuk bersiap-siap sorenya. Malam tiba juga akhirnya. Dan keluarga Winda sudah siap-siap dalam seragam merah kuning, baju adat Bugis. Acara berlansung dengan lancar seperti biasanya. Kasian melihat kak Kalla, Titin dan nenek yang kewalahan mempersiapkan dan menambah lauk pauk ke tempat. Namun diri tidak bisa lama. Sebentar harus mengikuti tante Winda yang akan pulang ke Makassar. Maklum saja besok diri akan mulai lagi bekerja di klinik Health And Nutrition.

Khamis, 11 Oktober 2012

KEDOKTERAN KESELAMATAN KERJA (K3)

0



Minggu keda IKM. Kami menjalani satu bidang lagi dalam ilmu kedokteran. Keselamatan Kerja (K3). Untk bidang ini, kami dikirimkan ntk bertgas di rumah sakit Ibnu Sina dibawah bimbingan dr. Sultan Buraena, SpOK. Salah sat dari 3 spesialis Keselamatan Kerja di Indonesia Timur.

Menjalani seminggu dibagian ini. Kami dibahagi dalam beberapa kelompok kecil yang setiap kelompoknya terdiri dari 3 orang. Tiap kelompok diberi tugas ntuk menkaji dengan lebih teliti tentang satu bagian yang terkait dengan keselamatan kerja. Kelompokku ditugaskan untuk mengupas tentang efek sinar UV terhadap kesehatan.

Hari pertama kami dites terlebih dahulu tingkat pengetahuan awal dan apa yang harus kami ketahui di bagian ini. Hari keda kami dituntut membentangkan permasalahan, bidang kajian dan juga tinjauan pustaka tentang topic kami. Hari ketiga kami diberi waktu untuk memulai penelitian dilapangan.
Kelompokku memilih menjadikan tukang becak sebagai sasaran penelitian kami. Jadilah disiang hari yang mentarinya bersinar cemerlang, kami ke BTN Antara. Di situ kami melihat sendiri suasana kerjanya para tukang becak yang ada disitu. Sangat tidak bersahabat. Dengan panasnya dan terik mentari yang membahang. Tapi mereka tetap saja sabar.menanti dengan tidak pernah mengeluh.

Kami memutuskan untuk mewawancara salah satu tukang becak disitu. Pak Al. dari sejak kapan beliau bekerja disitu sebagai tukang becak hingga sedetail-detailnya tentang penyakit yang pernah dialami dan ujian yang paling berat yang pernah didepani. Jika Cuma rasa perih dan gatal pada kulit bukanlah apa-apa. Tidak pernah dihiraukan. Pak Al tidak lokek bercerita. Semua dinyatakan dengan jujur dan mata yang berkaca-kaca. Ya Allah ada orang yang hidup semenderita itu ketimbang kami yang engkau beri kecukupan namun masih bermalas-malas untuk bersyukur.

Persetujuan awal tadi yang ingin memberikan sumbangan Rp10 kepada tukang becak itu, ditambah lagi atas dasar kasihan dan simpati. Mungkin jumlah uang yang kami berikan tidak seberapa namun ia sangat dihargai oleh bapak tersebut. Mungkin itulah cara kita untuk mendidik hati dan melatih diri mempertingkat rasa bersyukur atas pemberian Allah yang tak pernah putus. Penelitian kami tuntas setelah beberapa orang tukang becak kami wawancarai.

1 hari diberikan untuk kami menyelesaikan mini skripsi tentang hasil yang kami dapatkan dari penelitian yang telah dilakukan. Besoknya kami dituntut untuk mempresentasikan hasil penelitian dan apa yang kami dapatkan dilapangan sesuai dengan teori yang kami pelajari.