Aku pernah bilang, hidup ini adalah pilihan. Dan adakalanya
kita akan membuat pilihan yang salah. Namun Tuhan tetap menyayangi kita. Lewat
pilihan yang salah itu, DIA tetap saja menjaga dan mendidik kita untuk lebih
dewasa.
Menyusuri suatu perjalanan yang sangat berharga dalam
episode kehidupan ini. Mungkin aku yang terlalu keras kepala. Atau tidak mahu
mendengarkan. Mungkin kerna kamu juga tahu, atau kamu juga sudah bingung harus
menasehati bagaimana lagi. Satu-satunya pilihan yang tinggal adalah untuk
memberikan ruang itu untukku..menjalani saja petualangan ini. Terima kasih. Terima
kasih juga telah memberikanku pengalaman dan “keluarga baru”.
Menapaki stasiun Tugu jam 4.30 pagi. Sangat mendebarkan. Tanah
ini tanah baru. Pertama kali kujejaki. Masih menunggu. Menunggu Dian yang
datang menjemput. Aku harus menghantar sms dulu. Aku sudah di Jogja. Maaf ya
dari tadi malam kamu menemaniku. Pertemuan pertama dengan dian, berkesan sangat
baik. Diri dihantar ke Asrama Putri Angging Mammiri. Asrama perempuan anak-anak
Makassar. Diri akan menginap disana selama berada di Jogja..
Asrama Putri Angging Mammiri adalah sebuah asrama provinsi
yang dibiayai oleh pemerintah Makassar sebagai tanda peduli pada anak negeri,
menjadi pusat kegiatan anak-anak Makassar yang merantau di Jogja untuk melanjut
studi. Asrama ini dihuni oleh 16 orang mahasiswa S1 yang kuliah di pelbagai
universitas di sekitar sini. Sementara anak-anak S2 kebanyakannya kost diluar
atau dirusun UGM seperti halnya Diba. Merasa tidak pantas. Aku bukan anak
Makassar. Bukan asli Makassar juga. Malah tidak ada hubungan sama sekali dengan
negeri itu. Namun itulah. Mereka yang bersahabat tetap saja menyambut
kedatangan diri dengan penuh welcoming. Sangat hangat. 2 hari bersama anak-anak
Makassar cukup mengajarkan banyak hal yang baru pada diri terutama dari segi
budaya dan cara hidup mereka. Banyak juga diceritakan prestasi-prestasi
anak-anak Makassar yang sering diraih. Turut berbangga. Benarlah kita akan
lebih menghargai negeri kita saat jauh darinya.
Melewati hari ini bersam Diba, Febi, Isma, benar-benar seru.
Sepertinya telah menngenal mereka dalam waktu yang lama. Diba sangat
bersahabat. Setiap ketemu teman-temannya, pasti dikenalkan juga ke aku. Jadinya
bisa beradaptasi dengan persekitarannya. Anak S2 Hubungan Internasional,
ternyata ilmu sejarah “Malaysia dan Dunia” yang pernah ku pelajari di bangku
sekolah menengah itu sangat berharga. Menjadi topic bahasan yang mantap siang
ini bersama Diba, Ranti dan yang lain. Sebenarnya tidak susah untuk beradaptasi
dengan orang lain, asal kita kuasai apa yang menjadi focus utama kehidupan
mereka. Menyusuri Jl. Malioboro dengan Diba. Ya ini akan menjadi permulaan yang
baik.
Besoknya semua sibuk dengan kuliah. Maklum saja diri bukan
datang pada hujung minggu. Untung ada Mbak Muskanah, mahasiswa S2 yang sudi
menemani. Kebetulan hari ini beliau tidak ada kuliah. Mba Muskanah orang Jawa
Tengah. Sudah menetap di sini sejak SMP. Lagi-lagi, untuk menjalin persahabatan
bukan suatu yang sukar. Tapi perhatian Mba amat luar biasa. Bayangkan orang
yang baru dikenali sehari, bisa seakrab itu untuk bercerita banyak hal. Dengan mbak,
diri dibawa ke Candi Prambanan. Taman Purbakala, Taman permandian putri,
Keraton udah tutup. Tapi bolehlah sudah dilihat dari luar. Merasai jajanan di jalanan seperti es dawet, gudeg, bakpia. Juga
diberi pengalaman untuk makan melantai “Nasi Kucing” yang murah meriah dengan
harga yang tidak mencecah 1 ribu rupiah. Melantai disamping jalan di warung
Kopi Joss kegemaran. Bersama Mba Erin dan suami. Sungguh sebuah pengalaman yang
luar biasa.
Malamnya masih sempat bergaul dengan anak-anak dari Ikatan
Mahasiswa Pangkep. Bingung juga sebenarnya kenapa harus ada sambutan dari
anak-anak Pangkep. Namun dihujungnya baru mengerti sebagai penghargaan kerna
temanku “orang Pangkep”.. ok..hihi.. Mereka mengadakan parti perpisahan buatku.
Padahal usia perkenalan ini Cuma dua hari. Namun ikatan ini sepertinya cukup
kuat. Selalu ada perpisahan dibalik pertemuan. Selalu ada nokhtah sesudah Huruf
Capital dipermulaan ayat. Sepertinya belum siap. Namun itulah roda kehidupan.
Difikir-fikir, padahal bisa saja sejak awal dulu menghubungi
pihak PKPMI Jogjakarta untuk menjemput. Namun kenapa tidak pernah berpikir ke
sana. Hujung-hujungnya inilah teman-temanku yang selalu menjagaku dan mencoba
yang terbaik untuk memudahkan jalanku. Asal kamu bahagia.. begitu katanya..
terima kasih semua atas kebaikan dan kekhawatiran kalian.































