

Bagian pertama untuk tingkat 2. Alasannya adalah untuk masuk bersama dengan teman KKN ku Amel ke bagian ini. Daripada sendiri menjadi lone ranger amat melelahkan. Akhirnya kami berlima bersama Rahma, Pute dan Catherine yang masuk bersama ke bagian ini.

Hari pertama amat kaku. Dengan mengikuti visite besar Orthopedic, bagai diberi sentrum listrik yang besar saat melihat pasien-pasien dibangsal yang telah dioperasi dengan kondisi kaki tercacak beam acralid (external fixation) yang digunakan untuk menahan tulang yang patah dengan pelbagai model. Ada yang besi tertanam ke dasar tulang belakang dan tulang tangan serta pelbagai lagi kengerian yang tak layak pandang. Pasti sakit sekali!! Gertak hati. Kebanyakan pasien di sini adalah korban kecelakaan lalu lintas mahupun mesin-mesin elektronik yang harusnya diciptakan untuk mempermudahkan kehidupan manusia namun sebaliknya yang terjadi saat takdir tidak berpihak.
Minggu pertama ini kami akan ditugaskan untuk menjadi observer di bangsal (ward) orthopedic. Selain kewajiban mengikuti aktivitas akedemis: diskusi singkat morning coffee setiap jam 7.00am, pembacaan journal dan case-report, co-ass minggu 1 juga

dibebani dengan tanggungjawab membaca semua status pasien dibangsal, membacakan bed-side teaching dalam bahasa Inggeris sewaktu visite besar supervisor, dan menulis status co-ass, kami juga diwajibkan mengikuti ujian setiap minggu. Di setiap waktu luang, kami diberikan diskusi tentang penyakit-penyakit yang wajib hukumnya untuk kami ketahui di Ortopedik oleh dokter-dokter residen. Kami dibimbing dari “head to toe” “A sampai Z” alias “Cara menghapal anatomi hingga mendiagnosis penyakit-penyakit congenital yang diatasi oleh orthopedic”.

Minggu ke-2. Tanggungjawab bertambah. Kami ditugaskan untuk stase di Poliklinik Orthopedic. Di sini kami dipertemukan dengan pasien-pasien yang dating untuk control penyakit-penyakit tulang yang telah lama mereka hadapi. Antaranya pasien scoliosis, kelainan pada rangka tubuh yang berupa kelengkungan tulang belakang. Sebanyak 75-85% kasus skoliosis merupakan idiofatik, yaitu kelainan yang tidak diketahui penyebabnya. Sedangkan 15-25% kasus skoliosis lainnya merupakan efek samping yang diakibatkan karena menderita kelainan tertentu, seperti distrofi otot, sindrom Marfan, sindrom Down, dan penyakit lainnya. Berbagai kelainan tersebut menyebabkan otot atau saraf di sekitar tulang belakang tidak berfungsi sempurna dan menyebabkan bentuk tulang belakang menjadi melengkung, selain itu ada juga pasien yang datang Osteomyelitis, penyakit infeksi yang bersarang dalam tulang bermula dari adanya port de entry atau dari hematogen hinggalah berpuaka di dalam tulang belulang yang menopang tubuh. Dan banyak lagi penyakit-penyakit yang memerlukan pasien untuk dating control. Sekalian kami diajarkan pemeriksaan fisik yang penting untuk kami ketahui seperti pemeriksaan neurologis yang mencakupi motorik, sensorik dan reflex, pemeriksaan Patrick counter Patrick, Tromen, Scuffner dan pemeriksaan yang asli Orthopedic seperti pemeriksaan varus valgus pada kaki, leg length discrepancy sebagainya lagi.

Minggu ke-3, kami ditugaskan pula di Unit Gawat Darurat (UGD) RSWS selama 1 minggu. Alias standby 7x24 jam. Pindah sementara di rumah sakit. Nah, inilah titik pembelajaran paling kritis dan inti kepada pembelajaran kami di Ortopedi. Di bawah bimbingan Dr.Rangga Arieza, dokter residen semester 3 asli Surabaya, kami dilatih untuk mempraktikkan ilmu ATLS yang telah dikuliyahkan dan didiskusikan dimeja-meja pertemuan. Kami benar-benar dihadapkan dengan pasien yang masuk dengan penurunan kesadaran, atau korban kecelakaan yang benar-benar butuh pertolongan pertama. AIRWAY…BREATHING…CIRCULATION.. DISABILITY.. EXPOSURE!! Setiap hari didoktrin dengan prinsip tersebut. Pertama, gagap!! Kedua, cemerkap!! Ketiga, bolehlah!! Keempat kelima dan seterusnya semakin cekap. Kami juga diajarkan skill untuk bisa hecting (suturing), skill untuk memasang back slab, skin traction, casting dan sebagainya. Ada juga kemahiran membaca foto cervical, foto tulang, foto pelvic dengan pelbagai posisi. Ternyata foto Rontgen bisa diminta bukan hanya posisi anterio-posterio, tapi juga posisi inlet outlet, Judet view, axillary view dan lain-lain.Perkerjaan yang bersifat tough guy macho! Meski melelahkan namun sangat dinikmati waktu-waktunya. Dengan dokter-dokter residen junior yang seru dan seperti teman sejawat yang saling membantu, dr.Rustam, dr. Indra, dr.Lutfi, dr.Hendra, dr.Arnold, dr.Syarif, dr.Denal, dr.Wanderlin, dr. Rico dan dr. Choco.
Pasien-pasien Orthopedic sangat banyak. Dan kebanyakannya korban kecelakaan lalu lintas. Semakin menginjak ke tengah malam, semakin berpusu-pusu orang dating seperti halnya pasar tengah malam. Kadang stress juga dibuatnya. Berperang menahan kantuk dan kepenatan tubuh untuk menyelamatkan nyawa orang lain yang butuh.

Biasa kami akan bersekang mata sampai jam 3 atau 4 untuk menyelesaikan semua pemeriksaan dan immobilisasi pasien dengan spalat atau slab. Bayangkan ditengah malam harus melipatkan gips sona sampai 16-18 lapisan untuk upper extremity fracture dan 23-24 lapisan untuk lower extremity,mencampurkannya ke dalam larutan dan meratakan ulang sebelum dibungkus menggunakan kapas halus dan elastic verban.
Belum lagi pasien yang masuk dengan luka terbuka daerah shaft of femur atau

humerus(tulang peha dan tulang lengan), lansung didept (ditekan dengan kasa untuk menghentikan perdarahan) sambil dilakukan primary survey (untuk tujuan live-saving). Kadang pasien yang datang dengan complication compartment syndrome (limb-threatening. Terjadi peningkatan tekanan intrakompartment berikutan perdarahan atau udem di ekstremitas), harus segera dipersiapkan untuk OK CITO!( emergency operation). Dan kami juga harus mengikuti operasi tersebut. Kadang sampai tertidur-tidur diruang OK CITO tersebut. Dokter-dokter residen juga seperti ini. Senasib.
Minggu ke-4. Stase OTC (central operation theater). Setiap hari kami harus mengikuti operasi yang dioperatorkan oleh supervisor sendiri. Banyak operasi setiap hari yang dilakukan. Baik dari debridement luka, operation spine correction, spinal tumor excretion, implant internal fixation bagi pasien yang patah tulang femur, tibia, humerus, dan radius ulna.

Disini kami diberi kesempatan untuk belajar sterilisasi yang sebenarnya, minor surgery yang harus kami ketahui juga. Sambil mengikuti operasi kami masih dibimbing tentang indikasi operasi, apa yang penting kami ketahui sebagai calon dokter umum nantinya. Nah disitu jelas terlihat apa pentingnya ilmu anatomi dan fisiologi yang sangat ditekankan dibagian ini bagi kesejahteraan dan menjaga quality of life si pasien.
Dari bagian ini, diri amat terkesan dengan keakraban dokter-dokter residennya baik dari residen senior hingga residen junior. Mereka sangat pemurah berbagi ilmu tidak pernah ditolak saat diminta diskusi bahkan merekalah biasanya yang terlebih dahulu menawarkan. Mereka menjunjung tinggi nilai keilmuan dan berbuat baik sesama demi sebuah nilai kemanusiaan dan kehidupan yang lebih baik. Sangat luar biasa. Dokter-dokter disini banyak mengubah pola fikir kami untuk menguasai ilmu untuk digunakan bagi menyelamatkan orang lain.
Teringat kata-kata salah seorang dokter senior, dr. Michael John, “tubuh kita telah di'design'kan Tuhan untuk berbakti dan bermanfaat bagi orang lain. Tangan kita dijadikan runcing untuk menahan lidah orang dari jatuh mengikut hokum gravitasi, mulut kita berfungsi sebagai sungkup untuk menyalurkan oksigen ke paru orang lain, paru kita berfungsi sebagai ambu bag yang memberikan ventilasi positif untuk meransang paru orang lain. Betapa hebatnya Tuhan.

Coba saja lihat anjing, mulut muncungnya tidak bisa dijadikan sungkup. Tangannya yang dangkal tidak akan mampu menolong yang lain.” Teringat juga kata-katanya dr. Adrian Khu, “kita harus berterima kasih kepada orang miskin. Kita bisa belajar kerana ada mereka. Mereka guru terbaik kita. Saat mereka datang kepada kita dalam keadaan menyerah dan pasrah, kita bisa pelajari banyak hal. Bisa belajar untuk mengubati. Makanya hargai mereka. They are human being, just like us”

Terima kasih buat dokter-dokter residen yang sabar mendidik. Dokter pembimbing, dr.Harianto Simbolon, dokter-dokter yang tak jenuh memberikan diskusi, dr.Micheal John, dr.Adrian Khu, dr.Henry, dr.Andi, dr.Rizal, dr.Irawan (meski sering dipanggil “monche”..huhu), dr.Helmi, dr.Rangga, dr.Eric (gebenur yang bersungguh-sungguh berusaha agar diri bisa ujian minggu depannya setelah pingsan sewaktu ujian), dr.Nanta yang sudi memberikan diskusi kasus malam sebelum ujian, dr. Yoga dan semua crew department Orthopedic & Traumatology..
0 ulasan:
Catat Ulasan